BSE dan OLPC
October 9, 2008
Sudah banyak artikel yang membahas masalah buku sekolah elektronik (BSE) dimuat di surat kabar. Ada yang menyambut positif, ada yang menyambutnya secara negatif, dan ada pula yang tidak bereaksi. Program BSE, Mendiknas sendiri tidak mau menyebutnya sebagai program, adalah langkah positif yang semestinya didukung oleh segenap masyarakat.
Meskipun pada tulisan terdahulu penulis menyambut negatif karena sulitnya mengunduh file-file bse dari server depdiknas, pada dasarnya penulis menambut keberadaan BSE secara positif. Penulis bahkan sudah memanfaatkan dua buku BSE untuk mengajar di kelas dan memanfaatkannya untuk membuat presentasi mengajar dengan bantuan laptop dan proyektor. Artinya tidak diperlukan lagi buku-buku yang mahal yang harus dibeli oleh siswa.
Mencermati perkembangan dan bahkan revolusi pendidikan di beberapa negara berkembang mulai dari Uruguay, Rwanda, Mongolia, Haiti, Afghanistan dan beberapa negara lain sampai Peru, kita melihat bahwa di negara-negara tersebut sudah melakukan revolusi dalam dunia pendidikannya. Pemerintah mereka mempunyai kebijakan OLPC untuk merevolusi pendidikan pada sekolah-sekolah di daerah tertinggal. OLPC sendiri adalah program one laptop per child, satu laptop per siswa.
OLPC diadakan bagi siswa-siswa di daerah-daerah terpencil yang kesulitan guru. Misalnya pada sekolah dasar yang memiliki guru satu atau dua orang yang mengajar pada enam kelas yang berbeda. Keadaan seperti itu tidak terjadi di perkotaan, akan tetapi terjadi di banyak tempat di daerah-daerah terpencil. Guru yang tidak mau mengajar di daerah terpencil lebih menjadi penyebab sulitnya mengembangkan pendidikan di daerah seperti ini. Untuk itulah di beberapa negara tadi diselenggarakan program OLPC.
Laptop yang dibagikan kepada siswa bukanlah laptop konvensional, melainkan laptop khusus yang dirancang tahan banting, hemat energi, berukuran kecil, dan ringan. Di dalamnya sudah berisi berbagai program yang bisa dipakai oleh siswa termasuk buku pelajaran elektronik. Jadi tidak diperlukan lagi buku-buku pelajaran maupun buku tulis.
Laptop-laptop kecil itu dilengkapi dengan fasilitas koneksi nirkabel sehingga di antara laptop itu bisa saling berkomunikasi bahkan ke jaringan internet. Tugas-tugas yang diberikan oleh guru bisa dikirimkan melalui email ataupun sharing. Seperti juga anak-anak kita yang antusias menghadapi komputer atau laptop, anak-anak di negara-negara tadi pun sangat antusias belajar dengan laptopnya.
Siswa menjadi sangat senang berangkat ke sekolah walaupun di kelas tidak ada gurunya. Hal ini terjadi karena siswa dapat belajar dari laptop yang terhubung secara nirkabel ke internet di sekolahnya. Sejak pagi mereka sudah berada di sekolah dan yang dilakukan pertama kali adalah menghidupkan laptop untuk kemudian browsing dan mencari informasi yang diperlukannya. Banyak di antara mereka bahkan yang tertidur di samping laptopnya.
Laptop kecil yang diprogramkan seharga seratus dolar per unit ini diadakan melalui pengadaan yang direncanakan oleh pemerintah atau melalui pembelian dua buah laptop kecil oleh orang kaya di mana salah satu atau kedua laptop disumbangkan untuk siswa lain. Pemerintah Indonesia sendiri belum bersikap dalam program OLPC ini. Hanya saja tampaknya dengan adanya program buku sekolah elektronik saat ini arahnya mungkin saja ke sana. Kita tunggu saja pelaksanaannya. Mungkin anggaran pendidikan 20 persen pada APBN 2009 juga mencakup program ini.
Program OLPC terbukti mampu mempercepat keberhasilan pendidikan bagi siswa di daerah terpencil di negara-negara yang sudah melaksanakannya. Meskipun demikian, guru-gurunya yang dididik hanya dua setengah hari tampaknya belum mampu mengimbangi kecepatan belajar siswa.
Yang dikhawatirkan sebagian perencana program OLPC bahwa siswa menjadi lebih pandai dibandingkan gurunya bisa benar-benar terjadi. Hal ini karena siswa mempunyai waktu luang untuk belajar jauh lebih banyak dibandingkan dengan guru-gurunya. Saat ini pun pada sekolah-sekolah yang sudah melaksanakan mata pelajaran Teknologi Informasi dan Komunikasi sudah terjadi hal seperti itu. Apalagi jika sekolah dilengkapi dengan fasilitas internet tanpa batas yang bisa dinikmati oleh seluruh siswa.
Mudah-mudahan BSE tidak berhenti sampai di sini. Akan tetapi program itu bisa berlanjut sampai pada pelaksanaan OLPC.
Entry Filed under: Artikel, Uncategorized. .
1 Comment Add your own
Leave a Comment
Some HTML allowed:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>
Trackback this post | Subscribe to the comments via RSS Feed
1.
Ravii Hamdi | October 13, 2008 at 4:12 pm
Guru adalah yang mengajarkan/ mengarahkan anak didiknya untuk tahu dan mengembangkan bakatnya, murid adalah yang menerima semua pengetahuannya. jadi apa yang tersisa? (mantan guru vs mantan siswa). menurut saya kepintaran tidak dapat diukur dari laptop saja…ilmu pengetahuan sangatlah luas, apakah kita bisa mengukur ruang? pemerintah sudah mulai melakukannya melalui BSE walaupun masih ada yang kurang dari program tersebut.