Curhatnya seorang aktivis organisasi pendidikan
April 19, 2009
Sabtu malam, 18 April 2009, aku mengajak keluargaku menyaksikan acara kuis Are You Smarter than a 5th Grader di sebuah stasiun televisi. Seperti biasa, aku mengajak anak-anak untuk menjawab beberapa pertanyaan yang ditayangkan. Kemudian kami akan saling mengolok-olok jika ada di antara kami yang tidak bisa menjawab. Begitu pun aku, sebagai ayah tidak akan malu jika tidak bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan yang ada. Aku membiarkan anak-anak mengejekku.
Sabtu itu, yang tampil menjadi peserta adalah Desta, seorang presenter televisi. Aku sangat antusias menyaksikan kecerdasan dan kegembiraannya. Begitu juga, di setiap acara kuis itu, aku sangat menyukai kecerdasan, kegembiraan, dan antusiasme anak-anak SD kelas lima yang menjadi siswa-siswa pilihan untuk membantu peserta kuis. Kemudian aku berandai-andai, andai saja kelas di Indonesia bisa menampilkan keseriusan belajar dengan kegembiraan, mungkin sekali akan mampu menghasilkan anak-anak cerdas yang gembira.
Di saat asyik menyaksikan Desta berjuang untuk menjawab sepuluh pertanyaan yang ditayangkan silih berganti dan kemudian dia harus mengalah, drop out karena tidak mampu menjawab beberapa pertanyaan terakhir, aku mendengar ada ketukan halus di pintu depan rumah. Aku bergegas membukanya dan aku melihat ada seorang laku-laki dan seorang perempuan berdiri di depan pintu. Yang perempuan dengan sopannya mengucapkan salam. Aku tidak ingat menjawabnya atau tidak, hanya ada sedikit keterkejutan karena ditangannya ada sebuah buku.
Belum hilang karena keterkejutanku, aku segera mempersilakan mereka masuk dan aku minta izin sebentar untuk memakai baju. Ya saat itu udara sangat panas dan aku hanya memakai sarung dan kaus dalam. Jadi aku segera ke kamarku untuk memakai baju. Dalam pikiranku yang masih terkejut, dugaanku atas kedatangan mereka adalah mau komplain atas-tulisan-tulisanku. Maklum kan karena yang ada di tangan perempuan itu adalah buku kumpulan tulisanku yang berjudul “Guru Menggugat Mutu Pendidikan” – Kok pakai yang berjudul, memangnya ada buku yang lain?
Kalau Anda pernah berkunjung ke blog saya, atau membaca tulisan-tulisan saya di media massa, tentu akan paham, dan mungkin Anda pun termasuk di dalamnya. Tulisanku, menurut perempuan itu, cukup tajam. Saya memang mengkritisi keadaan dunia pendidikan dengan cukup tajam dan keras.
Sebagai contoh, saya sangat khawatir ketika tulisan yang berjudul “Ekskul sebagai Kedok” dimuat di sebuah surat kabar. Di dalamnya saya menulis masalah guru yang melecehkan beberapa siswinya dengan memanfaatkan kegitan perkemahan pramuka. Sepanjang sidang atas kasusnya yang saya ikuti di surat kabar, si pelaku atau tertuduh denganlantang berteriak akan menuntut balik orang-orang yang telah memfitnahnya, yang telah mencemarkan nama baiknya. Saat itu, tertuduh belum divonis bersalah. Saya merasa sangat khawatir seandainya ancamannya itu benar-benar terjadi dan dia bebas dari segala hukuman kemudian menuntut saya. Bagaimanapun saya cukup awam dengan dunia hukum.
Setelah mereka memperkenalkan diri, barulah aku merasa sangat lega, karena ternyata perempuan itu adalah aktivis organisasi pendidikan yang sangat mengapresiasi tulisan-tulisan saya di buku yang telah diterbitkan yang saat itu ada ditangannya. Kemudian perempuan itu mengungkapkan unek-uneknya yang selama ini tersalurkan melalui cerobong asap. Mengepul deras tanpa henti dan tampak berwarna hitam tapi setelah itu hilang. Banyak orang yang batuk karena polusi udara dari asap yang keluar dari cerobong itu, tapi kemudian dilupakan orang-orang. Tidak ada bukti tindak lanjut dari berbagai usulnya, seperti mereka yang batuk-batuk karena polusi udara dari cerobong asap itu yang kemudian sembuh dengan sendirinya tanpa diobati.
Pendek kata, perempuan itu memuntahkan segala isi pikiran dan hatinya mengenai masalah pendidikan. Masalah yang paling ditekankan adalah kondisi pendidikan anak usia dini dan guru-guru honorer di sekolah-sekolah pedesaan yang sangat memprihatinkan. Juga mengenai anak-anak usia sekolah yang berada di persimpangan antara kebijakan wajib belajar, pendidikan gratis, dan peran orang tua yang tidak sepenuhnya membiayai pendidikan. Orang tua menganggap pendidikan gratis berarti orangtua tidak mengeluarkan uang sedikit pun, sementara bagi sekolah swasta, wajib belajar dan pendidikan gratis adalah pedang bermata dua yang siap membunuh sekolah. Di sisi lain, pemerintah pun tidak serius menggratiskan pendidikan. Pemerintah hanya berkutat pada alokasi dana BOS, BOP, dan grant-grant yang lain. CSR terhadap pendidikan tampaknya tidak berjalan. Pendidikan gratis membunuh sekolah swasta, itu kesimpulan yang dapat ditarik. Bahkan di surat kabar pun dikatakan bahwa dengan adanya dana BOS dan sejenisnya justru menurunkan kesejahteraan guru. Guru yang biasanya mendapat tambahan honorarium dari SPP yang dibayarkan oleh siswa, tidak dapat diperoleh lagi karena dana BOS tidak bisa digunakan untuk membayar honor guru, termasuk honor kelebihan jam mengajar bagi-guru-guru pegawai negeri.
Kondisi itu sangat menyakitkan sekolah swasta karena dengan kebijakan itu mengakibatkan banyak guru honor yang kemudian memilih mengundurkan diri.
Hitungan logisnya, seorang tukan cuci – saya tidak tahu pasti – mendapatkan upah sekitar Rp 150 ribu, itu wajar, lalu seorang guru TK mendapatkan honorarium sebesar Rp 75 ribu. Juga dikatakan itu wajar karena jam mengajarnya hanya dua jam.
Sakit hati perempuan di hadapanku memuncak sambil mengatakan, seorang guru honor mendapatkan upah jauh di bawah UMR dan itu dikatakan wajar. Lupakah mereka, para pembuat kebijakan itu bahwa seorang guru tidak hanya cukup mengajar di depan kelas? Lupakah merka bahwa seorang guru memeiliki pekerjaan ekstra, yaitu mempersiapkan rencana pembelajaran, media belajar, dan alat evaluasi yang tidak mungkin dikerjakan sambil mengajar di kelas? Bukankah itu semua hanya bisa dilakukan di luar jam mengajar?
Bandingkan dengan seorang tukang cuci yang bebas tugas setelah ia menyelesaikan cuciannya. Mereka tidak dituntut membuat perencanaan kerja, media kerja, dan evaluasi kerja secara formal. Wajar bukan jika kemudian akhir dari kegiatan belajar adalah guru mengundurkan diri, siswa tidak suka belajar, dan sejenisnya?
Selesai curhat, perempuan itu menitipkan pesan agar beberapa gagasannya bisa jadi bahan tulisan saya di waktu-waktu mendatang. Dia menyadari kemampuannya berbicara tidak diimbangi dengan kemampuan menulis. Dia sangat merasa sayang karena baru kenal dengan saya pada malam itu setelah membaca buku saya.
Yang luar biasa dari pertemuan itu adalah kanyataan bahwa laki-laki yang bersamanya – suaminya – diam saja selama istrinya berbicara sekitar satu jam. Saya tidak sanggup untuk menahan melontarkan pujian “Bapak ini hebat, mau mengantarkan istrinya hanya untuk menemui seorang penulis yang tidak dikenalnya”. Dan seperti biasanya, laki-laki itu tidak banyak berbicara.
Entry Filed under: Uncategorized. .
5 Comments Add your own
Leave a Comment
Some HTML allowed:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>
Trackback this post | Subscribe to the comments via RSS Feed
1.
pakhanung | April 21, 2009 at 9:29 am
silaturrahmi semoga bawa berkah
2.
Ida Arifah | April 22, 2009 at 6:18 am
maksih
3.
Willy Ediyanto | April 22, 2009 at 6:28 am
Trima kasih atas kunjungan Anda semua.
4.
john Deru | June 2, 2009 at 4:03 am
Guru jangan banyak protes donk ! Aku juga seorang PNS yang gajinya kecil, golongan kecil dan gak ada tambahan apa-apa, tapi aku tetp nrimo. Manusia gak akan pernah merasa cukup !!!
5.
Syarif Winata, ST | June 19, 2009 at 10:16 am
Wah sangat senang mendengar “coretan” pak willy.
Saya jadi ingat pak waktu terima gaji cuma 75ribu/bulan untuk mentransferkan ilmu.
Alhamdulilah saya masih ikhlas pak, tapi dibalik ke-ikhlas-an saya punya harapan semoga saya bisa dijadikan guru resmi oleh pemerintah