Mendiknas: Pelaksanaan UN (Tidak) Turunkan Jumlah Tawuran
May 28, 2008
Salah satu harian ibukota menulis berita sebagai berikut: Menteri Pendidikan Nasional Bambang Sudibyo mengatakan dengan adanya pelaksanaan Ujian Nasional (UN) dapat mengurangi tawuran di kalangan pelajar. Sementara hasil penelitian yang dilakukan Balitbang Depdiknas tahun 2007 mengenai pelaksanaan UN, menunjukkan dapat meningkatkan kuantitas belajar peserta didik.
UN yang dimulai sejak tahun 2004 secara signifikan telah menurunkan jumlah tawuran di kalangan pelajar. Baik itu antar pelajar itu sendiri maupun antar sekolah, kata Menteri Pendidikan Nasional Bambang Sudibyo pada saat membuka Penyelenggaraan Simposium Nasional Penelitian Pendidikan (SNPP) 2007 di Jakarta, Rabu (25/7/2007).
Memang Mendiknas tidak mengatakan pelaksanaan UN menghilangkan tawuran. Tapi kejadian pada Rabu, 28 Mei 2008 di Jakarta Barat begitu menggelitik perhatian. Wah, ternyata UN dengan standar kelulusan yang tinggi dan ketatnya pelaksanaan UN tidak menjadikan para pelajar itu menghentikan tabiat suka berkelahinya. Belum lagi berjalan kegiatan belajar bagi adik-adik kelas yang mempersiapkan ujian kenaikan kelas, tawuran terjadi juga. Belum lagi diketahui hasil ujian tahun ini, tawuran sudah terjadi.
Tidak jelas memang berita tawuran pelajar di Jakarta Barat itu, apakah dilakukan oleh pelajar yang baru selesai melaksanakan ujian nasional atau oleh adik-adik kelasnya yang telantar karena mungkin gurunya sedang mengoreksi hasil ujian sekolah. Siapa pun pelakunya, yang jelas kalau itu dilakukan oleh peserta UN, betapa mereka tidak tahu diri, sedangkan jika dilakukan oleh siswa yang tidak mengikuti UN karena tidak duduk di bangku kelas akhir, mengapa harus melakukan tawuran, bukannya belajar untuk menghadapi ujian kenaikan kelas. Tampaknya, kalau yang terakhir ini yang tejadi, Mendiknas harus menyiapkan ujian akhir semester nasional untuk semua tingkatan kelas.
Ujian akhir semester nasional tentu menyesuaikan judul artikel ini akan menurunkan jumlah tawuran pelajar. Sekedar berandai-andai, seandainya unian akhir semester nasional dilaksanakan oleh pemerintah, tentunya para pelajar, guru, dan orang tua menjadi terbiasa dengan ujian nasional sehingga tidak perlu ada penolakan dalam pelaksanaan UN.
Atau yang terjadi adalah adanya kebocoran dan pembocoran soal ujian nasional pada tahun ini. Sampai saat artikel ini ditulis, belum ada informasi apapun mengenai hasil UN. Apakah dengan ketatnya pengawasan dan tingginya standar kelulusan menjadikan pelaksanaannya benar-benar jujur atau sekedar menjadi sebuah seremoni akhir tahun ajaran saja.
Tidak banyak informasi yang didapat dari para pelajar yang mengikuti UN. Kalaupun ada pemberitaan di media massa mengenai adanya siswa yang stres, kerasukan, atau bentuk-bentuk ketertekanan yang lain yang tidak bisa dijadikan patokan kegagalan UN. Hasil penelitian yang dilakukan Balitbang Depdiknas tahun 2007 mengenaii pelaksanaan UN, menunjukkan dapat meningkatkan kuantitas belajar peserta didik. Akan tetapi penelitian yang dilakukan Thomas Gordon (1990), dalam buku Guru yang Efektif, menggambarkan keadaan ini sebagai sebuah permainan yang diberi nama “Merebut Roti”. Anak-anak diminta melompat dan meraih roti tersebut. Siapa yang dapat melompat lebih tinggi akan dapat meraih roti tersebut. Apabila roti tersebut telah dapat dicapai oleh salah seorang siswa, maka akan diganti roti baru yang digantungkan lebih tinggi. Makin lama roti itu akan tergantung lebih tinggi.
Gordon mengatakan bahkan reaksi siswa dalam permainan “Merebut Roti”mungkin sangat menakjubkan. Bagi murid yang merasa bahwa roti itu terlalu tinggi untuk diraih, dia tidak mau meraihnya lagi karena ketika digantung tidak terlalu tinggi saja mereka tidak mampu meraihnya. Meraih roti yang lebih tinggi adalah perbuatan sia-sia bagi kelompok siswa ini.
Mana yang valid di antara kedua hasil penelitian ini? Kiranya perlu penelitian yang independen.
Entry Filed under: Artikel. .
2 Comments Add your own
Leave a Comment
Some HTML allowed:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>
Trackback this post | Subscribe to the comments via RSS Feed
1.
Puada | May 31, 2008 at 6:41 am
Salam, Selamat ya atas dibukanya forum unjuk pendapat yang positif,cerdas dan kreatif. Saya menghaturkan selamat dan semoga sukses serta berkembang terus. Tentu saja agar semakin menyadari ke-diri-an hakikat manusia. di forum ini saya sangay berharap agar partisipan melangkah melampau teori-teori material menuju kepada praktik dan hakikat spiritual abadi. Meminjam istilah F. Schuon, perennial. Selamat bergabung semoga kita semua dalam pencarian ke dalam diri. Semoga dengan demikian Tuhan menolong kita untuk menemukan ‘DIRI’ sejati kita. sekali lagi selamt…selamat…selamat…
2.
Willy Ediyanto | May 31, 2008 at 1:14 pm
Terima kasih atas kunjungannya.