Masih Mencari, Adakah Sastra(wan) Kalteng
August 23, 2008
Menarik sekali perdebatan antara Udo Z. Karzi dengan Puji Santosa yang dimuat di harian ini selama bulan Agustus tahun 2008. Menarik bagi penulis karena penulis bekerja sebagai seorang guru yang berijazah dan mengajarkan bahasa dan sastra Indonesia. Menarik karena penulis ikut membidani Komunitas Awan Senja di Kumai, Kotawaringin Barat. Menarik juga karena penulis pernah menanyakan sebuah lomba penulisan sastra akan tetapi tidak diketahui siapa dan di mana panitianya.
Sebagai orang yang berkecimpung dalam dunia sastra, penulis berkarya dalam bentuk seni sastra namun tidak mempublikasikannya secara umum. Penulis lebih suka mempublikasikannya melalui blog yang penulis miliki. Ada beberapa alasan yang menjadi dasar mengapa penulis melakukan hal semacam itu.
Sebelum terbitnya surat kabar ini, kesulitan penulis untuk mengikuti surat kabar yang ada di Kalimantan Tengah telah menjadi salah satu alasannya. Biasanya surat kabar baru sampai ke tangan penulis keesokan harinya. Itu pun tidak ada agen surat kabar yang mau melayani untuk berlangganan dan mengantarnya sampai ke tempat tinggal penulis. Di samping itu, redaksi surat kabar di Kalteng umumnya tidak mengirimkan bukti pemuatan untuk penulis-penulis yang tidak terjangkau pelayanan berlangganan. Itu pula yang menyebabkan penulis lebih asyik menulis di blog dan di surat kabar ini.
Udo Z. Karzi menurut hemat penulis lebih menyorot pada keberadaan sastrawan pada saat ini, pada tahun 2008. Sementara itu, Puji Santosa membeberkan keberadaan penulis yang sudah tidak ada. Puji Santosa menelusuri jejak sastrawan Kalteng dengan menyodorkan nama Fridolin Ukur, HABSU, dan J.J. Kusni yang sudah meninggal atau sudah tidak berada di Kalimantan Tengah. Itu bagus sebagai sebuah dokumentasi. Masalah yang ingin penulis soroti adalah sastrawan yang berada di sini dan pada saat ini.
Sayang sekali, dalam tulisannya, Puji Santoso tidak menyebutkan siapa saja sastrawan yang tergabung dalam Ikatan Sastrawan Sastra Indonesia (ISASI) Kalimantan Tengah yang disertakan dalam Dialog Borneo-Kalimantan yang ikut serta mengumpulkan karyanya. Selain itu hanya disodori beberapa kegiatan yang diadakan oleh Balai Bahasa Kalimantan Tengah. Sementara itu kegiatan sastra seperti kegiatan Sastrawan Bicara Siswa Bertanya yang dimotori oleh Taufik Ismail tidak terdokumentasikan. Begitu pula kegiatan apresiasi sastra di luar Palangkaraya.
Sepengetahuan penulis, kegiatan berkesenian biasanya tumbuh di lingkungan kampus atau sekolah yang dimotori oleh mahasiswa dan guru. Tidak selalu kampus yang memiliki fakultas sastra, karena fakultas sastra lebih banyak menyibukkan diri dalam teori, aliran, dan sejarah sastra, dan bukan pada proses kreatif. Artinya fakultas sastra bukanlah tempat untuk melahirkan sastrawan. Seorang sarjana sastra belum tentu seorang sastrawan. Bahkan harus diakui bahwa lebih banyak sastrawan yang tidak sarjana dan bukan sarjana sastra.
Kawan-kawan penulis ketika masih kuliah dulu, cukup banyak yang berasal dari fakultas dakwah dan fakultas tarbiah yang memanfaatkan sastra dan bergelut dalam bidang sastra. Di samping itu masih lebih banyak lagi yang berasal dari fakultas-fakultas lain atau bahkan yang drop out. Akan tetapi, penulis tidak melihat sastrawan yang muncul dari perguruan tinggi di Kalimantan Tengah. Tidak pula penulis temukan volunter yang mau menyibukkan diri dalam pengembangan sastra, atau paling tidak dalam kepenulisan seperti yang terjadi di kota-kota lain.
Sebagai sesama satu tanah, Kalimantan Selatan jauh meninggalkan adik kandungnya, Kalimantan Tengah. Kehidupan sastra dan kepenulisan di daerah ini berkembang karena adanya volunter yang menyerahkan waktunya untuk sastra dan kepenulisan. Dalam beberapa tulisan, penulis menyodorkan nama Ersis Warmansyah Abbas, seorang dosen yang kebetulan pula berasal dari tanah Sumatra. Baginya, belajar menulis adalah dengan menuliskannya. Ersis bahkan menyediakan rumahnya, beberapa komputer, dan jaringan internet untuk dimanfaatkan penulis-penulis muda. Silakan kunjungi blognya, kita akan menemukan karya penulis-penulis pemula yang baru berkarya di sana.
Kegelisahan Udo Z. Karzi mungkin bisa dijadikan satu contoh. Sastrawan yang berasal dari Lampung yang belum lama ini mendapatkan penghargaan nasional atas puisi-puisi berbahasa daerahnya ini lahir dari kegelisahan seorang sarjana ilmu politik. Jalur yang tidak ada sangkut pautnya dengan sastra, telah nyata mampu melahirkan seorang sastrawan dengan penghargaan nasional.
Di luar kampus, kehidupan sastra bisa pula berkembang dengan adanya komunitas-komunitas sastra. Kumpulan anak-anak muda yang dimotori oleh beberapa orang penulis atau sastrawan yang sering berkumpul dan mendiskusikan karya sastra atau jenis tulisan yang lain. Pada kesempatan yang lain mereka memamerkan tulisannya, atau membacakan karyanya. Bisa juga dengan mengadakan pertunjukan pembacaan atau penampilan karya mereka.
Memang perlu jalan panjang untuk menghidupkan sastra dan untuk melahirkan sastrawan. Di lingkungan pendidikan pun, tidak banyak guru yang sempat atau tahu mengajarkan bagaimana cara mengirimkan tulisan ke sebuah surat kabar atau majalah. Masalah teknis bagaimana mengirimkan karya sastra ke surat kabar atau ke majalah dan bagaimana mengecek karyanya dimuat atau tidak memerlukan jaringan. Tidak semua orang mampu mengikuti berbagai surat kabar atau majalah yang beredar di Kalimantan Tengah.
Mengenai kemiskinan, menurut hemat penulis, tidak ada sangkut pautnya dengan kreativitas. Banyak orang miskin yang kreatif di samping orang miskin yang tidak kreatif. Begitu pula banyak orang kaya yang tidak kreatif di samping orang kaya yang kreatif. Sastra lebih banyak lahir dari adanya waktu luang atau kesempatan. Lingkungan tentu saja sangat berpengaruh dalam hal ini.
Adanya waktu luang yang banyak merupakan salah satu peluang untuk lahirnya berbagai kegiatan kesenian termasuk sastra. Kesibukan bekerja menghilangkan waktu luang. Akan tetapi, waktu luang yang tidak dimanfaatkan akan menyebabkan orang membuang-buang waktu dengan kegiatan yang tidak berguna. Selanjutnya tinggal bagaimana orang memanfaatkan waktu luang itu.
Mahasiswa dan pelajar adalah kelompok yang memiliki waktu luang paling banyak. Hanya saja sering kali lingkungan tidak memberi kesempatan mereka untuk mengembangkan potensinya dalam bidang kepenulisan. Keluar masuknya orang dalam dunia sastra demikian cepat secepat perubahan waktu. Anggota komunitas sastra di mana pun mengalami perputaran yang cepat. Waktu pula yang menyeleksi mereka.
Akan halnya di Kalteng, adakah komunitas sastra yang sedang hamil sastrawan atau bahkan sudah melahirkan sastrawan? Karena yang terdokumentasikan oleh Puji Santosa adalah sastrawan angkatan 66 yang diorbitkan oleh H.B. Jassin. Apakah dalam waktu 40 tahun tidak lahir seorang pun sastrawan di Kalimantan Tengah?
Harapan Puji Santosa agar media massa membuka ruangan seni budaya itu bagus. Masalahnya adalah adakah yang menjadi penulisnya? Siapa yang akan mengisi ruang seni budaya itu? Apakah kita akan berharap kepada tiga orang sastrawan yang sudah disebutkan oleh Puji Santosa?
Penulis sebagai seorang guru sastra, selalu mengalami kesulitan jika ingin memberikan contoh-contoh karya sastra penulis Kalimantan. Koleksi di perpustakaan sekolah tidak memasukkan karya-karya mereka.
Willy Ediyanto,
Praktisi Pendidikan
http://willyedi.wordpress.com
Entry Filed under: Uncategorized. .
13 Comments Add your own
Leave a Comment
Some HTML allowed:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>
Trackback this post | Subscribe to the comments via RSS Feed
1.
Puji Santosa | August 28, 2008 at 7:20 am
Terima kasih atas tanggapan Anda tentang masih di cari sastrawan Kalteng. Tanggal 27 Agustus kemarin Balai Bahasa memberi penghargaan terhadap tokoh sastrawan Kalteng, yakni Drs. H. Makmur Anwar H.M,, apa dan siapa mereka, tolong akses ke laman kami balaibahasaprovinsikalteng.org lalu klik tokoh Anda akan mendapatkan sejumlah nama sastrawan Kalteng. Ketiga nama yang saya sebutkan tadi adalah yang telah mengorbit secara nasional. Artikel saya masih ada sambungannya, karena Saudara Udo tersinggung dan tidak berkenan, maka tulisan itu tidak dimuat lagi alias berhenti sampai di situ.
Salam kami,
Puji Santosa
2.
Udo | August 30, 2008 at 8:45 am
waduh, Pak Puji kok masalah kita dibawa ke sini. Borneonews selalu terbuka bagi Pak Puji untuk menulis kembali. Saya hanya tidak mau masalah personal masuk dalam tulisan.
3.
Willy Ediyanto | August 31, 2008 at 11:25 am
Wah, makin ramai. Sayang yang diinformasikan Pak Puji ya tidak pernah sampai ke sekolah-sekolah. Saya sebagai guru Bahasa Indonesia juga tidak punya informasi ini.
Terima kasih,nanti saya link ke blog saya tentang Balai Bahasa ini.
4.
Willy Ediyanto | October 10, 2009 at 11:52 am
Akhirnya, dapat juga undangan, walau gak sempat ngikuti karena pengumumannya dirobek saat ditempel di papan pengumunan.
5.
sandi | September 4, 2008 at 6:22 pm
“Harapan Puji Santosa agar media massa membuka ruangan seni budaya itu bagus. Masalahnya adalah adakah yang menjadi penulisnya?
Pak Willy, saya kira jangan khawatir tak ada penulisnya. Pak Willy sendiri bisa membuat cerpen/atau puisi, seperti halnya Pak Ersis/Sainul Hermawan (keduanya dosen Unlam) yang juga sering membuat cerpen untuk koran di Radar Banjarmasin (Kalsel). Yeah, setidaknya dimulailah dari para guru/dosen sastra dulu, biar menjadi contoh bagi siswa/mahasiswanya.
mohon maaf, pak,
sekadar sumbang saran saja.
tabik
6.
Willy Ediyanto | September 6, 2008 at 9:42 pm
Wah, sayangnya tidak banyak guru/dosen yang melakukan itu. Guru/dosen bahkan sarjana sastra kan gak bisa diharap banyak. Mereka tidak dididik jadi sastrawan. Mereka hanya belajar tentang teori dan sejarah sastra dan sekitarnya, bukan masalah kreatif sastra.
Bagus juga kalau ada Pak Ersis atau Sainul Hermawan. Nanti saya malah kirimnya ke Radar Banjarmasin. Sayang saya gak bisa mengecek pemuatannya kan.
7.
Starwrite | September 12, 2008 at 5:54 am
Kalau mau bersastra budayakan dulu sastra tersebut..kalau ga nanti malah jadi sastra yang ngawur..
8.
Willy Ediyanto | September 14, 2008 at 2:11 am
Saya setuju.
9.
sandi | September 14, 2008 at 3:25 pm
saya kira, yang penting adalah “Membudayakan Menulis”…
10.
Ibnu HS | October 18, 2008 at 12:57 am
Apa kabar Bang Willy?
Punya komentar untuk tulisan saya di Borneo News (Perlukah Kita (menjadi) Seorang Sastrawan?) Sejak dulu saya rindu dengan komunikasi seperti ini. Mampir di blog saya ya (saya baru belajar menulis di blog, masih sangat amburadul
11.
Willy Ediyanto | October 10, 2009 at 11:54 am
Mana blognya sekarang, Bang?
12.
Willy Ediyanto | October 19, 2008 at 11:26 pm
Ya, saya coba. Kita link blog, ya.
13.
Muslim Rahmat | March 1, 2009 at 11:15 am
Kalimantan Tengah seolah-olah tak ada pangkal seni yang dapat memberikan contoh kreatif, semuanya seolah-olah mengekor trend tanpa dapat melakukan improvisasi terhadap seni daerah tersebut. setelah itu masyarakat kita masih kurang menghargai budaya sendiri dan seolah-olah cuek, bahkan tidak mengenal budayanya sendiri, sehingga tidak salah kalteng merupakan daerah yang kehilangan identitas budayanya, karena apresiasi seni sampai saat ini tidak mendapatkan apresiasi yang baik dari masyarakatnya itu sendiri.
misalnya kesenian yang seharusnya menjadi identitas bagi masyarakat Kecamatan Kumai yakni Batirik yang mempunyai kemiripan dengan Panting Kalsel, sampai saat ini tenggelam tak ada regenarasi bagi pelesetarian budaya tersebut. sastarawan akan bertumbuhan di sikon ranah budaya masyarakat yang menghargai karya seni dan seni budayanya itu sendiri……terimakasih…