Tak Layak Kita Marah

August 29, 2009

Menghadapi klaim bangsa Malaysia terhadap seni dan budaya kita, berjuta orang menghujatnya. Ini menunjukkan bahwa bangsa Indonesia masih mempunyai rasa memiliki walaupun hanya sekadar rasa memiliki. Pada kenyataannya, kita jauh dari budaya-budaya yang diributkan itu, kecuali sekelompok kecil masyarakat yang melibatkan diri dalam budaya itu. Pada kenyataannya, kita masih suka membeli kaset bajakan dan menggunakan software bajakan. Yang tidak pernah mau kita lakukan adalah membeli dan memakai sepeda motor dan mobil buatan Indonesia. Membajaknya pun kita tidak pernah mau. Kita lebih bangga menggunakan sepeda motor buatan Jepang. Saya sedih menyaksikan tak ada sepeda motor atau mobil buatan dan merek Indonesia yang berkeliaran di jalan-jalan di negeri ini. Namun begitu terkejut ketika bea cukai Pilipina menemukan senjata butan Pindad, Indonesia.
Kita tidak perlu marah berlebihan terhadap Malaysia meskipun Sipadan dan Ligitan sudah mereka rebut, Ambalat sudah di depan mulut Malaysia. Pada kenyataannya orang-orang kita sendiri menjual pulau-pulau kecil yang ada di berbagai provinsi di Indonesia.
Kita tidak perlu marah terhadap Malaysia karena Malaysia mengusir TKI ilegal, atau bahkan menyiksa mereka dan videonya beredar di internet. Pada kenyataannya, kita tidak mempunyai lapangan kerja untuk mereka. Kita masih melihat orang yang berbondong-bondong menjadi pengemis, berbondong-bondong memperebutkan zakat yang dibagikan oleh orang-orang kaya, dan berebut menerima BLT dan raskin. Pada kenyataannya, sebagian masyarakat kita terusir dari tanahnya di Sidoarjo, di Papua, di Aceh, di Ambon, dan masih banyak lagi.
Namun kita berlu meneriakkan nasionalisme kita dan menuntut pemerintah untuk bersikap tegas ketika lagu Indonesia Raya diplesetkan, dan ketika Malaysia mengirimkan Noordin M. Top dan Dr. Ahzari ke Indonesia untuk mengacaukan keamanan di negeri ini.
Pada bagian awal, mungkin Anda kecewa dengan tulisan ini. Namun, saat ini, mari kita galang dukungan untuk berbuat sesuatu yang berarti bagi negeri ini. Mari kita jadikan Malaysia sebagai salah provinsi di NKRI. Menjadikan Malaysia bagian dari NKRI. Tampaknya, dengan cara ini Malaysia akan lebih senang.
Mari kita hidupkan lagi semangat IGOS (Indonesia Goes Open Source), mari kita dirikan perusahaan otomotif. Mari kita gunakan produk dalam negeri. Kita hujat orang-orang yang dengan bangganya memamerkan diri ketika menggunakan baju, jam tangan, sepatu bermerek luar negeri. Saya ingin menaiki sepeda motor buatan Indonesia, tapi tak pernah saya menemukannya????
Sedih lagi.
Seharusnya kita marah pada diri kita sendiri.

Entry Filed under: Uncategorized. Tags: , , , , , , , , .

2 Comments Add your own

  • 1. Alan Chow  |  September 4, 2009 at 8:28 am

    Pleasee take a wider view of events. Not all Malays are racists and not all non Malays non racists:

    http://takemon.wordpress.com/

    A C

    Reply
  • 2. Willy Ediyanto  |  September 4, 2009 at 12:11 pm

    So I say, that we, Indonesian may not angry with Malaysian. I am sure that not all Malaysian are racist like you say. Please read may oppinion carefull, OK! Donn’t be angry.

    Reply

Leave a Comment

Required

Required, hidden

Some HTML allowed:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Recent Comments

Tika on Diklat Penggunaan Modul MGMP…
mfiqri on Membedah Otak Einstein
rera on Sertifikasi Guru, Bumerang bag…
Willy Ediyanto on Sertifikasi Guru, Bumerang bag…
bayu putra on Sertifikasi Guru, Bumerang bag…

Archives

Blogroll

Top Posts

Categories

Blog Stats

 

August 2009
M T W T F S S
« Jul   Sep »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31  

Recent Posts

Pages

Meta