Sepakbola dan Ambalat
June 5, 2009
Dunia persepakbolaan Indonesia cukup menarik dan sangat menggairahkan. Menarik dengan bukti banyaknya peminat sepakbola maupun layanan tontonan sepakbola di televisi. Luar biasanya, sepakbola di Indonesia berkembang dengan prestasi minim. Apakah memang benar sulit menjacari sebelas orang pemain hebat di antara dua ratus juta orang penduduk Indonesia, atau karena lemahnya menejemen persepakbolaan kita. Yang jelas, olah raga dengan banyak peminat ini, cukup sering dikotori oleh perkelahian di lapangan maupun di luar lapangan. Bahkan perkelahian itu, seringkali terjadi di antara sesama penonton yang tidak terlibat dalam pertandingan.
Saat ini, ketika negeri kita disibukkan oleh kasus TKI di Malaysia, kasus Manohara, dan kasus Ambalat, tidak banyak yang dapat kita perbuat. Kasus TKI sepertinya hanya jadi berita sekilas dan kemudian dilupakan. Manohara yang bukan orang kebanyakan dan bukan pula TKI, harus mengalami perlakuan yang sama dengan TKI di Malaysia. Seperti pengakuan Manohara yang tidak mendapatkan pelayanan dari Kedubes RI di Malaysia hanya karena hari libur.
Dalam kasus darurat, seperti kasus Manohara yang melapor pada hari libur, tidak semestinya dibiarkan dengan alasan libur. Seperti juga kasus kecelakaan transportasi yang dapat saja terjadi setiap saat, tidak wajar jika pihak rumah sakit, ataupun kepolisian menunda penanganan korban kecelakaan hanya karena saat itu hari Minggu atau kecelakaan terjadi di luar jam kerja. Meskipun libur, tentu tidak elok jika seorang dokter menolak pasien yang datang dalam keadaan sakit parah walau hanya untuk sekadar memberi saran agar membawanya ke unit gawat darurat tanpa melakukan tindakan penyelamatan.
Masih melekat dalam pikiran kita, bagaimana anak-anak SD diajari mengenai PPPK (Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan). Si anak dilatih atau diajari bagaimana mengatasi kecelakaan dengan memberikan pertolongan pertama bagi korban kecelakaan. Walaupn mereka harus bergidik melihat darah yang berceceran, tidak ada penolakan dari mereka untuk menolong korban kecelakaan walaupun sebatas teori. Namun nampaknya semua itu luntur seiring perubahan waktu. Kasus TKI dan Manohara semestinya menjadi bahan perenungan untuk kembali menempatkan manusia pada posisi yang semestinya, mengutamakan moral dan empati, meskipun hari libur. Tentunya bukan hanya terhadap Manohara, tetapi juga bagi warga negara lainnya termasuk TKI kita di sana atau di mana pun.
Berbeda dengan kasus sepakbola, maka penanganan kasus Ambalat seperti menyimpan bara dalam sekam. Malaysia sudah belajar dari kasus Timor Leste, pulau Sipadan dan Ligitan. Tidak mustahil kasus yang sama akan terjadi juga di kepulauan pinggiran yang lain. Papua pun tidak mustahil akan mengalami kasus yang sama. Apalagi menurut berita terakhir, Malaysia didukung oleh beberapa negara lain yang tentunya memilii kepentingan dengan Ambalat.
Sangat menciutkan nyali ketika sebuah stasiun televisi membandingkan kekuatan militer kedua negara yang mengalami gesekan ini. Dari segala sisi, Malaysia jauh lebih unggul dibandingkan dengan kekuatan militer Indonesia. Padahal dari segi jumlah penduduk, Indonesia adalah raksasa di hadapan Malaysia. Akankah sanggup Indonesia mempertahankan Ambalat?
Akhirnya kembali ke masalah komitmen penguasa negeri ini. Di saat mereka memperebutkan kursi pemerintahan, berusaha membujuk masyarakat Indonesia untuk memilihnya, belum terdengar satu pun calon presiden atau wakil presiden yang bersikap terhadap kasus Ambalat. Jangan-jangan mereka takut kalah karena di belakang kasus Ambalat adalah beberapa negara besar yang berkepentingan dengan minyak dan gas alam. Negara besar itu sudah maju dalam segala hal termasuk perhitungan perkiraan tercapainya teknologi maju yang tidak tergantung lagi pada minyak dan gas alam. Sampai beberapa belas atau beberapa puluh tahun yang akan datang, saat krisis minyak bumi benar-benar terjadi, teknologi pengganti mesin yang tidak menggunakan BBM belum bisa menggantikan mesin-mesin yang sudah ada. Kekhawatiran inilah yang mendorong Malaysia dan sekutunya menguasai Ambalat yang seperti seorang anak telantar yang tidak mendapat perhatian orang tuanya. Tentu tidak salah kalau ada orang yang memungut anak telantar. Akan tetapi yang lebih penting lagi adalah betapa berdosanya orang tua yang menelantarkan anaknya.
Energi yang banyak disia-siakan untuk tawuran di lapangan sepakbola sudah semestinya dikumpulkan dan disatukan untuk menghadapi konflik dengan Malaysia. TNI kita sangat memerlukan bantuan seluruh bangsa ini. Saat konfrontasi dengan Malaysia pada pemerintahan Presiden Sukarno, mestinya jangan sekali-kali dilupakan. Kita mampu bila kita bersatu. Buktinya kita berhasil merdeka berkat persatuan seluruh bangsa ini.
Sebelum konflik terbuka benar-benar terjadi, sudah saatnya para pejabat negeri ini memiliki visi yang sama. Hindarkan konflik internal. Kita kembali ke buku-buku pelajaran di SD dahulu. Walaupun tidak ingin berpromosi, alangkah baiknya bila seluruh bangsa ini selalu menyaksikan kuis “Are You Smarter Than a 5th Grader yang disiarkan di sebuah stasiun televisi setiap Sabtu malam.
Bagaimana?
Entry Filed under: Artikel. .
4 Comments Add your own
Leave a Comment
Some HTML allowed:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>
Trackback this post | Subscribe to the comments via RSS Feed
1.
Sawali Tuhusetya | June 10, 2009 at 3:49 pm
pak willy, banyaknya kasus anomalis sosial yang berlangsung di negeri ini memang menggambarkan betapa bertanya beban yang mesti dipukul bangsa ini. dibutuhkan sosok pemimpin yang memiliki kepekaan dalam menyelesaikan masalah2 berbangsa dan bernegara sehingga permasalahan yang menumpuk tak lagi mengerak dan memfosil. btw, insyaallah salamnya akan saya sampaikan ke mas aslam. salam dari jawa.
2.
Willy Ediyanto | June 12, 2009 at 12:54 pm
TErima kasih atas bantuannya.
3.
Ersis Warmansyah Abbas | June 26, 2009 at 4:21 pm
Hmmm … mendukung Pak Willly aja
4.
Willy Ediyanto | June 29, 2009 at 8:06 am
Makasih atas dukungannya. Tapi bukan dukungan jadi presiden, kan?