Kata yang Luar Biasa
May 26, 2009
Hari ini, Selasa, 26 Mei 2009. Pagi aku mendapatkan berita kematian. Segera aku menuju rumah duka yang sudah kukenal. Tak ada yang menarik untuk diceritakan.
Aku tidak mengikuti rombongan pengantar hingga ke kuburan. Aku melanjutkan perjalanan ke tempat kerjaku. Dan akupun segera menyelesaikan pekerjaan mempersiapkan berkas usulan Penetapan Angka Kredit (PAK) istri. Selesai mempersiapkan, aku segera pergi ke tempat fotokopi. Sampai di sana aku bertemu dengan Mr. Black, seorang guru. Kusapa dia dengan kata-kata canda yang tak terduga reaksinya.
“Jujur ora? Masa guru agama ora jujur? ….” Candaku
Luar biasa, reaksi kata-kata itu menimbulkan kemarahan yang luar biasa pada diri Mr. Black. Dia menanyakan apa maksudnya dengan kata jujur dan guru agama.
Lalu aku menyudahinya dengan meninggalkannya untuk menyelesaikan urusanku.
Pembaca, tahu tidak, bahwa sertifikasi guru membawa dampak perilaku tidak jujur pada sebagian guru.Tampaknya hal ini sudah disadari oleh para anggota tim penilai sertifikasi guru. Akibatnya untuk sertifikat diklat harus dilampirkan sertifikat asli. Celakanya sertifikat asli pun masih dapat dipalsukan dengan adanya teknologi scanner dan computer serta software pengolah gambar. Ini saya tidak melakukan omong kosong. Dan yang melakukan adalah guru, lebih tepatnya guru madrasah. Memang bukan guru mata pelajaran agama, tapi halitu pun mungkin sekali terjadi.
Itulah yang terjadi. Tampaknya Mr. Black ini yang tersinggung karena melakukan kecurangan dalam mengumpulkan berkas sertifikasi. Saat itu dia memang sedang membawa berkas sertifikasi. Ah, tapi itu tidak bisa dibuktikan. Hanya asumsi saja bahwa orang akan tersinggung jika kita mengatakan apa-apa tindak penyimpangan yang dilakukannya. Rasanya, inilah yang terjadi pada diri Mr. Black.
Dari uraian itu kita dapat menduga bahwa kecurigaan ICW terhadap pelaksanaan ibadah haji, system akuntansi yang dikelola oleh sarjana agama, penuh dengan hal-hal yang mencurigakan. Mengapa penanggung jawab administrasi keuangan tidak diserahkan kepada akuntan saja? Itu pertanyaannya.
Kecurigaan saya, Departemen Agama hanya sekadar tempat berlindung. Mau dikemanakan ribuan pegawai dan sarjana agama itu kalau departemen ini diisi oleh bukan sarjana agama?
Huh!
Entry Filed under: Omelan. .
1 Comment Add your own
Leave a Comment
Some HTML allowed:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>
Trackback this post | Subscribe to the comments via RSS Feed
1.
Urip.WP.Com | June 4, 2009 at 11:50 pm
Yah… kadang ada orang bangga dengan prilaku tidak benarnya, seolah itu syah, karena tidak ketahuan. Sama halnya orang bilang mencuri itu halal asal tidak ketahuan orang. Tapi itu ukuran diri sendiri, dan atas kebaikan teman-temannya yg berbaik hati karena tidak melaporkan kecurangannya. Semestinya ia berterimakasih atas “kebaikan hati” teman yg tidak melaporkannya itu.
Maka-nya saya waktu sertifikasi yah seadanya saja (karena tidak sempat menipu) toh dengan diklat begitu saja udah dapat setrtifikat.
BTW kadang “diam” itu emas lho pak. Makanya kita “diam” saja, tapi bertindak lebih saja. Mikir khan artinya… saya juga gak ngerti apa maksud saya heheheh