<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Willy Edi</title>
	<atom:link href="http://willyedi.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://willyedi.wordpress.com</link>
	<description>Pendidik, Pengomel, Penulis Cerpen dan Puisi, Penulis Sketsa</description>
	<lastBuildDate>Thu, 03 Dec 2009 02:19:56 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<cloud domain='willyedi.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://www.gravatar.com/blavatar/6f64e8ae9fbb34b2691957bf147c4bc1?s=96&#038;d=http://s.wordpress.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Willy Edi</title>
		<link>http://willyedi.wordpress.com</link>
	</image>
			<item>
		<title>Pagi, Hujan, Dingin</title>
		<link>http://willyedi.wordpress.com/2009/12/03/pagi-hujan-dingin/</link>
		<comments>http://willyedi.wordpress.com/2009/12/03/pagi-hujan-dingin/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 03 Dec 2009 02:19:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>willyedi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://willyedi.wordpress.com/?p=204</guid>
		<description><![CDATA[Pagi ini, semenjak subuh hujan turun. Waktu berangkat sekolah masih hujan. Udara dingin dan hujan menahanku untuk tetap di rumah. Untung pemerintah menggratiskan internet di sekoah tempat istriku bekerja. Sekolah yang jaraknya tidak sampai 50 meter dari rumah memacuku untuk datang. Kubawa HUB dan kabel-kabel LAN serta laptop. Kubangun jaringan untuk sharing internet dengan 2 [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=willyedi.wordpress.com&blog=621604&post=204&subd=willyedi&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Pagi ini, semenjak subuh hujan turun. Waktu berangkat sekolah masih hujan. Udara dingin dan hujan menahanku untuk tetap di rumah. Untung pemerintah menggratiskan internet di sekoah tempat istriku bekerja. Sekolah yang jaraknya tidak sampai 50 meter dari rumah memacuku untuk datang. Kubawa HUB dan kabel-kabel LAN serta laptop. Kubangun jaringan untuk sharing internet dengan 2 komputer yang ada di ruangan. Aku, istriku, dan kedua anakku asyik berinternet.<br />
Jalanan yang becek cukup menghambat perjalanan ditambah udara dingin.</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/willyedi.wordpress.com/204/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/willyedi.wordpress.com/204/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/willyedi.wordpress.com/204/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/willyedi.wordpress.com/204/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/willyedi.wordpress.com/204/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/willyedi.wordpress.com/204/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/willyedi.wordpress.com/204/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/willyedi.wordpress.com/204/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/willyedi.wordpress.com/204/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/willyedi.wordpress.com/204/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=willyedi.wordpress.com&blog=621604&post=204&subd=willyedi&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://willyedi.wordpress.com/2009/12/03/pagi-hujan-dingin/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/127dd01fb39cd32a3e6c7b17f654b354?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">willyedi</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Sertifikasi Guru, Bumerang bagi Pendidikan</title>
		<link>http://willyedi.wordpress.com/2009/11/17/sertifikasi-guru-bumerang-bagi-pendidikan/</link>
		<comments>http://willyedi.wordpress.com/2009/11/17/sertifikasi-guru-bumerang-bagi-pendidikan/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 17 Nov 2009 13:31:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>willyedi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://willyedi.wordpress.com/?p=202</guid>
		<description><![CDATA[Dengan berlakunya Undang-Undang Guru dan Dosen, maka harkat dan martabat guru menjadi meningkat. Minat pemuda untuk menjadi guru juga meningkat. Pandangan mata yang tadinya meremehkan pekerjaan sebagai guru, kini berubah menjadi pandangan iri dan penyesalan karena sebagian dari mereka telah menolak menjadi seorang guru.
Bagi guru sendiri, sertifikasi berarti tantangan untuk mengubah pola pikir dan sikap [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=willyedi.wordpress.com&blog=621604&post=202&subd=willyedi&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Dengan berlakunya Undang-Undang Guru dan Dosen, maka harkat dan martabat guru menjadi meningkat. Minat pemuda untuk menjadi guru juga meningkat. Pandangan mata yang tadinya meremehkan pekerjaan sebagai guru, kini berubah menjadi pandangan iri dan penyesalan karena sebagian dari mereka telah menolak menjadi seorang guru.<br />
Bagi guru sendiri, sertifikasi berarti tantangan untuk mengubah pola pikir dan sikap dalam menghadapi profesinya sebagai guru. Guru dituntut untuk lebih kreatif dan memiliki motivasi yang lebih dalam menjalankan profesinya. Tuntutan untuk mendapatkan penghasilan yang lebih baik dapat tercapai apabila seorang guru telah memiliki sertifikat pendidik. Begitulah yang ada dalam bayang pikiran kita.<br />
<span id="more-202"></span><br />
Pada kenyataannya, sertifikasi bagi guru yang mulanya bertujuan untuk meningkatkan kompetensi sekaligus kesejahteraan guru ternyata tidak sesuai dengan yang diharapkan. Guru yang lolos sertifikasi ternyata tidak menunjukkan peningkatan kompetensi yang signifikan.<br />
Prof. Dr. Baedhowi, M.Si. dalam sebuah kesempatan mengemukakan bahwa, “Dari kajian yang dilakukan ternyata motivasi para guru mengikuti sertifikasi umumnya terkait aspek finansial, yaitu segera mendapat tunjangan profesi”. “Tujuan utama sertifikasi untuk mewujudkan kompetensi guru tampaknya masih disikapi sebatas wacana,” tambahnya.<br />
Pada saat ini, dari 2,7 juta guru, baru sekitar 500.000 guru yang sudah lolos sertifikasi. Baru sekitar 18 persen saja. Tentu perlu waktu dan kerja keras untuk menjadikan semua guru tersertifikasi.<br />
Melihat kondisi semacam itu, tidak dapat kita menutup mata telah menimbulkan rasa iri pada guru-guru yang sudah memenuhi syarat untuk mengikuti sertifikasi, yang namun karena sesuatu hal menjadi belum bisa mengikuti sertifikasi dan belum mendapatkan tunjangan profesi. Dalam kondisi semacam ini, samar-samar mulai terdengar adanya guru yang “malas” mengajar, yang “tidak mau” mengajar, dan mulai mengambil sikap, “Biar saja mereka, guru yang sudah bersertifikat saja, yang mengajar. Kami, biarkan saja begini”.<br />
Hal semacam di atas bukan hanya sekedar dugaan, melainkan sudah benar-benar terjadi. Ini tentu akan menghancurkan dunia pendidikan itu sendiri, sebuah bumerang, menghancurkan diri sendiri dengan sikap yang ditimbulkan oleh rasa kecewa karena kebijakan yang aplikasinya tidak dilaksanakan secara serempak.<br />
Sikap guru yang seperti ini, mungkin akan berlangsung selama lima atau enam tahun. Tentu dapat pula kita bayangkan apa yang akan terjadi dengan kualitas pendidikan kita. Dunia pendidikan yang semestinya digerakkan oleh 2,7 juga guru, saat ini hanya digerakkan oleh 18 persennya saja. Sebuah kerja berat untuk meningkatkan kualitas pendidikan.<br />
Guru yang sudah mengambil posisi semacam ini, tentu tidak terlalu tampak pada sekolah-sekolah yang berada di bawah naungan dinas pendidikan. Dinas pendidikan telah mengurutkan kesertaan dalam sertifikasi guru dengan kriteria yang tidak menimbulkan perasaan diperlakukan tidak adil meskipun pada kenyataannya menimbulkan kecemburuan juga.<br />
Berbeda dengan guru-guru di bawah naungan Departemen Agama yang urutan prioritas kesertaan dalam sertifikasinya tidak mencerminkan rasa keadilan, di mana guru yang mendapatkan beban berat diutamakan dalam kesertaan dalam sertifikasi. Sementara itu guru senior di Departemen Agama, karena mengajar sesuai bidangnya dan dengan jam mengajar yang sedikit karena mendapatkan tugas tambahan sebagai wakil kepala sekolah atau yang lain, dianggap memiliki beban kerja yang ringan. Sehingga guru senior semacam ini banyak yang belum tersertakan dalam sertifikasi guru. Sementara itu banyak yunior mereka yang mengajar tidak sesuai latar belakang pendidikannya namun mendapatkan jam mengajar yang banyak dianggap memiliki beban kerja yang berat. Atau disebabkan juga adanya guru yang “dianggap”  kurang profesional namun sudah mendapatkan tunjangan profesi. Ini tentu bertolak belakang dengan tujuan sertifikasi  yang bertujuan untuk meningkatkan profesionalitas mereka. Bagaimana akan dikatakan profesional apabila seorang guru tidak mengajar sesuai dengan latar belakang keilmuannya.<br />
Guru yang belum bersertifikat profesi tentu tidak semudah itu menghilangkan kesan dinomorduakan. Apalagi jika guru yang belum tersertifikasi itu adalah guru yang sebenarnya benar-benar profesional, kreatif, mampu mengembangkan potensi diri sebagai guru. Sementara guru yang seperti ini, melihat di sekelilingnya, adalah guru-guru yang sudah bersertifikasi namun tidak menunjukkan kinerja yang semakin meningkat padahal sudah mendapatkan tunjangan yang cukup menggiurkan.<br />
Hal inilah yang dimaksud sebagai bumerang. Sertifikasi guru yang tujuan utamanya untuk mewujudkan kompetensi guru yang pada langkah berikutnya diharapkan dapat meningkatkan kualitas pendidikan, dalam jangka pendek – kalau lima tahun dapat dikatakan sebagai jangka pendek – malah menghancurkan kualitas pendidikan di negeri ini. Sebuah kegagalan yang sedang menghadang dunia pendidikan kita.<br />
Undang-undang sudah dijalankan meski pemerintah harus melaksanakannya dengan terseok-seok. Pemerintah semestinya menjembatani ketimpangan ini dengan meningkatkan pemberian tunjangan fungsional sehingga tidak terlalu berbeda jika dibandingkan dengan pendapatannya berupa tunjangan profesi. Jadi, sementara pemerintah belum menerapkan sertifikasi bagi semua guru, penghasilan guru diharapkan tidak terpaut sedemikian jauh. Dengan cara ini diharapkan motivasi dan etos mengajar guru tetap dapat dipertahankan.<br />
Tuntutan bagi guru yang sudah tersertifikasi semakin berat. Kenaikan pangkat pun dipersyaratkan harus menghasilkan karya tulis terlebih dahulu. Perlu pula disadari betapa jumlah guru yang tidak mampu menulis masih begitu banyak. Banyak guru yang gagap ketika menulis karya tulis. Profesionalitas guru yang awalnya dipersyaratkan menguasai TIK dalam pembelajaran pada saat ini masih dimaklumi. Pada saatnya, guru harus menguasai TIK. Guru dituntut untuk mengalokasikan tunjangan profesinya untuk meningkatkan kemampuannya, meningkatkan profesionalitasnya.<br />
Namun hal seperti di atas belum tampak. Seminar yang diadakan di berbagai tempat dengan sponsor organisasi profesi keguruan, misalnya, lebih banyak diikuti oleh guru-guru yang belum bersertifikat. Sementara yang sudah bersertifikat tidak terlihat usahanya untuk meningkatkan kemampuannya. Terlalu asyik dengan sejumlah uang yang diterimanya – karena itu memang yang dicari – sehingga para guru yang sudah bersertifikat melupakan kewajibannya.</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/willyedi.wordpress.com/202/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/willyedi.wordpress.com/202/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/willyedi.wordpress.com/202/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/willyedi.wordpress.com/202/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/willyedi.wordpress.com/202/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/willyedi.wordpress.com/202/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/willyedi.wordpress.com/202/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/willyedi.wordpress.com/202/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/willyedi.wordpress.com/202/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/willyedi.wordpress.com/202/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=willyedi.wordpress.com&blog=621604&post=202&subd=willyedi&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://willyedi.wordpress.com/2009/11/17/sertifikasi-guru-bumerang-bagi-pendidikan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/127dd01fb39cd32a3e6c7b17f654b354?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">willyedi</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Novel Aluh Suryani 1</title>
		<link>http://willyedi.wordpress.com/2009/11/17/novel-aluh-suryani-1/</link>
		<comments>http://willyedi.wordpress.com/2009/11/17/novel-aluh-suryani-1/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 17 Nov 2009 04:28:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>willyedi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Novel Aluh Suryani]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://willyedi.wordpress.com/?p=200</guid>
		<description><![CDATA[1.	Kelahiran
Mustafa menampakkan wajah yang tegang. Keringat becucuran dari sekujur tubuhnya. Wati, istrinya yang tergolek lemah kehabisan tenaga, hanya bisa memejamkan matanya sambil mengatur napasnya yang tersengal-sengal. Sementara itu seorang bidan yang membantu persalinan Wati, juga tidak kalah tegang. Keringat berleleran di sekujur tubuhnya.
“Pak Mustafa, jagalah istri  Bapak, biar saya memanggil dokter”, kata bidan yang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=willyedi.wordpress.com&blog=621604&post=200&subd=willyedi&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>1.	Kelahiran</p>
<p>Mustafa menampakkan wajah yang tegang. Keringat becucuran dari sekujur tubuhnya. Wati, istrinya yang tergolek lemah kehabisan tenaga, hanya bisa memejamkan matanya sambil mengatur napasnya yang tersengal-sengal. Sementara itu seorang bidan yang membantu persalinan Wati, juga tidak kalah tegang. Keringat berleleran di sekujur tubuhnya.<br />
“Pak Mustafa, jagalah istri  Bapak, biar saya memanggil dokter”, kata bidan yang sudah cukup berumur tapi masih begitu energik itu sambil bergegas membersihkan tangan di wastafel yang terdapat di sudut ruangan. Bidan itu segera saja berlalu sambil menutup pintu setengah dibanting.<br />
<span id="more-200"></span><br />
Mustafa diam saja. Wajahnya masih tegang. Keringatnya masih berleleran di sekujur tubuhnya. Udara penyejuk ruangan yang berhembus cukup keras seolah tak sanggup mendinginkan ruangan tempat mereka berada saat itu.<br />
Nafas Wati belum juga teratur sampai kemudian dikejutkan oleh derit pintu yang didorong perlahan. Muncul seorang dokter berwajah bulat dari balik pintu diikuti oleh bidan yang tadi juga diiringi oleh seorang perawat.<br />
Dokter itu segera memeriksa Wati dengan peralatan yang sudah tersedia di ruangan itu. Wajahnya yang tadi lembut berubah menjadi tegang. Setelah menarik nafas, sesaat kemudian dokter itu berpaling memandang ke arah Mustafa yang masih berdiri beku.<br />
“Pak Mustafa. Maafkan saya. Tabahkan hati Bapak. Anak Bapak tidak bisa diselamatkan. Anak Bapak sudah meninggal beberapa waktu yang lalu. Menurut perkiraan saya dua jam yang lalu sebelum Bapak membawa istri Bapak kemari. Permisi”.<br />
Dokter itu segera saja meninggalkan ruang bersalin. Sementara bidan dibantu perawat segera memberesi seluruh peralatan bersalin dan membesihkannya.<br />
Mustafa mematung. Sudah lima bayi terlahir dari kandungan Wati. Semuanya anak dari suaminya yang pertama. Semuaya selamat dan sudah besar-besar. Dan ini, anak dari benihnya sendiri, ternyata harus meninggal sebelum dilahirkan. Tak dapat ia menutupi kesedihannya. Ia sadar betul bahwa bayi yang gagal dilahirkan selamat ini bukanlah anak pertamanya. Dari istri sebelumnya sudah ada tiga anak yang dilahirkan. Mereka pun sudah besar-besar.<br />
Bagaimanapun, air mata meleleh di pipinya. Tak sanggup ia memandang wajah istrinya yang tertidur, ia berjalan ke luar. Di sana tampak olehnya ada kursi tunggu yang kosong. Mustafa meletakkan pantatnya di kursi kosong itu. Pandangannya kosong seperti kursi tadi sebelum didudukinya. Air mata sudah dihapus dari wajahnya, tapi bekasnya masih tampak.<br />
Seorang lelaki yang duduk di sampingnya mengawasi Mustafa sejenak. Ragu ia hendak berbicara dengan Mustafa. Kemudian diurungkannya perkataannya. Mustafa tidak menyadari kehadiran lelaki itu sampai kemudian ia memutar badannya dan tangannya menyentuh tangan lelaki di sampingnya. Segera ia menarik kembali tangannya.<br />
“Maaf”, sebuah kata terlontar dari mulut Mustafa. Lelaki itu tersenyum.<br />
“Nggak apa-apa”, jawab lelaki itu sambil tersenyum.<br />
Mereka bediam diri. Beberapa detik kemudian lelaki di samping Mustafa bergeser sedikit dan duduk menghadap ke arah Mustafa.<br />
“Maaf, Bapak kelihatannya sedih. Kalau boleh tahu, siapa yang sakit?”<br />
“Hhhh. Tidak ada yang sakit”.<br />
“Lalu, kenapa Bapak kelihatan sedih sekali? Maaf lho, kalau ini mencampuri urusan Bapak.”<br />
“Nggak apa-apa. Saya memang sedang sedih. Istri saya melahirkan”.<br />
“Lha, bukankah kelahiran biasanya disambut dengan kegembiraan?”<br />
“Mestinya begitu. Tapi kelahiran yang sangat kuharapkan kali ini, tidak datang sesuai harapan. Anak saya  meninggal sebelum lahir”.<br />
“Oh”.<br />
“Tapi, kalau boleh tahu, Bapak sendiri, sedang menunggu siapa di sini?”<br />
“Sama dengan Bapak. Istri saya melahirkan”.<br />
“Selamatkah anak dan istri Bapak?”<br />
“Ya, begitulah. Tapi setelah ini saya bingung”.<br />
“Kenapa bingung? Bukankah semestinya sebuah kelahiran disambut dengan suka cita? Bukankah itu yang baru Bapak katakan?”<br />
“Memang benar seperti kata Bapak. Tapi, saya hanyalah seorang buruh. Anak saya banyak, ada tujuh orang berhimpit di gubuk kecil saya. Padahal istri saya harus membantu mencari nafkah untuk anak-anak yang terdahulu”.<br />
Kedua lelaki itu saling berdiam dengan isi pikiran yang bertolak belakang. Masing-masing mempunyai harapan yang berkait, namun, tak satu pun kata terlontar dari mulut mereka, sampai kemudian Mustafa membuka perkataan lagi.<br />
“Bagaimana kalau anakmu kauberikan kepadaku. Biar semua biaya kelahirannya menjadi tanggunganku. Tapi, maaf lho kalau ini menyinggung Bapak.”<br />
“Betulkah? Betulkah Bapak mau mengambil anak saya? Saya memang mencari orang yang mau mengangkat anak saya. Saya tidak berharap uang. Saya hanya takut tidak bisa membiayai kehidupannya. Terima kasih Bapak”.<br />
“Baiklah, saya akan memberitahu istri saya”.<br />
“Saya juga. Saya di kamar nomor 207”.<br />
Kedua lelaki itu berpisah dengan perasaan gembira.<br />
***</p>
<p>Wati tentu saja merasa gembira. Biarpun anak itu bukan dilahirkan dari perutnya, Wati sudah berpengalaman berkali-kali melahirkan. Mustafa pun tampak gembira dengan kelahiran bayi ini walaupun bukan anak kandungnya.<br />
Wati merasa senang  karena ada seorang bayi sehat di sampingnya, bayi perempuan berkulit bersih itu dengan lahap mengisap susu dari badannya.<br />
Ayah dan ibu kandung bayi yang ada di samping Wati berkunjung ke ruang di mana Wati berbaring bersama anaknya siang itu. Kedua lelaki itu saling tersenyum kemudian mereka saling berpelukan.<br />
“Bagaimanapun, kita bersaudara. Kutitipkan anakku untuk kaudidik sebaik mungkin”.<br />
Mustafa tersenyum. “Walaupun anakku banyak, aku sangat menyayangi mereka. Begitu juga kepada anak ini. Aku berjanji akan mendidiknya dengan baik.”<br />
Kembali mereka berpelukan erat. Mustafa melepas kepergian lelaki itu bersama istrinya. Tatapannya gembira. Senyum menabar ke seluruh ruang yang ada di rumah sakit itu. Tak terasa, air mata menggenang di kelopak matanya.<br />
Mustafa menghampiri istrinya sambil tersenyum. Wati pun tersenyum. Mustafa membungkukan badannya mencium pipi lembut bayi yang sedang menghisap susu istrinya.<br />
“Jangan terlalu kuat, nanti dia menangis,” kata istrinya manja.<br />
Bayi itu semakin kuat menghisap susu ibunya yang berlimpah. Tak terganggu sedikit pun oleh ciuman Mustafa.</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/willyedi.wordpress.com/200/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/willyedi.wordpress.com/200/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/willyedi.wordpress.com/200/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/willyedi.wordpress.com/200/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/willyedi.wordpress.com/200/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/willyedi.wordpress.com/200/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/willyedi.wordpress.com/200/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/willyedi.wordpress.com/200/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/willyedi.wordpress.com/200/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/willyedi.wordpress.com/200/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=willyedi.wordpress.com&blog=621604&post=200&subd=willyedi&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://willyedi.wordpress.com/2009/11/17/novel-aluh-suryani-1/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/127dd01fb39cd32a3e6c7b17f654b354?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">willyedi</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Case Study Memberi Petunjuk, Bagaimana Mengajarkannya?</title>
		<link>http://willyedi.wordpress.com/2009/11/17/case-study-memberi-petunjuk-bagaimana-mengajarkannya/</link>
		<comments>http://willyedi.wordpress.com/2009/11/17/case-study-memberi-petunjuk-bagaimana-mengajarkannya/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 17 Nov 2009 04:17:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>willyedi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Omelan]]></category>
		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://willyedi.wordpress.com/?p=198</guid>
		<description><![CDATA[Hari itu, di kelas VIII harus kumasuki. Dalam pembelajaran kali ini, saya harus menyampaikan materi menyusun petunjuk cara melakukan atau membuat sesuatu. Kompetensi yang wajib dikuasai siswa adalah “menulis petunjuk melakukan sesuatu dengan urutan yang tepat dan menggunakan bahasa yang efektif”. Untuk itu saya sudah menyiapkan rencana pembelajaran sebaik mungkin. Bahkan presentasi mengajar berupa powerpoint [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=willyedi.wordpress.com&blog=621604&post=198&subd=willyedi&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Hari itu, di kelas VIII harus kumasuki. Dalam pembelajaran kali ini, saya harus menyampaikan materi menyusun petunjuk cara melakukan atau membuat sesuatu. Kompetensi yang wajib dikuasai siswa adalah “menulis petunjuk melakukan sesuatu dengan urutan yang tepat dan menggunakan bahasa yang efektif”. Untuk itu saya sudah menyiapkan rencana pembelajaran sebaik mungkin. Bahkan presentasi mengajar berupa powerpoint sudah kupersiapkan.<br />
<span id="more-198"></span><br />
Ketika bel berbunyi pertanda saya harus memasuki kelas VIII, semua peralatan presentas berupa proyektor, screen, dan kabel-kabel sudah kupersiapkan. Dengan langkah mantap, saya berjalan menuju kelas dengan menjinjing istri keduaku, laptop yang sangat setia mengiringi diri ini.<br />
Seperti biasa, kelas begitu hiruk pikuk ketika saya masih berada di luar kelas. Sebagian siswa berlarian menuju tempat duduknya masing-masing ketika melihat kedatangana saya. Saya hanya tersenyum melihat tingkah laku mereka. “Ah, mereka anak-anak. Tingkah lakunya sama denganku ketika masih seusia mereka”, pikiran ini melayang ke sekian puluh tahun yang lalu.<br />
Ketika saya memasuki kelas, seluruh siswa sudah duduk di kursinya masing-masing. Mereka mengobrol seperti biasa. Obrolan itu segera terhenti ketika saya mengucapkan salam. Saya meminta beberapa siswa mengambil peralatan yang harus dipesiapkan. Cukup waktu lama untuk persiapan ini karena di sekolah tempat saya mengajar tidak ada ruang multimedia.<br />
Setelah peralatan siap dioperasikan, maka saya pun mulai membuka pelajaran dengan menyampaikan tujuan pembelajaran. Dilanjutkan dengan tanya jawab mengenai materi yang dipelajari. Slide demi slide presentasi silih berganti seiring dengan penjelasan yang saya berikan kepada siswa diselingi dengan tanya jawab. Materi yang dijadikan contoh adalah petunjuk membuat sirop seperti yang ada di salah satu Buku Sekolah Elektronik mata pelajaran Bahasa Indonesia.<br />
Dalam buku itu dijalaskan langkah-langkahnya. Ada empat langkah yang harus dilakukan dalam membuat bahasa petunjuk, yaitu: 1. menggunakan kalimat perintah halus, 2. menggunakan kata dengan makna lugas, 3. tidak menimbulkan keraguan, dan 4. mengunakan kalimat yang singkat, padat, namun jelas.<br />
Selama saya mengajar disertai dengan tanya jawab tampaknya seluruh siswa antusias mendengarkan. Dalam tanya jawab pun dapat berjalan dengan baik. Saat diberikan kesempatan bertanya, seperti biasanya, dan ini cukup menjengkelkan hati, tak seorang pun yang mengajukan pertanyaan.<br />
Selanjutnya, saya memberikan tugas kepada siswa untuk membuat bahasa petunjuk cara melakukan sesuatu atau cara membuat sesuatu. Saya membedakan kedua hal ini berkaitan dengan hasil akhirnya. Melakukan sesuatu hasilnya adalah perubahan, sedangkan membuat sesuatu berarti mengubah benda menjadi benda berbentuk lain.<br />
Pada saat seperti ini terjadi keanehan pada raut muka anak-anak muda itu. Pandangan yang tadinya diwarnai dengan semangat, tiba-tiba menjadi keruh. Tapi tugas sudah diberikan dan tak ada yang bertanya. Dua puluh menit berjalan mereka bekerja membuat bahasa petunjuk. Saat waktu kerja selesai, dilanjutkan dengan kegiatan presentasi para siswa. Tawaran untuk tampil tanpa ditunjuk tentu saja seperti biasanya, dihindari oleh para siswa.<br />
Seorang siswa maju setelah disebutkan namanya. Duh, wajah anak muda ini begitu polos. Anak muda ini dengan tergesa-gesa membacakan bahasa petunjuknya. Suaranya lirih, dan sepenuhnya membaca. Anak muda kedua begitu juga. Anak muda ketiga begitu juga. Kuhentikan segera kegiatan presentasi yang membosankan ini. Saya mengubah strategi. Mereka saya bagi menjadi beberapa kelompok dengan jumlah anggota tiga sampai empat orang. Tugas mereka kali ini tetap sama, hanya saja mereka terlebih dahulu harus mendiskusikan pekerjaan kelompok berdasarkan pekerjaan anggota kelompok yang menurut mereka sederhana tapi menarik dan tetap mudah untuk dijelaskan petunjuknya.<br />
Selanjutnya saya menekankan agar dalam menyampaikan bahasa petunjuknya disertai dengan pengantar terlebih dahulu dan diakhiri dengan penutup. Saya menjadikan diri sendiri menjadi model dalam pembelajaran kali ini. Langkah demi langkah saya contohkan disertai dengan tanya jawab. Sayang sekali waktu pelajaran pada pertemuankali itu habis. Bel berbunyi dan presentasi mereka belum selesai.</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/willyedi.wordpress.com/198/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/willyedi.wordpress.com/198/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/willyedi.wordpress.com/198/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/willyedi.wordpress.com/198/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/willyedi.wordpress.com/198/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/willyedi.wordpress.com/198/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/willyedi.wordpress.com/198/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/willyedi.wordpress.com/198/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/willyedi.wordpress.com/198/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/willyedi.wordpress.com/198/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=willyedi.wordpress.com&blog=621604&post=198&subd=willyedi&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://willyedi.wordpress.com/2009/11/17/case-study-memberi-petunjuk-bagaimana-mengajarkannya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/127dd01fb39cd32a3e6c7b17f654b354?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">willyedi</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Diklat Penggunaan Modul MGMP Mandiri</title>
		<link>http://willyedi.wordpress.com/2009/10/10/diklat-penggunaan-modul-mgmp-mandiri/</link>
		<comments>http://willyedi.wordpress.com/2009/10/10/diklat-penggunaan-modul-mgmp-mandiri/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 10 Oct 2009 11:37:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>willyedi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://willyedi.wordpress.com/?p=196</guid>
		<description><![CDATA[Tanggal 5 sampai 11 Oktober aku megikuti diklat di Bogor. Kota dingin yag kurasa sekarang sudah panas &#8211; apa karena tigkat curah hujan yang sangat kurang. Materi yang kuikuti semuanya berjalan dengan baik. Tujuannya agar nanti setelah kembali ke daerah masing-masing bisa memanfaatkan suplemen modul MGMP BERMUTU yang mesti dilaksanakan 16 kali pertemuan. Tidak semua [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=willyedi.wordpress.com&blog=621604&post=196&subd=willyedi&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Tanggal 5 sampai 11 Oktober aku megikuti diklat di Bogor. Kota dingin yag kurasa sekarang sudah panas &#8211; apa karena tigkat curah hujan yang sangat kurang. Materi yang kuikuti semuanya berjalan dengan baik. Tujuannya agar nanti setelah kembali ke daerah masing-masing bisa memanfaatkan suplemen modul MGMP BERMUTU yang mesti dilaksanakan 16 kali pertemuan. Tidak semua kabupaten dan provinsi terlibat dalam kegiatan ini. Hanya dari enam belas provinsi.<br />
Kegiatan yang banyak dilakukan adalah mengkritisi suplemen modul yang masin terdapat cukup banyak kekurangan, dengan tujuan agar nanti sekembalinya ke daerah masing-masing dapat memperbaiki modul-modul tersebut untuk digunakan dalam in house training selama tiga hari.<br />
Selanjutnya, karena masih dalam satu rangkaian, aku harus melanjutkan diklat &#8211; masih di kota Bogor &#8211; hanya beda tempat pelaksanaanya saja. Waktunya 11 &#8211; 16 Oktober 2009. Diklat yang akan datang adalah diklat untuk PCT, yaitu Provincial Core Teacher. Sama saja, untuk menjadi pemandu atau tutor dalam kegiatan MGMP BERMUTU.Kegiatan yang akan datang, pesertanya berasal dari lima provinsi saja, sayang aku tak hapal dengan adal mereka. Yang jelas dari Kalteng, Kotawaringin Barat mengirimkan utusan sembilan orang disampaing tiga orang yang saat ini bertahan di Bogor. Jadi semuanya 12 orang &#8211; kalau datang semua tentunya.</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/willyedi.wordpress.com/196/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/willyedi.wordpress.com/196/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/willyedi.wordpress.com/196/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/willyedi.wordpress.com/196/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/willyedi.wordpress.com/196/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/willyedi.wordpress.com/196/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/willyedi.wordpress.com/196/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/willyedi.wordpress.com/196/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/willyedi.wordpress.com/196/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/willyedi.wordpress.com/196/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=willyedi.wordpress.com&blog=621604&post=196&subd=willyedi&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://willyedi.wordpress.com/2009/10/10/diklat-penggunaan-modul-mgmp-mandiri/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>9</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/127dd01fb39cd32a3e6c7b17f654b354?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">willyedi</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Mengubah Paradigma Sekolah Favorit</title>
		<link>http://willyedi.wordpress.com/2009/09/30/mengubah-paradigma-sekolah-favorit/</link>
		<comments>http://willyedi.wordpress.com/2009/09/30/mengubah-paradigma-sekolah-favorit/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 30 Sep 2009 01:49:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>willyedi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[paradigma sekolah]]></category>
		<category><![CDATA[pavorit]]></category>
		<category><![CDATA[sekolah favorit]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://willyedi.wordpress.com/?p=193</guid>
		<description><![CDATA[Sekilas penulis mengamati keberadaan sebuah sekolah favorit tingkat SMP di sebuah kota. Sekolah tersebut menjadi harapan keberhasilan pendidikan anak-anak sekolah dasar di sekitarnya. Sekitar 70 persen anak sekolah dasar di kota itu menginginkan dapat duduk di sekolah itu setelah tamat SD.
Ternyata sebagian besar dri mereka, para calon siswa yang mendambakan bisa memasuki sekolah tersebut adalah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=willyedi.wordpress.com&blog=621604&post=193&subd=willyedi&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Sekilas penulis mengamati keberadaan sebuah sekolah favorit tingkat SMP di sebuah kota. Sekolah tersebut menjadi harapan keberhasilan pendidikan anak-anak sekolah dasar di sekitarnya. Sekitar 70 persen anak sekolah dasar di kota itu menginginkan dapat duduk di sekolah itu setelah tamat SD.<span id="more-193"></span><br />
Ternyata sebagian besar dri mereka, para calon siswa yang mendambakan bisa memasuki sekolah tersebut adalah karena sekolah itu selalu tampil dalam kegiatan-kegiatan di kotanya. Ada kelompok ekstrakurikuler yang selalu ditampilkan oleh sekolah itu yang dikenal oleh masyarakat. Hal itu sajalah yang menjadi alasan mereka.<br />
Dalam sebuah kesempatan, penulis berhasil menghubungi siswa-siswa yang duduk di kelas terakhir di sekolah tersebut. Cerita mereka mengenai kegiatan belajar di sekolah tersebut ternyata sangat mengejutkan. Dikatakan oleh mereka bahwa setengahnya mereka kecewa karena di sekolah itu ternata tidak seperti yang ada dalam pikiran mereka dulu yang dibacanya dari brosur yang mereka baca. Di sekolah itu tidak ada laboratorium, internet yang sangat terbatas tidak seperti dalam promosinya, kegiatan ekstrakurikuler tidak sebanyak yang dipromosikan, koleksi perpustakaan tidak memadai, dan yang paling parah, sebagian guru-gurunya tidak layak mengajar dan sebagian kecil guru yang lain terlalu sering menghindari kelas alias tidak mengajar.<br />
Sekolah favorit dilahirkan bukan oleh kinerja sekolah itu, melainkan disebabkan oleh imaji masyarakat tentang sekolah itu. Kalau kita membaca novel Laskar Pelangi karya Andrea Hirata, tentu bisa mengambil contoh sekolah perusahaan yang selalu dielu-elukan oleh masyarakat dalam setiap acara karena penampilan kelompok drumband yang selalu mempesona mereka dengan suara yang menggelegar dan pakaian seragam pemainnya yang menyolok. Sekolah seperti itulah yang mampu menjual imaji sebagai sekolah favorit. Apalagi sekolah itu dibiayai oleh perusahaan besar sehingga segala sarana-prasarana dan gurunya disiapkan oleh perusahaan.<br />
Lahirnya sekolah favorit yang lain adalah statistika kelulusan dan statistika alumni yang berhasil melanjutkan ke sekolah yang lebih tinggi. Hal ini merupakan parameter yang tidak tepat. Masalah tingkat kelulusan pada saat ini lebih disebabkan oleh keberuntungan memilih jawaban dalam ujian nasional. Tidak ada standar lain selain nilai ujian nasional yang menjadi penentu kelulusan. Walaupun dalam teori dapat saja sekolah menyatakan seorang siswa tidak lulus meskipun hasil ujian nasionalnya bagus, pada kenyataannya hal itu jarang terjadi. Yang membukit adalah usaha meluluskan siswanya sebanyak-banyaknya tanpa memperhatikan proses belajar. Yang terjadi adalah berbagai kecurangan pelaksanaan ujian nasional seperti yang diberitakan di berbagai media massa pada setiap akhir tahun ajaran.<br />
Barangkali parameternya yang salah, seharusnya sekolah bagus dan favorit adalah sekolah yang bisa menghasilkan anak-anak yang sehat jasmani dan rohani, kreatif dan inovatif, anak-anak yang bahagia, anak-anak yang selalu cerah ceria, yang membuat lingkungan di mana dia berada ikut cerah ceria juga. Namun kalau kita lihat anak-anak sekolah saat ini justru lebih banyak diliputi rasa takut tidak lulus pada saat-saat akhir menjelang ujian nasional. Bahkan tidak sedikit guru atau kepala sekolah yang bahkan menakut-nakuti mereka dengan vonis tidak lulus kalau tidak belajar.<br />
Pada tahun terakhir sekolah, para siswa selain dibebani dengan ketakutan tidak lulus, juga mulai dikurangi rasa gembiranya dengan pembatasan atau bahkan larangan mengikuti kegiatan-kegiatan ekstrakurikuler atau saran supaya mengikuti kegiatan di luar sekolah. Guru dan sekolah bahkan sudah membuat program kegiatan belajar tambahan di luar jam belajar reguler untuk mengejar ketertinggalan materi pelajaran. Kapan waktu mereka untuk bergembira dan berkreativitas jika pagi mereka harus belajar di kelas yang membosankan, kemudian dilanjutkan dengan tambahan pelajaran di sore hari yang lebih membosankan. Repotnya lagi pelajaran tambahan itu diberikan juga untuk mata pelajaran yang diajarkan oleh guru yang kreatif sehingga kelas malah menjadi kelas yang membosankan.<br />
Sekolah yang memiliki statistik lulusan yang melanjutkan ke sekolah yang lebih tinggi atau yang berhasil melanjutkan ke perguruan tinggi dengan prosentasi tinggi, tidak menjadi jaminan bahwa sekolah itu bagus. Memanglah bahwa sekolah yang dikatakan favorit biasanya diikuti dengan tingkat persaingan masuk yang ketat dan juga seringkali disusupi oleh berbagai kepentingan sekelompok orang kaya dan orang yang memiliki jabatan untuk menyekolahkan anaknya di sekolah tersebut. Orang kaya dan pejabat berpendidikan tinggi tentu berani membayar mahal untuk pendidikan anak-anaknya. Yang penting anaknya bisa masuk di sekolah favorit.<br />
Karena sekolah seperti  itu banyak dihuni oleh anak-anak pejabat dan orang kaya, maka pihak pemerintah pun tidak akan segan-segan menggelontorkan berbagai proyek dan sejumlah dana untuk sekolah itu. Tentu saja sistem pendidikan di rumah/bimbingan orang tua terhadap anak-anaknya akan sangat berbeda pada keluarga mampu dan yang tidak mampu. Akan berbeda pula cara mendidik pada orang tua yang berpendidikan tinggi dengan yang berpendidikan rendah. Hal terakhir inilah yang sebenarnya lebih banyak menentukan tingkat kelulusan siswa dalam ujian nasional.<br />
Cerita sekolah pinggiran seperti SD Muhammadiyah di Belitong dalam novel Laskar Pelangi sangat mungkin terjadi. Namun akan lebih banyak berdiri sekolah pinggiran yang bagus apabila pemerintah tidak membeda-bedakan perlakuan terhadap sekolah-sekolah pinggiran tersebut. Kita bisa menyaksikan perbedaan yang signifikan ketika menyaksikan sekolah pinggiran yang buruk, guru yang kurang, sarana-prasarana yang minim, dan berbagai keterbatasan lain dibandingkan dengan sekolah di kota yang menjadi sekolah favorit yang dilengkapi dengan berbagai sarana-prasarana yang berlebih, dan juga guru yang cukup.<br />
Sekali lagi, seharusnya sekolah bagus dan favorit adalah sekolah yang bisa menghasilkan anak-anak yang sehat jasmani dan rohani, kreatif dan inovatif, anak-anak yang bahagia, anak-anak yang selalu cerah ceria, yang membuat lingkungan di mana dia berada ikut cerah ceria juga. Dan yang paling penting lagi, adalah sekolah yang mampu menciptakan lulusan yang mandiri, yang tidak menjadi beban negara ketika lulus dan harus mencari pekerjaan.</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/willyedi.wordpress.com/193/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/willyedi.wordpress.com/193/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/willyedi.wordpress.com/193/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/willyedi.wordpress.com/193/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/willyedi.wordpress.com/193/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/willyedi.wordpress.com/193/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/willyedi.wordpress.com/193/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/willyedi.wordpress.com/193/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/willyedi.wordpress.com/193/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/willyedi.wordpress.com/193/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=willyedi.wordpress.com&blog=621604&post=193&subd=willyedi&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://willyedi.wordpress.com/2009/09/30/mengubah-paradigma-sekolah-favorit/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/127dd01fb39cd32a3e6c7b17f654b354?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">willyedi</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Koruptor, Mafia Kayu, dan Teroris</title>
		<link>http://willyedi.wordpress.com/2009/09/18/koruptor-mafia-kayu-dan-teroris/</link>
		<comments>http://willyedi.wordpress.com/2009/09/18/koruptor-mafia-kayu-dan-teroris/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 18 Sep 2009 14:22:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>willyedi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[illegal logging]]></category>
		<category><![CDATA[koruptor]]></category>
		<category><![CDATA[teroris]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://willyedi.wordpress.com/2009/09/18/koruptor-mafia-kayu-dan-teroris/</guid>
		<description><![CDATA[Mana yang paling menakutkan bagi kita? Sebagian tentu akan menjawab teroris. Berbeda ketika pertanyaan yang diajukan adalah, mana yang lebih merugikan di atnara ketiganya? Kita tidak dapat langsung menjawabnya. Ada banyak hal yang harus dijadikan pertimbangan. Salah satunya adalah kita menjadi korbannya atau tidak. Di samping itu, korban tak lengsung seringkali tidak menyadari penyebab derita [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=willyedi.wordpress.com&blog=621604&post=192&subd=willyedi&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Mana yang paling menakutkan bagi kita? Sebagian tentu akan menjawab teroris. Berbeda ketika pertanyaan yang diajukan adalah, mana yang lebih merugikan di atnara ketiganya? Kita tidak dapat langsung menjawabnya. Ada banyak hal yang harus dijadikan pertimbangan. Salah satunya adalah kita menjadi korbannya atau tidak. Di samping itu, korban tak lengsung seringkali tidak menyadari penyebab derita yang dialaminya.<br />
Lihat saja ketika terjadi pemburuan dan penangkapan teroris, pandangan kita tertuju pada berita-berita itu. Apalagi ketika teroris merasa berada di atas angin dan berhasil meneror negeri ini dengan ledakan-ledakan bom di berbagai tempat. Keadaan semacam itu menyebabkan kita tidak pernah merasa tenang.<br />
Mafia kayu, atau pelaku illegal logging, sekilas tidak merugikan kita. Tapi begitu menyedihkan ketika kita menyaksikan berita korban banjir di Sumatra yang diakibatkan oleh gundulnya hutan di hulu sungai. Masyarakat yang “tidak tahu apa-apa” menjadi korban. Kesan yang muncul adalah mereka menjadi korban bencana alam yang alami. Pada kenyataannya, bencana alam itu disebabkan oleh ulah manusia. Tidak sadar juga? Katakan saja “Saya &#8230;.. tidak lebih pintar dari anak kelas lima SD”. Ingat kuis Are  You Smarter than a 5th grader. Ngaak perlu malu kok mengakui kesalahan dan kebodohan kita. Lalu kita bertobat dan tidak mengulangi kesalahan yang sama.<br />
Koruptor, barangkali kejahatan yang paling tidak kentara. Di hadapan masyarakat banyak pelakunya sering memakai topeng dermawan. Senyum koruptor sangat sering muncul di televisi sehingga kita tidak menyadari bahwa yang tersenyum adalah topengnya. Andai kita dapat membelah hatinya, tentu kanker korupsi sudah sangat akut menyerangnya.<br />
Mana yang paling jahat, koruptor, pembalak kayu hutan, atau teroris?<br />
Semuanya jahat? Ada yang tersesat, namun ada yang pura-pura tidak tahu. Sok suci, sok dermawan, sok jadi pahlawan.</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/willyedi.wordpress.com/192/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/willyedi.wordpress.com/192/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/willyedi.wordpress.com/192/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/willyedi.wordpress.com/192/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/willyedi.wordpress.com/192/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/willyedi.wordpress.com/192/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/willyedi.wordpress.com/192/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/willyedi.wordpress.com/192/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/willyedi.wordpress.com/192/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/willyedi.wordpress.com/192/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=willyedi.wordpress.com&blog=621604&post=192&subd=willyedi&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://willyedi.wordpress.com/2009/09/18/koruptor-mafia-kayu-dan-teroris/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/127dd01fb39cd32a3e6c7b17f654b354?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">willyedi</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Menulis, Dapatkah Dipaksakan</title>
		<link>http://willyedi.wordpress.com/2009/09/12/menulis-dapatkah-dipaksakan/</link>
		<comments>http://willyedi.wordpress.com/2009/09/12/menulis-dapatkah-dipaksakan/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 12 Sep 2009 02:01:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>willyedi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[begadang]]></category>
		<category><![CDATA[gagasan]]></category>
		<category><![CDATA[ide]]></category>
		<category><![CDATA[menulis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://willyedi.wordpress.com/2009/09/12/menulis-dapatkah-dipaksakan/</guid>
		<description><![CDATA[Beberapa bulan terakhir ini, sungguh merupakan waktu yang paling menyebalkan. Bagaimana tidak menyebalkan, aku sama sekali tidak memiliki gagasan untuk menulis tentang pendidikan. Padahal berbagai cara sudah kulakukan. Di antara cara itu adalah membaca sampai aku muntah dengan apa yang kubaca. Browsing di internet sampai tersesat ke situs-situs biru. Diskusi, tak kurang-kurangnya kulakukan. Dan yang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=willyedi.wordpress.com&blog=621604&post=191&subd=willyedi&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Beberapa bulan terakhir ini, sungguh merupakan waktu yang paling menyebalkan. Bagaimana tidak menyebalkan, aku sama sekali tidak memiliki gagasan untuk menulis tentang pendidikan. Padahal berbagai cara sudah kulakukan. Di antara cara itu adalah membaca sampai aku muntah dengan apa yang kubaca. Browsing di internet sampai tersesat ke situs-situs biru. Diskusi, tak kurang-kurangnya kulakukan. Dan yang memerlukan biaya, berlanggganan surat kabar pun tidak memunculkan gagasan sama sekali.<br />
Internet yang tadinya banyak memberikan gagasan, sekarang serasa sesuatu yang membosankan. Facebook yang cukup menyita waktu bisa jadi penyebabnya, tapi toh aku sudah berusaha menjauhkan diri dari FB yang kuanggap mainan anak-anak saja.<br />
Malam ini, sudah pukul 01.43 dini hari, toh aku tidak tidur dan tidak ada satu pun gagasan yang berhasil aku tumpahkan di lembaran-lembaran digital dan tinta digital di komputerku ini.<br />
Sekedar keluh kesah. Harus memaksakan diri untuk menulis, ternyata tidak semudah yang dikatakan. Tubuh letih karena begadang malam ini pun tidak menghasilkan apa-apa selain keletihan di sekujur tulang-tulangku.</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/willyedi.wordpress.com/191/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/willyedi.wordpress.com/191/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/willyedi.wordpress.com/191/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/willyedi.wordpress.com/191/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/willyedi.wordpress.com/191/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/willyedi.wordpress.com/191/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/willyedi.wordpress.com/191/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/willyedi.wordpress.com/191/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/willyedi.wordpress.com/191/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/willyedi.wordpress.com/191/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=willyedi.wordpress.com&blog=621604&post=191&subd=willyedi&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://willyedi.wordpress.com/2009/09/12/menulis-dapatkah-dipaksakan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/127dd01fb39cd32a3e6c7b17f654b354?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">willyedi</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Pendidikan di Tengah Kecamuk Budaya</title>
		<link>http://willyedi.wordpress.com/2009/09/03/pendidikan-di-tengah-kecamuk-budaya/</link>
		<comments>http://willyedi.wordpress.com/2009/09/03/pendidikan-di-tengah-kecamuk-budaya/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 03 Sep 2009 13:27:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>willyedi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[budaya]]></category>
		<category><![CDATA[malaysia]]></category>
		<category><![CDATA[muaatan lokal]]></category>
		<category><![CDATA[pembajakan]]></category>
		<category><![CDATA[pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[seni]]></category>
		<category><![CDATA[wisatawan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://willyedi.wordpress.com/2009/09/03/pendidikan-di-tengah-kecamuk-budaya/</guid>
		<description><![CDATA[Menghadapi klaim Malaysia terhadap seni dan budaya kita, berjuta orang menghujatnya. Ini menunjukkan bahwa bangsa Indonesia masih mempunyai rasa memiliki walaupun hanya sekadar rasa memiliki. Pada kenyataannya, kita jauh dari budaya-budaya yang diributkan itu, kecuali sekelompok kecil masyarakat yang melibatkan diri dalam budaya itu. Pada kenyataannya, kita masih suka membeli kaset bajakan dan menggunakan software [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=willyedi.wordpress.com&blog=621604&post=190&subd=willyedi&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Menghadapi klaim Malaysia terhadap seni dan budaya kita, berjuta orang menghujatnya. Ini menunjukkan bahwa bangsa Indonesia masih mempunyai rasa memiliki walaupun hanya sekadar rasa memiliki. Pada kenyataannya, kita jauh dari budaya-budaya yang diributkan itu, kecuali sekelompok kecil masyarakat yang melibatkan diri dalam budaya itu. Pada kenyataannya, kita masih suka membeli kaset bajakan dan menggunakan software bajakan. <span id="more-190"></span><br />
Hal itu bisa terjadi karena pendidikan kita tidak mengajarkan bagaimana caranya untuk mempertahankan dan mengembangkan budaya kita. Pendidikan kita tidak mengajarkan bagaimana menjadikan budaya kita yang banyak dan beragam itu menjadi barang dagangan yang layak untuk dijual. Pendidikan kita tidak mengajarkan bagaimana cara mengemas budaya yang kita miliki agar menarik para wisatawan. Pendidikan kita juga kurang menciptakan rasa bangga terhadap seni budaya kita sendiri.<br />
Di sisi lain, kita menyaksikan media televisi yang setiap harinya menawarkan budaya instan dari luar untuk disantap setiap hari. Stasiun televisi sebagai sebuah perusahaan, tidak mungkin kita harapkan untuk dapat mengusung budaya kita agar semakin dicintai oleh anak-anak muda negeri ini. Televisi hanyalah sarana untuk mempublikasikan karya anak bangsa. Yang sayang sekali anak bangsa negeri ini menjadi dewasa dan kreatif tanpa landasan budaya negeri yang mantap. Mereka lebih akrab dengan budaya asing yang sudah menjadi tidak asing lagi. Sinetron kita lebih merupakan adopsi dari sinetron asing. Tak berpijak pada budaya bangsa sendiri.<br />
Jauhnya kemungkinan kita untuk mampu menguasai lagi kebudayaan kita sendiri bisa dilihat dari aktivitas seni yang lebih banyak memunculkan budaya luar. Acara anak-anak muda lebih banyak diisi dengan budaya barat. Acara pernikahan tidak lagi diisi dengan tradisi lokal. Seni musik modern lebih menarik mereka. Celakanya, budaya tradisional lebih sering dicap kuno dan ketinggalan zaman.<br />
Perlu ada kemauan dari penguasa negeri ini dari tingkat pusat hingga daerah untuk lebih mengembangkan budaya lokal di masing-masing daerah. Melalui wadah mata pelajaran muatan lokal, dunia pendidikan sudah diberik celah untuk dapat dimanfaatkan. Sayang sekali, masih banyak daerah yang tidak memanfaatkan mata pelajaran muatan lokal ini untuk mengembangkan seni budayanya dengan sungguh-sungguh. Kalaupun ada, masih cukup banyak yang tidak melengkapinya dengan seperangkat kurikulum yang bisa diacu oleh sekolah.<br />
Timbul keraguan ketika seni budaya yang dimiliki oleh sebuah daerah berjumlah banyak dan tidak mungkin diajarkan di setiap sekolah karena mungkin akan membebani siswa. Hal ini tentu dapat diatasi dengan membagi mata pelajaran muatan lokal. Dimungkinkan setiap sekolah dalam satu daerah mengajarkan mata pelajaran muatan lokal berisi seni budaya yang berbeda. Tentu saja evaluasi yang dilaksanakan pun tidak bisa disamaratakan.<br />
Bukan hal yang mustahil seni budaya negeri ini menjadi budaya internasional jika penguasaan kita, publikasi kita, dan penyebarannya dilakukan secara terus-menerus. Kalau anak muda negeri ini sudah merasa memiliki seni budaya lokalnya, maka seni budaya itu meskipun dikuasai oleh orang-orang di negara lain tidak akan diambil hak miliknya oleh mereka. Bukankah kita tidak pernah mengklaim musik rock, pop, jazz, dan yang lain sebagai milik bangsa kita meskipun grup band di negeri ini berjumlah ribuan, padahal mereka menyanyikannya setiap saat.</p>
<p>Willy Ediyanto,<br />
penulis Buku “Guru Menggugat Mutu Pendidikan”</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/willyedi.wordpress.com/190/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/willyedi.wordpress.com/190/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/willyedi.wordpress.com/190/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/willyedi.wordpress.com/190/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/willyedi.wordpress.com/190/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/willyedi.wordpress.com/190/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/willyedi.wordpress.com/190/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/willyedi.wordpress.com/190/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/willyedi.wordpress.com/190/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/willyedi.wordpress.com/190/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=willyedi.wordpress.com&blog=621604&post=190&subd=willyedi&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://willyedi.wordpress.com/2009/09/03/pendidikan-di-tengah-kecamuk-budaya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/127dd01fb39cd32a3e6c7b17f654b354?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">willyedi</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Muslim Dilarang Nonton Konser Black Eyed Peas</title>
		<link>http://willyedi.wordpress.com/2009/08/29/muslim-dilarang-nonton-konser-black-eyed-peas/</link>
		<comments>http://willyedi.wordpress.com/2009/08/29/muslim-dilarang-nonton-konser-black-eyed-peas/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 29 Aug 2009 03:08:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>willyedi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://willyedi.wordpress.com/2009/08/29/muslim-dilarang-nonton-konser-black-eyed-peas/</guid>
		<description><![CDATA[Kapanlagi.com &#8211; Sabtu, Agustus 29
Muslim Dilarang Nonton Konser Black Eyed Peas
Pemerintah Malaysia memberlakukan larangan buat umat Islam untuk menghadiri konser Black Eyed Peas yang rencananya digelar bulan September mendatang. Bukan karena membeda-bedakan namun karena acara ini disponsori oleh perusahaan bir terkemuka.
&#8220;Muslim tidak boleh menghadiri acara ini. Non-Muslim diijinkan datang dan bersenang-senang,&#8221; ungkap seorang pejabat di [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=willyedi.wordpress.com&blog=621604&post=189&subd=willyedi&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Kapanlagi.com &#8211; Sabtu, Agustus 29</p>
<p>Muslim Dilarang Nonton Konser Black Eyed Peas</p>
<p>Pemerintah Malaysia memberlakukan larangan buat umat Islam untuk menghadiri konser Black Eyed Peas yang rencananya digelar bulan September mendatang. Bukan karena membeda-bedakan namun karena acara ini disponsori oleh perusahaan bir terkemuka.</p>
<p>&#8220;Muslim tidak boleh menghadiri acara ini. Non-Muslim diijinkan datang dan bersenang-senang,&#8221; ungkap seorang pejabat di Kementerian Informasi, Komunikasi dan Kebudayaan Malaysia. Alasannya jelas karena acara ini digelar dalam rangka ulang tahun ke-250 Guinness maka bir akan jadi bagian penting dari acara ini.</p>
<p>Di saat yang sama, pihak penyelenggara pun memberikan pernyataan senada dengan pernyataan yang dikeluarkan pemerintah Malaysia ini. &#8220;Pesta ini hanya terbuka untuk mereka yang non-Muslim dan berusia di atas 18 tahun,&#8221; jelas pihak penyelenggara konser ini. Konser Black Eyed Peas ini akan digelar di sebuah theme park di Kuala Lumpur September nanti. (cnm/roc)</p>
<p>Sumber: http://id.news.yahoo.com/kplg/20090828/ten-muslim-dilarang-nonton-konser-black-c3fbcbd.html</p>
<p>Kalau di Indonesia gimana jika terjadi hal yang sama?</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/willyedi.wordpress.com/189/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/willyedi.wordpress.com/189/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/willyedi.wordpress.com/189/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/willyedi.wordpress.com/189/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/willyedi.wordpress.com/189/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/willyedi.wordpress.com/189/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/willyedi.wordpress.com/189/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/willyedi.wordpress.com/189/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/willyedi.wordpress.com/189/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/willyedi.wordpress.com/189/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=willyedi.wordpress.com&blog=621604&post=189&subd=willyedi&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://willyedi.wordpress.com/2009/08/29/muslim-dilarang-nonton-konser-black-eyed-peas/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/127dd01fb39cd32a3e6c7b17f654b354?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">willyedi</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>