Ekskul Menjadi Kedok

February 21, 2008

Borenonews 12 Februari 2008 memuat berita yang cukup menghebohkan bagi publik pembaca di Kalimantan Tengah, khususnya kota Pangkalan Bun. Kehebohan itu terjadi karena harian ini menginformasikan bahwa Kepala SMP Negeri 4 Kumai melakukan tindakan asusila kepada dua orang siswinya. Kepala sekolah yang semestinya menjadi pelindung dan panutan malah menjadi pelaku tindak negatif bagi siswa yang semestinya menjadi pihak yang dilindungi dan diberi contoh ang baik.
Ketika seorang guru tidak lagi memberi contoh yang baik dalam kehidupan pribadi dan sosialnya, dia bukan lagi seorang guru. Apalagi yang dilakukan oleh Anang Widianto, Kepala SMP 4 Kumai, memanfaatkan kegiatan ekstrakurikuler pramuka sebagai kedok. Pramuka sendiri sebenarnya merupakan kegiatan yang positif dalam upaya membina generasi muda temasuk pelajar. Dikhawatirkan nantinya kegiatan ekstrakurikuler apapun akan dinilai negatif.
Siswa sebagai korban, pada umumnya takut menolak karena adanya ancaman dan rasa malu. Keterbukaan dengan orang tua pun seringkali menjadi penyebab lambatnya kasus seperti ini terungkap. Ini seperti yang terjadi pada SL dan Id, korban tindakan asusila yang tidak berani melaporkannya kepada teman, guru, ataupun orang tua masing-masing. Menurut pengakuan mereka, seperti diberitakan Borneonews (12/2) adalah karena takut dan malu jika hal ini kemudian terkuak.
Namun, apapun sanksi yang akan diterima, nasi sudah menjadi bubur. Masyarakat menolak tindakan yang telah mencoreng wajah pendidikan di negeri ini. Selanjutnya, bagaimana perlindungan terhadap korban yang sudah terlanjur menderita rasa malu yang tidak tertanggungkan?
Belum habis ingatan kita mengenai beredarnya video mesum pelajar di Pangkalan Bun pada perangkat telepon genggam yang mengakibatkan pelaku malu dan harus rela pindah sekolah. Korban di SMP 4 Kumai, tentu merasakan hal yang sama bahkan lebih kaena dilakukan dengan terpaksa. Apakah kemudian pelaku pada kejadian terakhir ini akan tetap dipertahankan atau hanya sebatas dimutasikan saja?
Masyarakat melihat banyak contoh lain. Pada sekitar tahun 1984, penulis memiliki guru yang juga melakukan tindakan yang sama dengan alasan konseling. Hukum kemudian memutuskan guru tersebut diberhentikan tidak dengan hormat. Saat ini kita menunggu tindakan seluruh jajaran penegak hukum dan jajaran Dinas Pendidikan Kotawaringin Barat. Kepada siapakah mereka berpihak?
Patut ditiru kebijakan beberapa sekolah yang mewajibkan siswa-siswa sekolah lanjutan untuk menggunakan rok panjang dengan bagian bawah lebar. Keuntungan pertama, bagaimanapun guru adalah manusia yang dapat tergoda jika ada siswa yang menggunakan rok pendek dan ketat. Apalagi tidak banyak meja siswa yang berpenutup di bagian mukanya. Keuntungan kedua, dengan rok panjang dan lebar, siswa dapat membela diri atau melarikan diri ketika ada ancaman kejahatan. Keuntungan ketiga, sudah saatnya kita membendung pengaruh sinetron televisi berlatar sekolah yang siswanya berpakaian ketat dan pendek sehingga seringkali menonjolkan atau memperlihatkan bagian tubuh yang tidak layak lihat.

Willy Ediyanto,
praktisi pendidikan
tinggal di Kumai
Dimuat di Borneonews, Senin 18 Februari 2008

Entry Filed under: Omelan, Uncategorized. .

8 Comments Add your own

  • 1. Chanra  |  February 22, 2008 at 7:38 pm

    Bukan eskulnya yang salah. Dasarnya aja tuh kepsek cabul. Gawat dah kalo orang2 cabul jadi guru. Jangan heran banyak para lulusan ikut2an cabul. lha wong yang ngajarin guru2nya. Ente kaga cabul khan Mas? Hehehe… Salam kenall dari saya di Tangerang.

    Reply
  • 2. Willy Ediyanto  |  February 23, 2008 at 4:45 am

    Alhamdulillah. dan semoga masih dilindungi oleh rasa malu.

    Reply
  • 3. santy malau  |  April 15, 2008 at 8:58 am

    kt g bisa nyalahin siswanya doank
    smuanya kembali ke individunya
    kalau memang otak mesum
    yaq tetep aja……….
    piye to mas

    Reply
  • 4. Willy Ediyanto  |  April 16, 2008 at 12:45 am

    Yap. Individunya.

    Reply
  • 5. Eliadi Hasmi Daulay  |  April 20, 2008 at 12:06 am

    kejadian yang Mas Eddy itu mengingatkan kita untuk lebih waspada untuk menitipkan atau memberikan amanah kepada siapa saja, gurukah, utstadz dan kiyai semua mereka itu tidak bebas dari godaan iblis dan setan , dan level penggodanya pun akan selevel dengan mereka , maka peran orang tua untuk tetap waspada untuk mengawasi anak-anaknya, pelecehan sex untuk siswa bisa terjadi di rumah, di sekolah , di Pesantren dan di surau pun ada yang nekat melakukan. nah waspadalah kita.

    Reply
  • 6. Willy Ediyanto  |  April 21, 2008 at 1:00 am

    Waspadalah. Kejahatan bisa terjadi di mana saja.
    Kejahatan terjadi bukan karena niat pelakunya.
    Kejahatan bisa terjadi tanpa perencanaan.
    Waspadalah.
    Waspadalah.

    Saya setuju dengan pesan itu.

    Reply
  • 7. Rega Fasbila  |  May 9, 2008 at 7:25 am

    Betul sekali kejahatan buksn terjadi karna niat saja tetapi karna kesempatan yang ada. . . . . . . . . . .
    Berhati-hatilah karna kita tidak tahu apa yang akan terjadi kelak pada kita karna kekurangan munculnya dari manusia,,tapi kelebihan datangnya dari TYANG MAHA KUASA. . . . . . .

    Reply
  • 8. Rega Fasbila  |  May 9, 2008 at 7:29 am

    Kapan comment itu bisa di jawab. . . . . . . . . . .
    TriMaKaSiHhhhhhhhhhhhh

    Reply

Leave a Comment

Required

Required, hidden

Some HTML allowed:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Recent Comments

mfiqri on Membedah Otak Einstein
rera on Sertifikasi Guru, Bumerang bag…
Willy Ediyanto on Sertifikasi Guru, Bumerang bag…
bayu putra on Sertifikasi Guru, Bumerang bag…
Willy Ediyanto on Sertifikasi Guru, Bumerang bag…

Archives

Blogroll

Top Posts

Categories

Blog Stats

 

February 2008
M T W T F S S
« Jan   Mar »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
2526272829  

Recent Posts

Pages

Meta