Kenakalan Anak: Soal Kekerasan, Guru Harus Mengerti Metode

April 10, 2008

PANGKALAN BUN (Borneo): Sekretaris Komisi A DPRD Bidang Pendidikan Burhanuddin mengungkapkan kalau kekerasan di sekolah merupakan akibat dari guru yang belum menguasai akan semua metode tentang mendidik.
Pasalnya, ketika masih menjalani pendidikan keguruan, tidak mendalami metode bagaimana menghadapi kenakalan murid itu sendiri. “Untuk menghadapi murid yang nakal ini perlu pelatihan. Sebenarnya ada trik-trik tersendiri. Ini tidak ditemukan di bangku kuliah,” kata Burhanuddin, kemarin.
Ia mengatakan ini ketika menanggapi opini dari praktisi pendidikan Willy Ediyanto yang mengupas soal kekerasan di sekolah. Oleh karena itu, Burhanuddin menekankan agar para guru yang kini aktif menjalani profesinya jangan sampai merasa cukup dengan pendidikan yang sudah diraihnya selama ini.
Adapun kekerasan fisik yang masih terjadi dan belum bisa dipahami oleh guru dalam mencari alternatif hukuman lain, di antaranya menjemur murid, memaksa push up, lari mengitari halaman sekolah, sampai pemukulan.
Dia berpendapat bahwa perlu adanya semacam pendidikan pelatihan (diklat) guna menambah keahlian dan juga dalam rangka meningkatkan sumber daya manusia (SDM) mereka ini.
Ini, kata dia, seharusnya diupayakan oleh Dinas Pendidikan Pengajaran yang merupakan instansi terkait yang bertanggung jawab akan nasib dunia pendidikan di Kobar ini. “Kalau untuk anggaran, saya yakin DPRD siap menganggarkan. Apalagi ini menyangkut sektor yang menjadi prioritas pembangunan,” tegasnya.
Hanya saja, dalam kasus kekerasan fisik di lingkungan sekolah ini, dia mengklaim kalau bukan hanya guru sebagai sumber penyebab tunggal, melainkan juga harus ada inisiatif untuk mengubah paradigma dari para orang tua dan juga murid.
Di tempat terpisah, Kakandepag Kobar Abudl Kadir mengatakan saat ini pendidikan anak menunjukkan gejala yang mengkhawatirkan. Hal ini disebabkan pandangan yang sempit dari sebagian orang tua dalam mendidik dan menjaga anak sebagai amanah Allah SWT.
Indikasinya, orang tua lebih memerhatikan kebutuhan anak hanya terbatas pada aspek duniawi seperti pakaian, makanan dan kesehatan. “Sementara itu, aspek yang mendasar, yakni pendidikan agama dan aqidah kurang mendapat perhatian,” ungkap Abdul Kadir.
Untuk itu, lanjutnya, orang tua sebagai pengemban amanah Allah harus paham dan mengerti mengenai tugas dan tanggung jawabnya. Dalam Islam, orang tua dituntut mampu mendidik anak-anaknya menjadi buah hati yang soleh dan menyenangkan hati kedua orang tuanya. (Bud/Dri/B-1)

Entry Filed under: Omelan. .

3 Comments Add your own

  • 1. Willy Ediyanto  |  April 10, 2008 at 4:14 am

    Mohon maaf kepada semua pihak, terpaksa tulisan asli opini saya mengenai kekarasan di sekolah saya hapus dari blog ini.
    Ada alasan yang tidak mungkin dijelaskan.

    Reply
  • 2. naverman  |  April 11, 2008 at 6:14 am

    seandainya sang pemberi coment dapat melihat dan merasakan serta mencoba untuk mendidik. mungkin ada beberapa sisi yang perlu dilihat. mungkin dari sisi pendidikan anak di rumah dari orang tua. mungkin dari sisi lingkungan rumah. dan mungkin dari sisi lingkungan sekolah. semua itu berdampak terhadap prilaku anak di sekolah. dan yang sangat merasakan hal tersebut diatas adalah para pendidik. (think about that before u give comment, be wise) and dont be smart ass

    Reply
  • 3. Parto Purba  |  April 12, 2008 at 12:22 am

    Pihak Dinas Pendidikan, semestinya tidak kebakaran jenggot. Begitu juga pihak sekolah dan pihak-pihak lain yang ada dalam lingkaran tersebut. Yang perlu diambil manfaatnya adalah sambutan atas gayung bahwa DPRD siapa dengan dana untuk mengadakan pelatihan memberi hukuman untuk para guru menghadapi siswa yang melakukan pelanggaran. Burhanudin siap membantu dengan dana – mudah-mudahan bukan lip servis – dan pihak Dinas Dikjar mestinyamenyambut dengan mengajukan proposal atau bagaimana caranya sesuai dengan prosedur yang berlaku.
    Jangan-jangan penulisnya ditekan sehingga tulisan dan unek-uneknya sampai dihapus.
    Salam buat Pak Willy. Beliau tentunya seorang guru.
    Terus menulis, ya. Jangan patah semangat.

    Reply

Leave a Comment

Required

Required, hidden

Some HTML allowed:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Recent Comments

mfiqri on Membedah Otak Einstein
rera on Sertifikasi Guru, Bumerang bag…
Willy Ediyanto on Sertifikasi Guru, Bumerang bag…
bayu putra on Sertifikasi Guru, Bumerang bag…
Willy Ediyanto on Sertifikasi Guru, Bumerang bag…

Archives

Blogroll

Top Posts

Categories

Blog Stats

 

April 2008
M T W T F S S
« Mar   May »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
282930  

Recent Posts

Pages

Meta