<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Willy Edi</title>
	<atom:link href="http://willyedi.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://willyedi.wordpress.com</link>
	<description>Pendidik, Pengomel, Penulis Cerpen dan Puisi, Penulis Sketsa</description>
	<lastBuildDate>Sat, 10 Oct 2009 11:37:00 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<cloud domain='willyedi.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://www.gravatar.com/blavatar/6f64e8ae9fbb34b2691957bf147c4bc1?s=96&#038;d=http://s.wordpress.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Willy Edi</title>
		<link>http://willyedi.wordpress.com</link>
	</image>
			<item>
		<title>Diklat Penggunaan Modul MGMP Mandiri</title>
		<link>http://willyedi.wordpress.com/2009/10/10/diklat-penggunaan-modul-mgmp-mandiri/</link>
		<comments>http://willyedi.wordpress.com/2009/10/10/diklat-penggunaan-modul-mgmp-mandiri/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 10 Oct 2009 11:37:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>willyedi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://willyedi.wordpress.com/?p=196</guid>
		<description><![CDATA[Tanggal 5 sampai 11 Oktober aku megikuti diklat di Bogor. Kota dingin yag kurasa sekarang sudah panas &#8211; apa karena tigkat curah hujan yang sangat kurang. Materi yang kuikuti semuanya berjalan dengan baik. Tujuannya agar nanti setelah kembali ke daerah masing-masing bisa memanfaatkan suplemen modul MGMP BERMUTU yang mesti dilaksanakan 16 kali pertemuan. Tidak semua [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=willyedi.wordpress.com&blog=621604&post=196&subd=willyedi&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Tanggal 5 sampai 11 Oktober aku megikuti diklat di Bogor. Kota dingin yag kurasa sekarang sudah panas &#8211; apa karena tigkat curah hujan yang sangat kurang. Materi yang kuikuti semuanya berjalan dengan baik. Tujuannya agar nanti setelah kembali ke daerah masing-masing bisa memanfaatkan suplemen modul MGMP BERMUTU yang mesti dilaksanakan 16 kali pertemuan. Tidak semua kabupaten dan provinsi terlibat dalam kegiatan ini. Hanya dari enam belas provinsi.<br />
Kegiatan yang banyak dilakukan adalah mengkritisi suplemen modul yang masin terdapat cukup banyak kekurangan, dengan tujuan agar nanti sekembalinya ke daerah masing-masing dapat memperbaiki modul-modul tersebut untuk digunakan dalam in house training selama tiga hari.<br />
Selanjutnya, karena masih dalam satu rangkaian, aku harus melanjutkan diklat &#8211; masih di kota Bogor &#8211; hanya beda tempat pelaksanaanya saja. Waktunya 11 &#8211; 16 Oktober 2009. Diklat yang akan datang adalah diklat untuk PCT, yaitu Provincial Core Teacher. Sama saja, untuk menjadi pemandu atau tutor dalam kegiatan MGMP BERMUTU.Kegiatan yang akan datang, pesertanya berasal dari lima provinsi saja, sayang aku tak hapal dengan adal mereka. Yang jelas dari Kalteng, Kotawaringin Barat mengirimkan utusan sembilan orang disampaing tiga orang yang saat ini bertahan di Bogor. Jadi semuanya 12 orang &#8211; kalau datang semua tentunya.</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/willyedi.wordpress.com/196/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/willyedi.wordpress.com/196/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/willyedi.wordpress.com/196/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/willyedi.wordpress.com/196/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/willyedi.wordpress.com/196/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/willyedi.wordpress.com/196/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/willyedi.wordpress.com/196/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/willyedi.wordpress.com/196/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/willyedi.wordpress.com/196/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/willyedi.wordpress.com/196/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=willyedi.wordpress.com&blog=621604&post=196&subd=willyedi&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://willyedi.wordpress.com/2009/10/10/diklat-penggunaan-modul-mgmp-mandiri/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/127dd01fb39cd32a3e6c7b17f654b354?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">willyedi</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Mengubah Paradigma Sekolah Favorit</title>
		<link>http://willyedi.wordpress.com/2009/09/30/mengubah-paradigma-sekolah-favorit/</link>
		<comments>http://willyedi.wordpress.com/2009/09/30/mengubah-paradigma-sekolah-favorit/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 30 Sep 2009 01:49:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>willyedi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[paradigma sekolah]]></category>
		<category><![CDATA[pavorit]]></category>
		<category><![CDATA[sekolah favorit]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://willyedi.wordpress.com/?p=193</guid>
		<description><![CDATA[Sekilas penulis mengamati keberadaan sebuah sekolah favorit tingkat SMP di sebuah kota. Sekolah tersebut menjadi harapan keberhasilan pendidikan anak-anak sekolah dasar di sekitarnya. Sekitar 70 persen anak sekolah dasar di kota itu menginginkan dapat duduk di sekolah itu setelah tamat SD.
Ternyata sebagian besar dri mereka, para calon siswa yang mendambakan bisa memasuki sekolah tersebut adalah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=willyedi.wordpress.com&blog=621604&post=193&subd=willyedi&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Sekilas penulis mengamati keberadaan sebuah sekolah favorit tingkat SMP di sebuah kota. Sekolah tersebut menjadi harapan keberhasilan pendidikan anak-anak sekolah dasar di sekitarnya. Sekitar 70 persen anak sekolah dasar di kota itu menginginkan dapat duduk di sekolah itu setelah tamat SD.<span id="more-193"></span><br />
Ternyata sebagian besar dri mereka, para calon siswa yang mendambakan bisa memasuki sekolah tersebut adalah karena sekolah itu selalu tampil dalam kegiatan-kegiatan di kotanya. Ada kelompok ekstrakurikuler yang selalu ditampilkan oleh sekolah itu yang dikenal oleh masyarakat. Hal itu sajalah yang menjadi alasan mereka.<br />
Dalam sebuah kesempatan, penulis berhasil menghubungi siswa-siswa yang duduk di kelas terakhir di sekolah tersebut. Cerita mereka mengenai kegiatan belajar di sekolah tersebut ternyata sangat mengejutkan. Dikatakan oleh mereka bahwa setengahnya mereka kecewa karena di sekolah itu ternata tidak seperti yang ada dalam pikiran mereka dulu yang dibacanya dari brosur yang mereka baca. Di sekolah itu tidak ada laboratorium, internet yang sangat terbatas tidak seperti dalam promosinya, kegiatan ekstrakurikuler tidak sebanyak yang dipromosikan, koleksi perpustakaan tidak memadai, dan yang paling parah, sebagian guru-gurunya tidak layak mengajar dan sebagian kecil guru yang lain terlalu sering menghindari kelas alias tidak mengajar.<br />
Sekolah favorit dilahirkan bukan oleh kinerja sekolah itu, melainkan disebabkan oleh imaji masyarakat tentang sekolah itu. Kalau kita membaca novel Laskar Pelangi karya Andrea Hirata, tentu bisa mengambil contoh sekolah perusahaan yang selalu dielu-elukan oleh masyarakat dalam setiap acara karena penampilan kelompok drumband yang selalu mempesona mereka dengan suara yang menggelegar dan pakaian seragam pemainnya yang menyolok. Sekolah seperti itulah yang mampu menjual imaji sebagai sekolah favorit. Apalagi sekolah itu dibiayai oleh perusahaan besar sehingga segala sarana-prasarana dan gurunya disiapkan oleh perusahaan.<br />
Lahirnya sekolah favorit yang lain adalah statistika kelulusan dan statistika alumni yang berhasil melanjutkan ke sekolah yang lebih tinggi. Hal ini merupakan parameter yang tidak tepat. Masalah tingkat kelulusan pada saat ini lebih disebabkan oleh keberuntungan memilih jawaban dalam ujian nasional. Tidak ada standar lain selain nilai ujian nasional yang menjadi penentu kelulusan. Walaupun dalam teori dapat saja sekolah menyatakan seorang siswa tidak lulus meskipun hasil ujian nasionalnya bagus, pada kenyataannya hal itu jarang terjadi. Yang membukit adalah usaha meluluskan siswanya sebanyak-banyaknya tanpa memperhatikan proses belajar. Yang terjadi adalah berbagai kecurangan pelaksanaan ujian nasional seperti yang diberitakan di berbagai media massa pada setiap akhir tahun ajaran.<br />
Barangkali parameternya yang salah, seharusnya sekolah bagus dan favorit adalah sekolah yang bisa menghasilkan anak-anak yang sehat jasmani dan rohani, kreatif dan inovatif, anak-anak yang bahagia, anak-anak yang selalu cerah ceria, yang membuat lingkungan di mana dia berada ikut cerah ceria juga. Namun kalau kita lihat anak-anak sekolah saat ini justru lebih banyak diliputi rasa takut tidak lulus pada saat-saat akhir menjelang ujian nasional. Bahkan tidak sedikit guru atau kepala sekolah yang bahkan menakut-nakuti mereka dengan vonis tidak lulus kalau tidak belajar.<br />
Pada tahun terakhir sekolah, para siswa selain dibebani dengan ketakutan tidak lulus, juga mulai dikurangi rasa gembiranya dengan pembatasan atau bahkan larangan mengikuti kegiatan-kegiatan ekstrakurikuler atau saran supaya mengikuti kegiatan di luar sekolah. Guru dan sekolah bahkan sudah membuat program kegiatan belajar tambahan di luar jam belajar reguler untuk mengejar ketertinggalan materi pelajaran. Kapan waktu mereka untuk bergembira dan berkreativitas jika pagi mereka harus belajar di kelas yang membosankan, kemudian dilanjutkan dengan tambahan pelajaran di sore hari yang lebih membosankan. Repotnya lagi pelajaran tambahan itu diberikan juga untuk mata pelajaran yang diajarkan oleh guru yang kreatif sehingga kelas malah menjadi kelas yang membosankan.<br />
Sekolah yang memiliki statistik lulusan yang melanjutkan ke sekolah yang lebih tinggi atau yang berhasil melanjutkan ke perguruan tinggi dengan prosentasi tinggi, tidak menjadi jaminan bahwa sekolah itu bagus. Memanglah bahwa sekolah yang dikatakan favorit biasanya diikuti dengan tingkat persaingan masuk yang ketat dan juga seringkali disusupi oleh berbagai kepentingan sekelompok orang kaya dan orang yang memiliki jabatan untuk menyekolahkan anaknya di sekolah tersebut. Orang kaya dan pejabat berpendidikan tinggi tentu berani membayar mahal untuk pendidikan anak-anaknya. Yang penting anaknya bisa masuk di sekolah favorit.<br />
Karena sekolah seperti  itu banyak dihuni oleh anak-anak pejabat dan orang kaya, maka pihak pemerintah pun tidak akan segan-segan menggelontorkan berbagai proyek dan sejumlah dana untuk sekolah itu. Tentu saja sistem pendidikan di rumah/bimbingan orang tua terhadap anak-anaknya akan sangat berbeda pada keluarga mampu dan yang tidak mampu. Akan berbeda pula cara mendidik pada orang tua yang berpendidikan tinggi dengan yang berpendidikan rendah. Hal terakhir inilah yang sebenarnya lebih banyak menentukan tingkat kelulusan siswa dalam ujian nasional.<br />
Cerita sekolah pinggiran seperti SD Muhammadiyah di Belitong dalam novel Laskar Pelangi sangat mungkin terjadi. Namun akan lebih banyak berdiri sekolah pinggiran yang bagus apabila pemerintah tidak membeda-bedakan perlakuan terhadap sekolah-sekolah pinggiran tersebut. Kita bisa menyaksikan perbedaan yang signifikan ketika menyaksikan sekolah pinggiran yang buruk, guru yang kurang, sarana-prasarana yang minim, dan berbagai keterbatasan lain dibandingkan dengan sekolah di kota yang menjadi sekolah favorit yang dilengkapi dengan berbagai sarana-prasarana yang berlebih, dan juga guru yang cukup.<br />
Sekali lagi, seharusnya sekolah bagus dan favorit adalah sekolah yang bisa menghasilkan anak-anak yang sehat jasmani dan rohani, kreatif dan inovatif, anak-anak yang bahagia, anak-anak yang selalu cerah ceria, yang membuat lingkungan di mana dia berada ikut cerah ceria juga. Dan yang paling penting lagi, adalah sekolah yang mampu menciptakan lulusan yang mandiri, yang tidak menjadi beban negara ketika lulus dan harus mencari pekerjaan.</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/willyedi.wordpress.com/193/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/willyedi.wordpress.com/193/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/willyedi.wordpress.com/193/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/willyedi.wordpress.com/193/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/willyedi.wordpress.com/193/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/willyedi.wordpress.com/193/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/willyedi.wordpress.com/193/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/willyedi.wordpress.com/193/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/willyedi.wordpress.com/193/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/willyedi.wordpress.com/193/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=willyedi.wordpress.com&blog=621604&post=193&subd=willyedi&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://willyedi.wordpress.com/2009/09/30/mengubah-paradigma-sekolah-favorit/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/127dd01fb39cd32a3e6c7b17f654b354?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">willyedi</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Koruptor, Mafia Kayu, dan Teroris</title>
		<link>http://willyedi.wordpress.com/2009/09/18/koruptor-mafia-kayu-dan-teroris/</link>
		<comments>http://willyedi.wordpress.com/2009/09/18/koruptor-mafia-kayu-dan-teroris/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 18 Sep 2009 14:22:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>willyedi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[illegal logging]]></category>
		<category><![CDATA[koruptor]]></category>
		<category><![CDATA[teroris]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://willyedi.wordpress.com/2009/09/18/koruptor-mafia-kayu-dan-teroris/</guid>
		<description><![CDATA[Mana yang paling menakutkan bagi kita? Sebagian tentu akan menjawab teroris. Berbeda ketika pertanyaan yang diajukan adalah, mana yang lebih merugikan di atnara ketiganya? Kita tidak dapat langsung menjawabnya. Ada banyak hal yang harus dijadikan pertimbangan. Salah satunya adalah kita menjadi korbannya atau tidak. Di samping itu, korban tak lengsung seringkali tidak menyadari penyebab derita [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=willyedi.wordpress.com&blog=621604&post=192&subd=willyedi&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Mana yang paling menakutkan bagi kita? Sebagian tentu akan menjawab teroris. Berbeda ketika pertanyaan yang diajukan adalah, mana yang lebih merugikan di atnara ketiganya? Kita tidak dapat langsung menjawabnya. Ada banyak hal yang harus dijadikan pertimbangan. Salah satunya adalah kita menjadi korbannya atau tidak. Di samping itu, korban tak lengsung seringkali tidak menyadari penyebab derita yang dialaminya.<br />
Lihat saja ketika terjadi pemburuan dan penangkapan teroris, pandangan kita tertuju pada berita-berita itu. Apalagi ketika teroris merasa berada di atas angin dan berhasil meneror negeri ini dengan ledakan-ledakan bom di berbagai tempat. Keadaan semacam itu menyebabkan kita tidak pernah merasa tenang.<br />
Mafia kayu, atau pelaku illegal logging, sekilas tidak merugikan kita. Tapi begitu menyedihkan ketika kita menyaksikan berita korban banjir di Sumatra yang diakibatkan oleh gundulnya hutan di hulu sungai. Masyarakat yang “tidak tahu apa-apa” menjadi korban. Kesan yang muncul adalah mereka menjadi korban bencana alam yang alami. Pada kenyataannya, bencana alam itu disebabkan oleh ulah manusia. Tidak sadar juga? Katakan saja “Saya &#8230;.. tidak lebih pintar dari anak kelas lima SD”. Ingat kuis Are  You Smarter than a 5th grader. Ngaak perlu malu kok mengakui kesalahan dan kebodohan kita. Lalu kita bertobat dan tidak mengulangi kesalahan yang sama.<br />
Koruptor, barangkali kejahatan yang paling tidak kentara. Di hadapan masyarakat banyak pelakunya sering memakai topeng dermawan. Senyum koruptor sangat sering muncul di televisi sehingga kita tidak menyadari bahwa yang tersenyum adalah topengnya. Andai kita dapat membelah hatinya, tentu kanker korupsi sudah sangat akut menyerangnya.<br />
Mana yang paling jahat, koruptor, pembalak kayu hutan, atau teroris?<br />
Semuanya jahat? Ada yang tersesat, namun ada yang pura-pura tidak tahu. Sok suci, sok dermawan, sok jadi pahlawan.</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/willyedi.wordpress.com/192/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/willyedi.wordpress.com/192/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/willyedi.wordpress.com/192/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/willyedi.wordpress.com/192/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/willyedi.wordpress.com/192/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/willyedi.wordpress.com/192/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/willyedi.wordpress.com/192/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/willyedi.wordpress.com/192/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/willyedi.wordpress.com/192/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/willyedi.wordpress.com/192/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=willyedi.wordpress.com&blog=621604&post=192&subd=willyedi&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://willyedi.wordpress.com/2009/09/18/koruptor-mafia-kayu-dan-teroris/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/127dd01fb39cd32a3e6c7b17f654b354?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">willyedi</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Menulis, Dapatkah Dipaksakan</title>
		<link>http://willyedi.wordpress.com/2009/09/12/menulis-dapatkah-dipaksakan/</link>
		<comments>http://willyedi.wordpress.com/2009/09/12/menulis-dapatkah-dipaksakan/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 12 Sep 2009 02:01:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>willyedi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[begadang]]></category>
		<category><![CDATA[gagasan]]></category>
		<category><![CDATA[ide]]></category>
		<category><![CDATA[menulis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://willyedi.wordpress.com/2009/09/12/menulis-dapatkah-dipaksakan/</guid>
		<description><![CDATA[Beberapa bulan terakhir ini, sungguh merupakan waktu yang paling menyebalkan. Bagaimana tidak menyebalkan, aku sama sekali tidak memiliki gagasan untuk menulis tentang pendidikan. Padahal berbagai cara sudah kulakukan. Di antara cara itu adalah membaca sampai aku muntah dengan apa yang kubaca. Browsing di internet sampai tersesat ke situs-situs biru. Diskusi, tak kurang-kurangnya kulakukan. Dan yang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=willyedi.wordpress.com&blog=621604&post=191&subd=willyedi&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Beberapa bulan terakhir ini, sungguh merupakan waktu yang paling menyebalkan. Bagaimana tidak menyebalkan, aku sama sekali tidak memiliki gagasan untuk menulis tentang pendidikan. Padahal berbagai cara sudah kulakukan. Di antara cara itu adalah membaca sampai aku muntah dengan apa yang kubaca. Browsing di internet sampai tersesat ke situs-situs biru. Diskusi, tak kurang-kurangnya kulakukan. Dan yang memerlukan biaya, berlanggganan surat kabar pun tidak memunculkan gagasan sama sekali.<br />
Internet yang tadinya banyak memberikan gagasan, sekarang serasa sesuatu yang membosankan. Facebook yang cukup menyita waktu bisa jadi penyebabnya, tapi toh aku sudah berusaha menjauhkan diri dari FB yang kuanggap mainan anak-anak saja.<br />
Malam ini, sudah pukul 01.43 dini hari, toh aku tidak tidur dan tidak ada satu pun gagasan yang berhasil aku tumpahkan di lembaran-lembaran digital dan tinta digital di komputerku ini.<br />
Sekedar keluh kesah. Harus memaksakan diri untuk menulis, ternyata tidak semudah yang dikatakan. Tubuh letih karena begadang malam ini pun tidak menghasilkan apa-apa selain keletihan di sekujur tulang-tulangku.</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/willyedi.wordpress.com/191/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/willyedi.wordpress.com/191/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/willyedi.wordpress.com/191/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/willyedi.wordpress.com/191/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/willyedi.wordpress.com/191/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/willyedi.wordpress.com/191/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/willyedi.wordpress.com/191/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/willyedi.wordpress.com/191/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/willyedi.wordpress.com/191/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/willyedi.wordpress.com/191/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=willyedi.wordpress.com&blog=621604&post=191&subd=willyedi&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://willyedi.wordpress.com/2009/09/12/menulis-dapatkah-dipaksakan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/127dd01fb39cd32a3e6c7b17f654b354?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">willyedi</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Pendidikan di Tengah Kecamuk Budaya</title>
		<link>http://willyedi.wordpress.com/2009/09/03/pendidikan-di-tengah-kecamuk-budaya/</link>
		<comments>http://willyedi.wordpress.com/2009/09/03/pendidikan-di-tengah-kecamuk-budaya/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 03 Sep 2009 13:27:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>willyedi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[budaya]]></category>
		<category><![CDATA[malaysia]]></category>
		<category><![CDATA[muaatan lokal]]></category>
		<category><![CDATA[pembajakan]]></category>
		<category><![CDATA[pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[seni]]></category>
		<category><![CDATA[wisatawan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://willyedi.wordpress.com/2009/09/03/pendidikan-di-tengah-kecamuk-budaya/</guid>
		<description><![CDATA[Menghadapi klaim Malaysia terhadap seni dan budaya kita, berjuta orang menghujatnya. Ini menunjukkan bahwa bangsa Indonesia masih mempunyai rasa memiliki walaupun hanya sekadar rasa memiliki. Pada kenyataannya, kita jauh dari budaya-budaya yang diributkan itu, kecuali sekelompok kecil masyarakat yang melibatkan diri dalam budaya itu. Pada kenyataannya, kita masih suka membeli kaset bajakan dan menggunakan software [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=willyedi.wordpress.com&blog=621604&post=190&subd=willyedi&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Menghadapi klaim Malaysia terhadap seni dan budaya kita, berjuta orang menghujatnya. Ini menunjukkan bahwa bangsa Indonesia masih mempunyai rasa memiliki walaupun hanya sekadar rasa memiliki. Pada kenyataannya, kita jauh dari budaya-budaya yang diributkan itu, kecuali sekelompok kecil masyarakat yang melibatkan diri dalam budaya itu. Pada kenyataannya, kita masih suka membeli kaset bajakan dan menggunakan software bajakan. <span id="more-190"></span><br />
Hal itu bisa terjadi karena pendidikan kita tidak mengajarkan bagaimana caranya untuk mempertahankan dan mengembangkan budaya kita. Pendidikan kita tidak mengajarkan bagaimana menjadikan budaya kita yang banyak dan beragam itu menjadi barang dagangan yang layak untuk dijual. Pendidikan kita tidak mengajarkan bagaimana cara mengemas budaya yang kita miliki agar menarik para wisatawan. Pendidikan kita juga kurang menciptakan rasa bangga terhadap seni budaya kita sendiri.<br />
Di sisi lain, kita menyaksikan media televisi yang setiap harinya menawarkan budaya instan dari luar untuk disantap setiap hari. Stasiun televisi sebagai sebuah perusahaan, tidak mungkin kita harapkan untuk dapat mengusung budaya kita agar semakin dicintai oleh anak-anak muda negeri ini. Televisi hanyalah sarana untuk mempublikasikan karya anak bangsa. Yang sayang sekali anak bangsa negeri ini menjadi dewasa dan kreatif tanpa landasan budaya negeri yang mantap. Mereka lebih akrab dengan budaya asing yang sudah menjadi tidak asing lagi. Sinetron kita lebih merupakan adopsi dari sinetron asing. Tak berpijak pada budaya bangsa sendiri.<br />
Jauhnya kemungkinan kita untuk mampu menguasai lagi kebudayaan kita sendiri bisa dilihat dari aktivitas seni yang lebih banyak memunculkan budaya luar. Acara anak-anak muda lebih banyak diisi dengan budaya barat. Acara pernikahan tidak lagi diisi dengan tradisi lokal. Seni musik modern lebih menarik mereka. Celakanya, budaya tradisional lebih sering dicap kuno dan ketinggalan zaman.<br />
Perlu ada kemauan dari penguasa negeri ini dari tingkat pusat hingga daerah untuk lebih mengembangkan budaya lokal di masing-masing daerah. Melalui wadah mata pelajaran muatan lokal, dunia pendidikan sudah diberik celah untuk dapat dimanfaatkan. Sayang sekali, masih banyak daerah yang tidak memanfaatkan mata pelajaran muatan lokal ini untuk mengembangkan seni budayanya dengan sungguh-sungguh. Kalaupun ada, masih cukup banyak yang tidak melengkapinya dengan seperangkat kurikulum yang bisa diacu oleh sekolah.<br />
Timbul keraguan ketika seni budaya yang dimiliki oleh sebuah daerah berjumlah banyak dan tidak mungkin diajarkan di setiap sekolah karena mungkin akan membebani siswa. Hal ini tentu dapat diatasi dengan membagi mata pelajaran muatan lokal. Dimungkinkan setiap sekolah dalam satu daerah mengajarkan mata pelajaran muatan lokal berisi seni budaya yang berbeda. Tentu saja evaluasi yang dilaksanakan pun tidak bisa disamaratakan.<br />
Bukan hal yang mustahil seni budaya negeri ini menjadi budaya internasional jika penguasaan kita, publikasi kita, dan penyebarannya dilakukan secara terus-menerus. Kalau anak muda negeri ini sudah merasa memiliki seni budaya lokalnya, maka seni budaya itu meskipun dikuasai oleh orang-orang di negara lain tidak akan diambil hak miliknya oleh mereka. Bukankah kita tidak pernah mengklaim musik rock, pop, jazz, dan yang lain sebagai milik bangsa kita meskipun grup band di negeri ini berjumlah ribuan, padahal mereka menyanyikannya setiap saat.</p>
<p>Willy Ediyanto,<br />
penulis Buku “Guru Menggugat Mutu Pendidikan”</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/willyedi.wordpress.com/190/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/willyedi.wordpress.com/190/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/willyedi.wordpress.com/190/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/willyedi.wordpress.com/190/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/willyedi.wordpress.com/190/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/willyedi.wordpress.com/190/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/willyedi.wordpress.com/190/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/willyedi.wordpress.com/190/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/willyedi.wordpress.com/190/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/willyedi.wordpress.com/190/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=willyedi.wordpress.com&blog=621604&post=190&subd=willyedi&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://willyedi.wordpress.com/2009/09/03/pendidikan-di-tengah-kecamuk-budaya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/127dd01fb39cd32a3e6c7b17f654b354?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">willyedi</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Muslim Dilarang Nonton Konser Black Eyed Peas</title>
		<link>http://willyedi.wordpress.com/2009/08/29/muslim-dilarang-nonton-konser-black-eyed-peas/</link>
		<comments>http://willyedi.wordpress.com/2009/08/29/muslim-dilarang-nonton-konser-black-eyed-peas/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 29 Aug 2009 03:08:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>willyedi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://willyedi.wordpress.com/2009/08/29/muslim-dilarang-nonton-konser-black-eyed-peas/</guid>
		<description><![CDATA[Kapanlagi.com &#8211; Sabtu, Agustus 29
Muslim Dilarang Nonton Konser Black Eyed Peas
Pemerintah Malaysia memberlakukan larangan buat umat Islam untuk menghadiri konser Black Eyed Peas yang rencananya digelar bulan September mendatang. Bukan karena membeda-bedakan namun karena acara ini disponsori oleh perusahaan bir terkemuka.
&#8220;Muslim tidak boleh menghadiri acara ini. Non-Muslim diijinkan datang dan bersenang-senang,&#8221; ungkap seorang pejabat di [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=willyedi.wordpress.com&blog=621604&post=189&subd=willyedi&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Kapanlagi.com &#8211; Sabtu, Agustus 29</p>
<p>Muslim Dilarang Nonton Konser Black Eyed Peas</p>
<p>Pemerintah Malaysia memberlakukan larangan buat umat Islam untuk menghadiri konser Black Eyed Peas yang rencananya digelar bulan September mendatang. Bukan karena membeda-bedakan namun karena acara ini disponsori oleh perusahaan bir terkemuka.</p>
<p>&#8220;Muslim tidak boleh menghadiri acara ini. Non-Muslim diijinkan datang dan bersenang-senang,&#8221; ungkap seorang pejabat di Kementerian Informasi, Komunikasi dan Kebudayaan Malaysia. Alasannya jelas karena acara ini digelar dalam rangka ulang tahun ke-250 Guinness maka bir akan jadi bagian penting dari acara ini.</p>
<p>Di saat yang sama, pihak penyelenggara pun memberikan pernyataan senada dengan pernyataan yang dikeluarkan pemerintah Malaysia ini. &#8220;Pesta ini hanya terbuka untuk mereka yang non-Muslim dan berusia di atas 18 tahun,&#8221; jelas pihak penyelenggara konser ini. Konser Black Eyed Peas ini akan digelar di sebuah theme park di Kuala Lumpur September nanti. (cnm/roc)</p>
<p>Sumber: http://id.news.yahoo.com/kplg/20090828/ten-muslim-dilarang-nonton-konser-black-c3fbcbd.html</p>
<p>Kalau di Indonesia gimana jika terjadi hal yang sama?</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/willyedi.wordpress.com/189/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/willyedi.wordpress.com/189/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/willyedi.wordpress.com/189/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/willyedi.wordpress.com/189/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/willyedi.wordpress.com/189/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/willyedi.wordpress.com/189/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/willyedi.wordpress.com/189/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/willyedi.wordpress.com/189/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/willyedi.wordpress.com/189/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/willyedi.wordpress.com/189/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=willyedi.wordpress.com&blog=621604&post=189&subd=willyedi&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://willyedi.wordpress.com/2009/08/29/muslim-dilarang-nonton-konser-black-eyed-peas/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/127dd01fb39cd32a3e6c7b17f654b354?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">willyedi</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Tak Layak Kita Marah</title>
		<link>http://willyedi.wordpress.com/2009/08/29/tak-layak-kita-marah/</link>
		<comments>http://willyedi.wordpress.com/2009/08/29/tak-layak-kita-marah/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 29 Aug 2009 02:51:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>willyedi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[budaya]]></category>
		<category><![CDATA[indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[jual]]></category>
		<category><![CDATA[malaysia]]></category>
		<category><![CDATA[pulau]]></category>
		<category><![CDATA[raya]]></category>
		<category><![CDATA[teror]]></category>
		<category><![CDATA[teroris]]></category>
		<category><![CDATA[tki]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://willyedi.wordpress.com/2009/08/29/tak-layak-kita-marah/</guid>
		<description><![CDATA[Menghadapi klaim bangsa Malaysia terhadap seni dan budaya kita, berjuta orang menghujatnya. Ini menunjukkan bahwa bangsa Indonesia masih mempunyai rasa memiliki walaupun hanya sekadar rasa memiliki. Pada kenyataannya, kita jauh dari budaya-budaya yang diributkan itu, kecuali sekelompok kecil masyarakat yang melibatkan diri dalam budaya itu. Pada kenyataannya, kita masih suka membeli kaset bajakan dan menggunakan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=willyedi.wordpress.com&blog=621604&post=188&subd=willyedi&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Menghadapi klaim bangsa Malaysia terhadap seni dan budaya kita, berjuta orang menghujatnya. Ini menunjukkan bahwa bangsa Indonesia masih mempunyai rasa memiliki walaupun hanya sekadar rasa memiliki. Pada kenyataannya, kita jauh dari budaya-budaya yang diributkan itu, kecuali sekelompok kecil masyarakat yang melibatkan diri dalam budaya itu. Pada kenyataannya, kita masih suka membeli kaset bajakan dan menggunakan software bajakan. Yang tidak pernah mau kita lakukan adalah membeli dan memakai sepeda motor dan mobil buatan Indonesia. Membajaknya pun kita tidak pernah mau. Kita lebih bangga menggunakan sepeda motor buatan Jepang. Saya sedih menyaksikan tak ada sepeda motor atau mobil buatan dan merek Indonesia yang berkeliaran di jalan-jalan di negeri ini. Namun begitu terkejut ketika bea cukai Pilipina menemukan senjata butan Pindad, Indonesia.<br />
Kita tidak perlu marah berlebihan terhadap Malaysia meskipun Sipadan dan Ligitan sudah mereka rebut, Ambalat sudah di depan mulut Malaysia. Pada kenyataannya orang-orang kita sendiri menjual pulau-pulau kecil yang ada di berbagai provinsi di Indonesia.<br />
Kita tidak perlu marah terhadap Malaysia karena Malaysia mengusir TKI ilegal, atau bahkan menyiksa mereka dan videonya beredar di internet. Pada kenyataannya, kita tidak mempunyai lapangan kerja untuk mereka. Kita masih melihat orang yang berbondong-bondong menjadi pengemis, berbondong-bondong memperebutkan zakat yang dibagikan oleh orang-orang kaya, dan berebut menerima BLT dan raskin. Pada kenyataannya, sebagian masyarakat kita terusir dari tanahnya di Sidoarjo, di Papua, di Aceh, di Ambon, dan masih banyak lagi.<br />
Namun kita berlu meneriakkan nasionalisme kita dan menuntut pemerintah untuk bersikap tegas ketika lagu Indonesia Raya diplesetkan, dan ketika Malaysia mengirimkan Noordin M. Top dan Dr. Ahzari ke Indonesia untuk mengacaukan keamanan di negeri ini.<br />
Pada bagian awal, mungkin Anda kecewa dengan tulisan ini. Namun, saat ini, mari kita galang dukungan untuk berbuat sesuatu yang berarti bagi negeri ini. Mari kita jadikan Malaysia sebagai salah provinsi di NKRI. Menjadikan Malaysia bagian dari NKRI. Tampaknya, dengan cara ini Malaysia akan lebih senang.<br />
Mari kita hidupkan lagi semangat IGOS (Indonesia Goes Open Source), mari kita dirikan perusahaan otomotif. Mari kita gunakan produk dalam negeri. Kita hujat orang-orang yang dengan bangganya memamerkan diri ketika menggunakan baju, jam tangan, sepatu bermerek luar negeri. Saya ingin menaiki sepeda motor buatan Indonesia, tapi tak pernah saya menemukannya????<br />
Sedih lagi.<br />
Seharusnya kita marah pada diri kita sendiri.</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/willyedi.wordpress.com/188/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/willyedi.wordpress.com/188/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/willyedi.wordpress.com/188/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/willyedi.wordpress.com/188/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/willyedi.wordpress.com/188/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/willyedi.wordpress.com/188/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/willyedi.wordpress.com/188/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/willyedi.wordpress.com/188/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/willyedi.wordpress.com/188/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/willyedi.wordpress.com/188/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=willyedi.wordpress.com&blog=621604&post=188&subd=willyedi&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://willyedi.wordpress.com/2009/08/29/tak-layak-kita-marah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/127dd01fb39cd32a3e6c7b17f654b354?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">willyedi</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Hari kedua Ramadhan</title>
		<link>http://willyedi.wordpress.com/2009/08/23/hari-kedua-ramadhan/</link>
		<comments>http://willyedi.wordpress.com/2009/08/23/hari-kedua-ramadhan/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 23 Aug 2009 14:01:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>willyedi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[drama]]></category>
		<category><![CDATA[malam jahanam]]></category>
		<category><![CDATA[motinggo busye]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://willyedi.wordpress.com/2009/08/23/hari-kedua-ramadhan/</guid>
		<description><![CDATA[Menulis yang penuh gairah, tapi selalu mengambinghitamkan mood dan ide. Kujauhi FB karena menjadi ganja bagi kehidupan. Tapi menggagas ide menjadi sesuatu yang teratur begitu sulitnya.
Terakhir aku mendapatkan onggokan modul kuliah di UT berjudul Drama karya B. Rahmanto dan S. Endah Peni Adji, menarik. Ada naskah drama &#8220;MAlam Jahanam&#8221; karya Motinggo Busye, dan ada juga [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=willyedi.wordpress.com&blog=621604&post=187&subd=willyedi&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Menulis yang penuh gairah, tapi selalu mengambinghitamkan mood dan ide. Kujauhi FB karena menjadi ganja bagi kehidupan. Tapi menggagas ide menjadi sesuatu yang teratur begitu sulitnya.<br />
Terakhir aku mendapatkan onggokan modul kuliah di UT berjudul Drama karya B. Rahmanto dan S. Endah Peni Adji, menarik. Ada naskah drama &#8220;MAlam Jahanam&#8221; karya Motinggo Busye, dan ada juga videonya. Kunikmati, begitu menghanyutkan. Naskah klasik. Kubaca lagi ahhh.</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/willyedi.wordpress.com/187/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/willyedi.wordpress.com/187/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/willyedi.wordpress.com/187/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/willyedi.wordpress.com/187/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/willyedi.wordpress.com/187/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/willyedi.wordpress.com/187/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/willyedi.wordpress.com/187/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/willyedi.wordpress.com/187/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/willyedi.wordpress.com/187/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/willyedi.wordpress.com/187/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=willyedi.wordpress.com&blog=621604&post=187&subd=willyedi&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://willyedi.wordpress.com/2009/08/23/hari-kedua-ramadhan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/127dd01fb39cd32a3e6c7b17f654b354?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">willyedi</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Aku Sudah jadi Primata</title>
		<link>http://willyedi.wordpress.com/2009/08/01/aku-sudah-jadi-primata/</link>
		<comments>http://willyedi.wordpress.com/2009/08/01/aku-sudah-jadi-primata/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 01 Aug 2009 13:48:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>willyedi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerpen]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://willyedi.wordpress.com/?p=185</guid>
		<description><![CDATA[Cerpen: Willy Ediyanto
Memimpikan sesuatu yang tak mungkin bukanlah sesuatu yang haram. Begitu juga aku, seorang lelaki yang dilahirkan dari seorang ibu manusia dan seorang ayah manusia. Aku bermimpi bahkan bercita-cita menjadi seekor primata.
Mengikuti pendapat para ahli, termasuk yang paling tersohor, Charles Darwin, yang mengatakan bahwa manusia berasal dari kera, maka menurutku, manusia sangat mungkin untuk [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=willyedi.wordpress.com&blog=621604&post=185&subd=willyedi&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Cerpen: Willy Ediyanto</p>
<p>Memimpikan sesuatu yang tak mungkin bukanlah sesuatu yang haram. Begitu juga aku, seorang lelaki yang dilahirkan dari seorang ibu manusia dan seorang ayah manusia. Aku bermimpi bahkan bercita-cita menjadi seekor primata.<br />
Mengikuti pendapat para ahli, termasuk yang paling tersohor, Charles Darwin, yang mengatakan bahwa manusia berasal dari kera, maka menurutku, manusia sangat mungkin untuk kembali menjadi kera. Dan itulah cita-citaku, menjadi primata. Bukankah saat ini terjadi hal-hal yang dulu tidak pernah terpikirkan. Lihat saja swine influenza, di Indonesia berubah menjadi flu babi. H5N1 sangat mungkin meleburkan diri dengan H1N1 menjadi H6N2. Atau ada mutasi berupa efek berantai menjadi H4N2 dan H2 atau yang lain yang terkadang membuat otakku buntu. Yang jelas, aku bukan hanya berminpi, melainkan juga bercita-cita menjadi primata.<br />
“Aneh?” kata ibuku yang manusia. <span id="more-185"></span><br />
“Gila!” kata ayahku yang manusia juga.<br />
“Tidak”, jawabku, “Bukankah ada lelaki ganteng menikahi perempuan cantik anaknya buruk rupa?”<br />
“Ya. Itu ada. Tapi berubah menjadi kera atau simpanse, atau gorilla, itu tidak mungkin”, kata ayahku ketus.<br />
Apapun kata kedua orang tuaku, aku tetap bermimpi dan bercita-cita menjadi salah satu primata. Apa ada yang aneh? Menurutku tidak.<br />
Aku memandangi seekor kera yang duduk memandangi aku dari balik terali besi kandangnya. Aku menitikkan air mata melihat dia kesepian. Dengan kandang yang bau dan kotor, tentu kera ini sangat menderita.<br />
Di hari yang lain, aku begitu berbahagia menyaksikan sepasang orangutan di sebuah kebun binatang yang tampak begitu berbahagia. Si istri mencari kelupasan kulit ari yang mengering. Orang sering menafsirkan dengan mencari kutu. Setahuku, orangutan betina itu memerlukan protein yang hanya bisa didapatnya dari kulit ari yang terkelupas. Si jantan yang berbahagia dengan terkantuk-kantung membiarkan bulu-bulu di tubuhnya disibak-sibak si betina.<br />
Di sisi yang lain, anak mereka bermain-main dengan sebuah bola. Bergelantungan di dahan kering dalam kandangnya. Melompat. Berguling. Semuanya dilakukan dengan kegembiraan.<br />
“Ah, kapankah aku bisa menjadi seekor orangutan?” bisikku dalam hati.<br />
“Seandainya aku menjadi Dr. John Doolitle, tentu tidak separah ini deritaku. Setidaknya aku bisa berbagi perasaan dengan sepasang orangutan ini. Aku mencoba mengeluarkan bunyi-bunyian yang mirip dengan suara yang sering kudengar dari orangutan di depanku. Namun mereka sama sekali tak bereaksi.<br />
“Sudahlah. Manusia tidak mungkin berubah menjadi kera atau orangutan atau monyet atau yang lainnya. Yang mungkin hanyalah mengubah tubuh menjadi seperti mereka. Kalau menjadi indah seperti Michael Jackson mungkin dilakuan, tentunya dokter pun mampu mengubah manusia menjadi seperti monyet. Tapi itu tidak mengubahmu menjadi monyet sejati, karena kamu tetap manusia”, temanku berceramah panjang lebar.<br />
Di sebuah pohon besar di kebunku yang luas, aku membuat sebuah rumah pohon. Harapanku tetap, siapa tahu suatu saat nanti aku bisa berubah menjadi seekor primata. Aku sering tidur di rumah pohon itu tanpa sehelai benang pun. Maksudku, tentu saja jika sewaktu-waktu aku berubah menjadi primata, aku tidak kesulitan membuka pakaian yang melekat di tubuhku. Tentu membuka pakaian bagi primata akan menjadi sebuah pekerjaan yang sangat sulit. Gigitan nyamuk tidak kuhiraukan. Aku hanya menutupi tubuhku saat tidur dengan selimut atau dedaunan saja.<br />
Tujuh tahun semenjak aku berpikir akan menjadi primata, terjadi perubahan pada diriku. Kata guruku dalam pelajaran ilmu hayat, perubahan itu disebabkan oleh hormon yang ada dalam tubuhku. Aku semakin asyik dengan ketelanjanganku setiap aku berada di rumah pohon. Hingga pada suatu saat, aku merasa malu dan segera meraih pakaianku, lalu segera memakainya.<br />
Semenjak rasa malu yang timbul secara tak kusadari itu, pergaulanku dengan teman-teman terasa lebih mengasyikkan. Tubuhku tumbuh dengan sempurna. Tak ada tanda-tanda perubahan menjadi primata. Bahkan gadis-gadis di sekelilingku sering mengagumi tubuhku yang atletis. Aku bermimpi jadi primata sehingga gerakan-gerakanku pun kuusahakan seperti primata. Olah ragaku adalah berguling-guling, memanjat, dan bergelantungan di pepohonan. Atletik dan sepak bola tentu saja menjadi kegemaranku yang tak pernah kulewatkan.<br />
Film Dr. Doolitle menjadi tontonan favoritku di samping film-film dokumenter tentang kehidupan primata. Namun setahun terakhir ini, aku tertarik juga dengan film-film percintaan yang disiarkan di televisi. Aku suka berdandan dan mulai menyukai keindahan wanita.<br />
Mimpi dan cita-ita menjadi primata mengakibatkan aku sering putus hubungan dengan perempuan-perempuan cantik itu. Padahal aku dikaruniai wajah yang tidak kurang apa pun.<br />
Siang itu, terpaksa aku harus putus hubungan dengan gadis di sampingku ketika berada di sebuah kebun binatang. Gadis itu terlupakan karena aku terlalu asyik memperhatikan tingkah laku sepasang kera di dalam kandangnya.<br />
Aku berbalik dan menyaksikan gadisku sudah menjadi seekor kera. Aku mendekatinya dan dengan penuh rasa bahagia, aku mendekatinya. Seperti seekor kera, aku berguling-guling mendekatinya dan menyibak rambutnya untuk mencari serpihan kulit ari di kepalanya. Tindakanku sat itu sungguh setolol kera di kandang. Awalnya gadis di depanku diam-diam saja. Namun semakin lama, dia menampakkan wajah kengerian. Berteriak dia mengejutkan seluruh penghuni kebun binatang. Aku ditinggalkan begitu saja.<br />
Petugas kebun binatang menangkapku sebelum aku menyadari semua yang terjadi. Aku dimasukkan ke dalam kandang sekor kera betina yang berada di kandangnya sendiri. Aku mendekati kera betina itu. Dia diam saja. Kugosok-gosokan tubuhku ke tubuh kera betina itu, dia hanya memandangku, tapi diam saja.<br />
Makanan yang tersedia di kandang menimbulkan seleraku. Aku semakin merasa cocok dengan kera betina ini. Kuserahkan seluruh hidupku kepada kera betina yang kini menjadi istriku. Hanya saja, aku sering merasa heran dengan kata-kata yang dilontarkan oleh pengunjung kebun binantang  di sini. Setiap kali memandangku, mereka tersenyum dan berkata, “Dia itu dulunya manusia. Karena bercita-cita dan bermimpi jadi monyet, sekarang dia jadi monyet sungguhan.”<br />
Aku tidak peduli. Yang jelas kehidupanku lebih mengasyikkan tanpa beban.<br />
Kumai, Agustus 2008</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/willyedi.wordpress.com/185/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/willyedi.wordpress.com/185/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/willyedi.wordpress.com/185/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/willyedi.wordpress.com/185/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/willyedi.wordpress.com/185/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/willyedi.wordpress.com/185/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/willyedi.wordpress.com/185/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/willyedi.wordpress.com/185/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/willyedi.wordpress.com/185/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/willyedi.wordpress.com/185/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=willyedi.wordpress.com&blog=621604&post=185&subd=willyedi&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://willyedi.wordpress.com/2009/08/01/aku-sudah-jadi-primata/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/127dd01fb39cd32a3e6c7b17f654b354?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">willyedi</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>MBS, yang Dimandulkan</title>
		<link>http://willyedi.wordpress.com/2009/07/28/mbs-yang-dimandulkan/</link>
		<comments>http://willyedi.wordpress.com/2009/07/28/mbs-yang-dimandulkan/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 28 Jul 2009 15:45:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>willyedi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://willyedi.wordpress.com/2009/07/28/mbs-yang-dimandulkan/</guid>
		<description><![CDATA[Heboh yang melanda dunia pendidikan karena iuran komite sekolah yang mencapai satu juta rupiah per siswa, sudah diketahui umum melalui surat kabar ini. Kepala sekolah sebagai pengelola sekolah tampaknya ingin berlepas tangan dalam kasus ini dengan pernyataan yang sudah kita ketahui semua. Keputusan komite sekolah, adalah alasan klise yang banyak dilontarkan oleh kepala sekolah ketika [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=willyedi.wordpress.com&blog=621604&post=184&subd=willyedi&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Heboh yang melanda dunia pendidikan karena iuran komite sekolah yang mencapai satu juta rupiah per siswa, sudah diketahui umum melalui surat kabar ini. Kepala sekolah sebagai pengelola sekolah tampaknya ingin berlepas tangan dalam kasus ini dengan pernyataan yang sudah kita ketahui semua. Keputusan komite sekolah, adalah alasan klise yang banyak dilontarkan oleh kepala sekolah ketika terbentur masalah pungutan terhadap orang tua siswa. <span id="more-184"></span><br />
Sudah tepatkah sikap kepala sekolah yang mau melepaskan tanggung jawabnya terhadap keputusan komite sekolah yang sudah terlanjur itu? Mari kita renungkan bersama. Kebetulan saja kejadiannya di sebuah sekolah yang direncanakan akan menjadi SBI, sebuah sekolah yang sudah menyedot dana rakyat yang begitu banyak. Ini mengindikasikan adanya salah kelola. SBI (Sekolah Bertaraf Internasional) sudah mendapatkan dana yang berlimpah untuk pengadaan fasilitas pendidikan yang lebih dari sekolah-sekolah lainnya. Ini bisa menimbulkan rasa tidak puas karena dana itu diambil dari pajak yang dibayarkan oleh masyarakat. Namun, hanya sedikit masyarakat kota yang menikmatinya. Bukankah SBI hanya ada di kota-kota saja? Padahal seluruh masyarakat Indonesia sudah membayar pajak. Sudah itu, SBI masih diberi keleluasaan untuk menarik iuran dari orang tua siswa.<br />
Keadaan seperti di atas, bagi sebagian orang akan menjadi hal yang mengherankan. Kesan yang dapat ditangkap oleh masyarakat adalah orang miskin mensubsidi orang kaya. Bukankah hanya orang kaya yang mampu membayar uang iuran komite sebesar satu juta rupiah? Padahal selama perjalanan sekolah, anak-anak mereka pun menerima dana BOS. Masyarakat tentu akan bertanya-tanya, SBI atau RSBI itu untuk siapa? Bagaimana anak-anak sekolah dasar dari pedalaman sana akan bersekolah di SBI atau RSBI padahal mereka masih memerlukan bantuan orang tuanya. Berbeda jika SBI atau RSBI itu didirikan pada tingkat sekolah menengah yang siswa-siswanya sudah mulai dapat mandiri.<br />
Penulis pernah mendengar sebuah paparan dari seorang pejabat pendidikan yang menyatakan bahwa, daripada semua sekolah tidak bagus, lebih baik dibuat satu sekolah menjadi bagus. Ini adalah pendapat dan sikap yang sangat tidak adil. Sebagai pembuat kebijakan pendidikan semestinya memikirkan bagaimana caranya agar semua tanggungjawabnya bisa berjalan dengan baik. Di dalam UUD 1945 Pasal 28-i ayat (2) dinyatakan bahwa setiap orang berhak bebas dari perlakuan yang bersifat diskriminatif atas dasar apapun dan berhak mendapatkan perlindungan terhadap perlakuan yang bersifat diskriminatif itu. Artinya, layanan pendidikan yang merupakan kewajiban pemerintah harus memenuhi pasal 28-c ayat (1), Setiap orang berhak mengembangkan diri melalui pemenuhan kebutuhan dasarnya, berhak mendapat pendidikan, dan seterusnya. Pasal 31 ayat (1) bahkan berbunyi, Setiap warga negara berhak mendapat pendidikan, dan ayat (2) setiap warga negara wajib mengikuti pendidikan dasar dan pemerintah wajib membiayainya. Tentu saja pendidikan itu pun pendidikan yang tidak diskriminatif.<br />
Kembali kepada masalah jawaban kepala sekolah yang mengatakan tidak tahu masalah iuran komite dan mengatakan bahwa yang menarik iuran itu adalah komite sekolah. Itu adalah jawaban yang tidak masuk di akal siapa pun orang yang mengerti pendidikan. Pasal 51 ayat (1) Undang-undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sisdiknas menyebutkan, pengelolaan satuan pendidikan anak usia dini, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah dilaksanakan berdasarkan standar pelayanan minimal dengan prinsip manajemen berbasis sekolah/madrasah. Jadi kalau kepala sekolah dan komite sekolah saling tidak mengetahui apa yang menjadi keputusan masing-masing, berarti ada miskomunikasi. Tidak semestinya komite berjalan sendiri tanpa mendapatkan masukan dari pihak sekolah. Begitu juga sebaliknya, toh akhirnya dana yang terkumpul akan diserahkan pengelolaannya kepada sekolah.<br />
Pada bagian lain UU Sisdiknas yaitu Pasal 66 ayat (1)  berbunyi, Pemerintah, pemerintah daerah, dewan pendidikan, dan komite sekolah/madrasah melakukan pengawasan atas penyelenggaraan pendidikan pada semua jenjang dan jenis pendidikan sesuai dengan kewenangan masing-masing. Ayat  (2),  Pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan dengan prinsip transparansi dan akuntabilitas publik. Jadi jelaslah di sini bahwa antara kepala sekolah, guru, dan komite sekolah semestinya berjalan bersama dan tidak saling melempar tanggung jawab. Keputusan komite sekolah harus diketahui oleh kepala sekolah, begitu pula sebaliknya, keputusan kepala sekolah harus diketahui oleh komite sekolah.<br />
Berbeda dengan hal di atas, beberapa komite sekolah di sekolah lain mungkin terlalu pasif dan mandul atau dimandulkan oleh kepala sekolah. Ada kepala sekolah yang menganggap masyarakat di wilayahnya belum dapat dilibatkan dalam manajemen berbasis sekolah. Akibatnya, sekolah tertutup dalam penelolaan APBS-nya. Bahkan di beberapa sekolah, guru-gurunya pun tidak dilibatkan dalam penyusunan dan pelaksanaan RAPBS. Alasannya sama, belum mampu, atau biar guru tidak repot.<br />
Tujuan MBS (Manajemen Berbasis Sekolah) sangat baik, yaitu berupa pelimpahan kewenangan pemerintah yang tadinya sentralistis menjadi desentralistis sampai kepada sekolah. Maksudnya agar pendidikan maju seiring dengan pengelolaan yang sesuai dengan keperluan di sekolah. Namun, siapa yang telah memandulkan MBS? Padahal dengan MBS peran serta masyarakat akan semakin baik dan akan menghilangkan kecurigaan masyarakat terhadap pengelolaan dana yang sudah dibayarkan oleh masyarakat. Tugas kepala sekolah pun menjadi lebih ringan.</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/willyedi.wordpress.com/184/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/willyedi.wordpress.com/184/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/willyedi.wordpress.com/184/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/willyedi.wordpress.com/184/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/willyedi.wordpress.com/184/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/willyedi.wordpress.com/184/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/willyedi.wordpress.com/184/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/willyedi.wordpress.com/184/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/willyedi.wordpress.com/184/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/willyedi.wordpress.com/184/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=willyedi.wordpress.com&blog=621604&post=184&subd=willyedi&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://willyedi.wordpress.com/2009/07/28/mbs-yang-dimandulkan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/127dd01fb39cd32a3e6c7b17f654b354?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">willyedi</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>