Apakah aku iri?

October 10, 2008

Lebaran 1427 Hijriyah ini aku tidak banyak melakukan kunjungan ke sesama muslim di sekitarku dan juga kepada kawan-kawanku. Namun karena satu keperluan, aku berkunjung ke rumah seseorang sekalian beridul fitri. Sebagimana biasa, aku ceplas ceplos saja membicarakan suasana hati dan suasana tempat kerja.
Orang yang kukunjungi itu sendiri adalah seorang guru yang mempunyai usaha sampingan sebuah toko. Aku tidak melihat dia meninggalkan kelas untuk urusan tokonya. Jadi aku merasa bebas berbicara di hadapannya.
Namun Jumat itu, 10 Oktober 2008, pulang kerja istriku bercerita bahwa orang yang tadi kuceritakan mengatakan bahwa aku iri terhadap kawan lain yang juga punya usaha. Aku memang bersikap keras terhadap dua kawan yang punya usaha sampingan ini. Kekerasanku karena mereka selalu meninggalkan kelas yang semestinya diajarnya setiap kali usahanya dijalankan. Saya berpendapat, mengapa pekerjaan itu tidak dipercayakan saja kepada anak buahnya. Dia cukup mengawasi. Pada saat jamnya mengajar, ya mengajar. Setelah itu terserah dia.
Puncaknya aku berinisiatif dan meminta tolong kepada seorang pegawai agar daftar hadir saja jika ada guru yang tidak hadir ke sekolah. Selama ini, di sekolahku, masuk atau tidak seorang guru, daftar hadir tetap ditandatangani. Ini berkaitan dengan uang lauk pauk. Jadi seorang guru yang tidak masuk tetap dianggap masuk dan dibayarkan uang lauk pauknya. Hal inilah yang menunjukkan ketidakadilan.
Apakah aku iri?
Secara pribadi si teman yang sering meninggalkan jem mengajar tentu akan mengatakan aku iri.kah Menurut saya, kalau memang saya iri, saya tidak perlu berlaku seperti itu. Kalau saya memang iri, saya akan mengikuti caranya. Kalau malas, atau ikut-ikutan membuka toko atau usaha lain, lalu meninggalkan kelas kalau ada pekerjaan. Kepala sekolah toh tak akan menegur saya kalau saya berlaku demikian.
Apakah saya iri?
Ya Allah, kalau benar aku iri, aku mohon ampunan-Mu. Jauhkanlah aku dari sifat iri ini. Niatku adalah ingin sekolah tempatku bekerja menjadi sekolah yang bagus. Guru-gurunya punya tanggungjawab yang besar untuk mencerdaskan bangsa. Apakah aku idealis? Apakah idealis itu buruk? Apa idealis menjadi sebuah utopia yang sudah tidak punya tempat lagi di sini?
Tolong jelaskan padaku.

Entry Filed under: Omelan. .

2 Comments Add your own

  • 1. elmuttaqie  |  October 23, 2008 at 2:03 pm

    anu mas…. sekedar konfirmasi aja.. 1427 H atau 1429 H, gak enak dong masa guru madrasah bisa sampe keliru dgn penanggalan hijriyah… apa kata dunia? hehehehehe…

    Kalo soal konten posting an sampeyan, saya milih no comment dulu deh… soalnya ni permasalahan emang rada sensitif dan perlu analisa mendalam dan menyeluruh, tdk hanya skedar snapshot belaka…

    Reply
  • 2. Willy Ediyanto  |  October 24, 2008 at 11:36 pm

    Walaaah, iya. Sekalian ini diralat jadi 1429 H.
    Maaf buat semua pembaca.

    Reply

Leave a Comment

Required

Required, hidden

Some HTML allowed:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Recent Comments

Tika on Diklat Penggunaan Modul MGMP…
mfiqri on Membedah Otak Einstein
rera on Sertifikasi Guru, Bumerang bag…
Willy Ediyanto on Sertifikasi Guru, Bumerang bag…
bayu putra on Sertifikasi Guru, Bumerang bag…

Archives

Blogroll

Top Posts

Categories

Blog Stats

 

October 2008
M T W T F S S
« Sep   Nov »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  

Recent Posts

Pages

Meta