Negeri (Orang) Depresi
April 23, 2009
Pada tahun 2007, sekelompok guru yang ingin berbuat jujur dalam pelaksanaan Ujian Nasional harus mencucurkan air mata. Mereka menjadi pelaku sekaligus korban kebijakan pemerintah. Mereka ingin Ujian Nasional berjalan jujur, namun kebijakan pedang bermata dua itu menjadikan mereka korban. Mereka harus tersingkir karena mereka tidak memiliki kekuatan.
Tahun berikutnya hal yang sama terjadi. Memang tidak ada komunitas Air Mata guru, namun sebagian dari kelompok ini mencucurkan air mata karena standar kelulusan yang lumayan tinggi untuk kondisi pendidikan di negeri ini.
Lihat saja data ini. Terlepas dari setuju atau tidak setuju dengan sikap anggota Komunitas Air Mata Guru di Sumatra, pada tahun 2008 ini, air mata guru kembali meleleh dengan deras. Melelehnya air mata guru bukan untuk kecurangan dalam pelaksanaannya, melainkan karena cukup tingginya angka ketidaklulusan siswa SMA-SMK dan SMP/MTs. Di Kotawaringin Barat saja, angka ketidaklulusan itu mencapai 371 dan 211 siswa. Bandingkan dengan tingkat kelulusan SD yang hampir seratus persen.
Pada tahun ini, ada banyak ketegangan yang menyebar di masyarakat. Pertama setelah dilakuinya tanggal 9 April 2009, cukup banyak calon anggota legislatif yang gagal merasa depresi. Berita di media massa tidak cukup mewakili jumlah mereka. Kemudian pada minggu berikutnya ketika anak-anak muda yang harus depresi karena menghadapi Ujian Nasional di SMA/MA/SMK yang dilanjutkan dengan Ujian Nasional tingkat SMP/MTs dan selanjutnya tingkat SD/MI.
Saat menulis artikel ini, diberitakan di media massa seorang anak muda yang harus jatuh pingsan karena merasa stress menghadapi soal ujian yang dirasa (sangat) berat. Lihatlah, anak-anak muda sampai orang dewasa di negeri ini harus menghadapi ujian yang begitu berat. Belum lagi terhitung orang miskin yang harus jadi korban pembagian zakat maut yang merenggut korban jiwa.
Di sisi lain, orang-orang miskin itu berdesak-desakan mengantre pembagian BLT. Sementara itu orang-orang besar mempermasalahkan pembagian BLT itu sebagai bantuan yang membantu orang miskin dan yang lain beranggapan bahwa BLT itu tidak mendidik masyarakat. Mereka tidak sepenuhnya memihak kepada masyarakat, yang lebih dapat dirasakan adalah nuansa politis demi popularitas partai. Kita masih bisa menyaksikan pedagang kecil dan pedagang kaki lima yang berusaha hidup dengan segala kemampuannya harus dikejar-kejar aparat karena dianggap mengganggu ketertiban. Sementara di balik kaca-kaca etalase, orang-orang kaya dengan dingin menyaksikan mereka dan dengan pandangan jijik.
Pengamat ekonomi meneriakkan masalah kemandirian ekonomi tanpa berpihak kepada mereka yang tersisih dari jalan-jalan, dari tempat-tempat mereka berusaha. Limit keuntungan yang tidak seberapa yang dapat diraih oleh pada laskar madiri itu harus bersaing keras dengan pasar-pasar modern yang menawarkan barang-barang kualitas dunia.
Kalau dikumpulkan, penyebab depresi masayarakat di negeri ini tidak akan cukup di halaman yang terbatas ini. Hanya kemudian akan tampak bahwa janji-janji semasa kampanye bahwa mereka akan membela rakyat, akan menguap begitu saja. Tidak banyak dari mereka yang berani menuliskan janji-janjinya di media massa sehingga bisa dijadikan bukti oleh masyarakat untuk mengingatkan mereka dengan janjinya kepada masyarakat. Semuanya akan hilang bersama angin.
Dalam masalah ini, negeri ini tidak sendirian. Banyak negara lain yang juga mengalaminya. Tinggal seberapa jauh daya tahan negara-negara itu terhadap keadaan yang tidak menyenangkan ini. Yang patut disayangkan adalah bahwa depresi di negeri ini seolah-olah sengaja diciptakan dan dibebankan kepada anak-anak remaja yang masa depannya masih panjang. Mungkin perlu juga diperhatikan dampak bagi masa depan anak-anak muda itu. Apakah mereka demikian kuat untuk dapat melalui masa muda yang menekannya atau tidak.
Kalau banyak pakar yang mengatakan bahwa tontonan yang berisi kekerasan bisa mempengaruhi jiwa anak, tentunya sikap pemerintah yang membuat anak-anak itu depresi akan mengajari mereka bahwa yang seperti itulah yang benar dan yang seperti itulah yang harus dilakukan untuk anak-anak muda generasi berikutnya.
Sungguh mengerikan membayangkan masa depan mereka. Kita bisa menyaksikan anak-anak di negara-negara maju mulai membalikkan keadaan untuk kembali ke harmoni. Tetapi kita saat ini malah mengarah pada kehancuran. Acara televisi yang tidak bermutu dan meninabobokan anak-anak muda sangat mungkin begitu mendalam tertanam dalam jiwa anak-anak muda sekarang.
Dalam menghadapi Ujian Nasional pada tahun ini yang semakin berat karena batas minimal nilai kelulusan yang lebih tinggi, membuat banyak pihak yang dipusingkan. Tampaknya masalah Ujian Nasional ini harus dikaji ulang oleh para ahli evaluasi pendidikan yang duduk bersama pemerintah. Keduanya harus dipertemukan dalam meja yang sama untuk mencapai kesepakatan, jangan ada yang merasa lebih berkuasa atau lebih hebat. Arah pendidikan harus dikembalikan kepada tujuan semula. Kegembiraan anak-anak muda jangan lagi direbut sehingga mereka menjadi anak-anak muda yang pemurung.
Bagaimana menurut Anda?
Willy Ediyanto
Praktisi pendidikan,
penulis buku
“Guru Menggugat Mutu Pendidikan”
Entry Filed under: Artikel. Tags: depresi, UN, Ujian Nasional, PHK, Air Mata Guru, standar, kelulusan, standar kelulusan.
3 Comments Add your own
Leave a Comment
Some HTML allowed:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>
Trackback this post | Subscribe to the comments via RSS Feed
1.
With This Diet I Was Able to Lose T h i r t y P o u n d s in Only a Month | May 6, 2009 at 7:05 pm
Hi, nice post. I have been wondering about this issue,so thanks for blogging. I’ll probably be subscribing to your site. Keep up the good posts
2.
ey_coss | May 17, 2009 at 4:43 am
Link Q jg Za…
3.
Willy Ediyanto | May 17, 2009 at 8:33 am
Yap.