Archive for October, 2008

Merintis Pelajaran Berbasis (Muatan) Lokal

Dua belas tahun yang lalu, penulis sempat menjadi guru di sebuah SMP di kota Jakarta. Seperti halnya sekolah-sekolah lainnya di Indonesia, di sekolah itu pun ada pelajaran Muatan Lokal yang diberi nama Pendidikan Lingkungan Kota Jakarta (PLKJ) yang disampaikan kepada siswa secara mandiri. Sayangnya penulis tidak memperhatikan benar isinya, karena tidak sesuai dengan latar belakang pendidikan penulis.
Dua belas tahun kemudian, yaitu saat ini, di Kalteng, sepengetahuan penulis, mata pelajaran Muatan Lokal di antaranya berupa mata pelajaran bahasa daerah, yaitu bahasa Dayak. Padahal kalau kita perhatikan keberagaman budaya dan masyarakat di Kalimantan Tengah ini, tidak sepenuhnya tepat kalau disamaratakan dengan pemberian materi pelajaran bahasa Dayak atau bahkan bahasa Inggris. Keberagaman budaya di Kalteng sangat beragam, apalagi di kota-kota dan di daerah transmigrasi, pengajaran muatan lokal bahasa Dayak atau bahasa Inggris tentu sangat tidak tepat. Apalagi pelajaran bahasa Inggris sudah ada jamnya tersendiri. selanjutnya

12 comments October 10, 2008

Apakah aku iri?

Lebaran 1427 Hijriyah ini aku tidak banyak melakukan kunjungan ke sesama muslim di sekitarku dan juga kepada kawan-kawanku. Namun karena satu keperluan, aku berkunjung ke rumah seseorang sekalian beridul fitri. Sebagimana biasa, aku ceplas ceplos saja membicarakan suasana hati dan suasana tempat kerja.
Orang yang kukunjungi itu sendiri adalah seorang guru yang mempunyai usaha sampingan sebuah toko. Aku tidak melihat dia meninggalkan kelas untuk urusan tokonya. Jadi aku merasa bebas berbicara di hadapannya.
Namun Jumat itu, 10 Oktober 2008, pulang kerja istriku bercerita bahwa orang yang tadi kuceritakan mengatakan bahwa aku iri terhadap kawan lain yang juga punya usaha. Aku memang bersikap keras terhadap dua kawan yang punya usaha sampingan ini. Kekerasanku karena mereka selalu meninggalkan kelas yang semestinya diajarnya setiap kali usahanya dijalankan. Saya berpendapat, mengapa pekerjaan itu tidak dipercayakan saja kepada anak buahnya. Dia cukup mengawasi. Pada saat jamnya mengajar, ya mengajar. Setelah itu terserah dia.
Puncaknya aku berinisiatif dan meminta tolong kepada seorang pegawai agar daftar hadir saja jika ada guru yang tidak hadir ke sekolah. Selama ini, di sekolahku, masuk atau tidak seorang guru, daftar hadir tetap ditandatangani. Ini berkaitan dengan uang lauk pauk. Jadi seorang guru yang tidak masuk tetap dianggap masuk dan dibayarkan uang lauk pauknya. Hal inilah yang menunjukkan ketidakadilan.
Apakah aku iri?
Secara pribadi si teman yang sering meninggalkan jem mengajar tentu akan mengatakan aku iri.kah Menurut saya, kalau memang saya iri, saya tidak perlu berlaku seperti itu. Kalau saya memang iri, saya akan mengikuti caranya. Kalau malas, atau ikut-ikutan membuka toko atau usaha lain, lalu meninggalkan kelas kalau ada pekerjaan. Kepala sekolah toh tak akan menegur saya kalau saya berlaku demikian.
Apakah saya iri?
Ya Allah, kalau benar aku iri, aku mohon ampunan-Mu. Jauhkanlah aku dari sifat iri ini. Niatku adalah ingin sekolah tempatku bekerja menjadi sekolah yang bagus. Guru-gurunya punya tanggungjawab yang besar untuk mencerdaskan bangsa. Apakah aku idealis? Apakah idealis itu buruk? Apa idealis menjadi sebuah utopia yang sudah tidak punya tempat lagi di sini?
Tolong jelaskan padaku.

2 comments October 10, 2008

BSE dan OLPC

Sudah banyak artikel yang membahas masalah buku sekolah elektronik (BSE) dimuat di surat kabar. Ada yang menyambut positif, ada yang menyambutnya secara negatif, dan ada pula yang tidak bereaksi. Program BSE, Mendiknas sendiri tidak mau menyebutnya sebagai program, adalah langkah positif yang semestinya didukung oleh segenap masyarakat.
Meskipun pada tulisan terdahulu penulis menyambut negatif karena sulitnya mengunduh file-file bse dari server depdiknas, pada dasarnya penulis menambut keberadaan BSE secara positif. Penulis bahkan sudah memanfaatkan dua buku BSE untuk mengajar di kelas dan memanfaatkannya untuk membuat presentasi mengajar dengan bantuan laptop dan proyektor. Artinya tidak diperlukan lagi buku-buku yang mahal yang harus dibeli oleh siswa. selanjutnya

1 comment October 9, 2008


Recent Comments

Willy Ediyanto on Tak Sengaja Menjadi Guru
sunarnosahlan on Tak Sengaja Menjadi Guru
Willy Ediyanto on Tak Sengaja Menjadi Guru
anti on Tak Sengaja Menjadi Guru
citromduro on Di SBI, Bahasa Indonesia seper…

Archives

Blogroll

Top Posts

Categories

Blog Stats

 

October 2008
M T W T F S S
« Sep   Nov »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  

Recent Posts

Pages

Meta