Mengubah Paradigma Sekolah Favorit

September 30, 2009

Sekilas penulis mengamati keberadaan sebuah sekolah favorit tingkat SMP di sebuah kota. Sekolah tersebut menjadi harapan keberhasilan pendidikan anak-anak sekolah dasar di sekitarnya. Sekitar 70 persen anak sekolah dasar di kota itu menginginkan dapat duduk di sekolah itu setelah tamat SD.
Ternyata sebagian besar dri mereka, para calon siswa yang mendambakan bisa memasuki sekolah tersebut adalah karena sekolah itu selalu tampil dalam kegiatan-kegiatan di kotanya. Ada kelompok ekstrakurikuler yang selalu ditampilkan oleh sekolah itu yang dikenal oleh masyarakat. Hal itu sajalah yang menjadi alasan mereka.
Dalam sebuah kesempatan, penulis berhasil menghubungi siswa-siswa yang duduk di kelas terakhir di sekolah tersebut. Cerita mereka mengenai kegiatan belajar di sekolah tersebut ternyata sangat mengejutkan. Dikatakan oleh mereka bahwa setengahnya mereka kecewa karena di sekolah itu ternata tidak seperti yang ada dalam pikiran mereka dulu yang dibacanya dari brosur yang mereka baca. Di sekolah itu tidak ada laboratorium, internet yang sangat terbatas tidak seperti dalam promosinya, kegiatan ekstrakurikuler tidak sebanyak yang dipromosikan, koleksi perpustakaan tidak memadai, dan yang paling parah, sebagian guru-gurunya tidak layak mengajar dan sebagian kecil guru yang lain terlalu sering menghindari kelas alias tidak mengajar.
Sekolah favorit dilahirkan bukan oleh kinerja sekolah itu, melainkan disebabkan oleh imaji masyarakat tentang sekolah itu. Kalau kita membaca novel Laskar Pelangi karya Andrea Hirata, tentu bisa mengambil contoh sekolah perusahaan yang selalu dielu-elukan oleh masyarakat dalam setiap acara karena penampilan kelompok drumband yang selalu mempesona mereka dengan suara yang menggelegar dan pakaian seragam pemainnya yang menyolok. Sekolah seperti itulah yang mampu menjual imaji sebagai sekolah favorit. Apalagi sekolah itu dibiayai oleh perusahaan besar sehingga segala sarana-prasarana dan gurunya disiapkan oleh perusahaan.
Lahirnya sekolah favorit yang lain adalah statistika kelulusan dan statistika alumni yang berhasil melanjutkan ke sekolah yang lebih tinggi. Hal ini merupakan parameter yang tidak tepat. Masalah tingkat kelulusan pada saat ini lebih disebabkan oleh keberuntungan memilih jawaban dalam ujian nasional. Tidak ada standar lain selain nilai ujian nasional yang menjadi penentu kelulusan. Walaupun dalam teori dapat saja sekolah menyatakan seorang siswa tidak lulus meskipun hasil ujian nasionalnya bagus, pada kenyataannya hal itu jarang terjadi. Yang membukit adalah usaha meluluskan siswanya sebanyak-banyaknya tanpa memperhatikan proses belajar. Yang terjadi adalah berbagai kecurangan pelaksanaan ujian nasional seperti yang diberitakan di berbagai media massa pada setiap akhir tahun ajaran.
Barangkali parameternya yang salah, seharusnya sekolah bagus dan favorit adalah sekolah yang bisa menghasilkan anak-anak yang sehat jasmani dan rohani, kreatif dan inovatif, anak-anak yang bahagia, anak-anak yang selalu cerah ceria, yang membuat lingkungan di mana dia berada ikut cerah ceria juga. Namun kalau kita lihat anak-anak sekolah saat ini justru lebih banyak diliputi rasa takut tidak lulus pada saat-saat akhir menjelang ujian nasional. Bahkan tidak sedikit guru atau kepala sekolah yang bahkan menakut-nakuti mereka dengan vonis tidak lulus kalau tidak belajar.
Pada tahun terakhir sekolah, para siswa selain dibebani dengan ketakutan tidak lulus, juga mulai dikurangi rasa gembiranya dengan pembatasan atau bahkan larangan mengikuti kegiatan-kegiatan ekstrakurikuler atau saran supaya mengikuti kegiatan di luar sekolah. Guru dan sekolah bahkan sudah membuat program kegiatan belajar tambahan di luar jam belajar reguler untuk mengejar ketertinggalan materi pelajaran. Kapan waktu mereka untuk bergembira dan berkreativitas jika pagi mereka harus belajar di kelas yang membosankan, kemudian dilanjutkan dengan tambahan pelajaran di sore hari yang lebih membosankan. Repotnya lagi pelajaran tambahan itu diberikan juga untuk mata pelajaran yang diajarkan oleh guru yang kreatif sehingga kelas malah menjadi kelas yang membosankan.
Sekolah yang memiliki statistik lulusan yang melanjutkan ke sekolah yang lebih tinggi atau yang berhasil melanjutkan ke perguruan tinggi dengan prosentasi tinggi, tidak menjadi jaminan bahwa sekolah itu bagus. Memanglah bahwa sekolah yang dikatakan favorit biasanya diikuti dengan tingkat persaingan masuk yang ketat dan juga seringkali disusupi oleh berbagai kepentingan sekelompok orang kaya dan orang yang memiliki jabatan untuk menyekolahkan anaknya di sekolah tersebut. Orang kaya dan pejabat berpendidikan tinggi tentu berani membayar mahal untuk pendidikan anak-anaknya. Yang penting anaknya bisa masuk di sekolah favorit.
Karena sekolah seperti itu banyak dihuni oleh anak-anak pejabat dan orang kaya, maka pihak pemerintah pun tidak akan segan-segan menggelontorkan berbagai proyek dan sejumlah dana untuk sekolah itu. Tentu saja sistem pendidikan di rumah/bimbingan orang tua terhadap anak-anaknya akan sangat berbeda pada keluarga mampu dan yang tidak mampu. Akan berbeda pula cara mendidik pada orang tua yang berpendidikan tinggi dengan yang berpendidikan rendah. Hal terakhir inilah yang sebenarnya lebih banyak menentukan tingkat kelulusan siswa dalam ujian nasional.
Cerita sekolah pinggiran seperti SD Muhammadiyah di Belitong dalam novel Laskar Pelangi sangat mungkin terjadi. Namun akan lebih banyak berdiri sekolah pinggiran yang bagus apabila pemerintah tidak membeda-bedakan perlakuan terhadap sekolah-sekolah pinggiran tersebut. Kita bisa menyaksikan perbedaan yang signifikan ketika menyaksikan sekolah pinggiran yang buruk, guru yang kurang, sarana-prasarana yang minim, dan berbagai keterbatasan lain dibandingkan dengan sekolah di kota yang menjadi sekolah favorit yang dilengkapi dengan berbagai sarana-prasarana yang berlebih, dan juga guru yang cukup.
Sekali lagi, seharusnya sekolah bagus dan favorit adalah sekolah yang bisa menghasilkan anak-anak yang sehat jasmani dan rohani, kreatif dan inovatif, anak-anak yang bahagia, anak-anak yang selalu cerah ceria, yang membuat lingkungan di mana dia berada ikut cerah ceria juga. Dan yang paling penting lagi, adalah sekolah yang mampu menciptakan lulusan yang mandiri, yang tidak menjadi beban negara ketika lulus dan harus mencari pekerjaan.

Entry Filed under: Artikel. Tags: , , .

Leave a Comment

Required

Required, hidden

Some HTML allowed:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Recent Comments

mfiqri on Membedah Otak Einstein
rera on Sertifikasi Guru, Bumerang bag…
Willy Ediyanto on Sertifikasi Guru, Bumerang bag…
bayu putra on Sertifikasi Guru, Bumerang bag…
Willy Ediyanto on Sertifikasi Guru, Bumerang bag…

Archives

Blogroll

Top Posts

Categories

Blog Stats

 

September 2009
M T W T F S S
« Aug   Oct »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
282930  

Recent Posts

Pages

Meta