Berkenalan dengan Penciptaan Puisi
January 24, 2008
Banyak di antara kita, yang setelah sekian tahun belajar di sekolah formal, menjadi rabun sastra – meminjam istilah Taufik Ismail. Ini tampak dari kenyataan, bahwa anak-anak yang belum tercemari oleh ilmu sastra dari sekolah formal, misalnya anak-anak sekolah dasar, banyak yang mampu menulis sastra, baik puisi maupun cerita pendek. Mereka begitu bebas dan gembiranya menuangkan isi pikiran tanpa beban. Lihat saja karya-karya mereka di majalah anak-anak atau surat kabar yang mempunyai halaman khusus untuk anak-anak.
Seiring berjalannya waktu, pendidikan yang dienyam oleh para pelajar, ilmu yang mereka miliki pun menjadi semakin banyak. Alhasil, siswa bukannya menjadi semakin lancar dan cinta sastra. Anak usia SMP dan yang lebih tinggi banyak yang justru menjadi rabun. Menjadi semakin jauh dengan yang namanya sastra baik itu cerpen maupun puisi.
Kalau kita membaca buku-buku pelajaran dan buku-buku tentang sastra yang ditulis oleh para ahli sastra dan para sastrawan, kening kita akan semakin berkerut. Pengertian puisi, misalnya, sangat banyak dan beragam. Celakanya, pengertian ini seringkali menjadi beban bagi para siswa. Pengertian ini menjadi belenggu bagi para pelajar untuk berkembang. Pengertian sastra yang dikemukakan oleh para ahli sastra dan sastrawan seolah kitab suci untuk menjadi syeh sastra yang harus dipatuhi.
Semestinya peminat sastra menyadari terlebih dahulu, bahwa pengertian-pengertian yang mereka terima, yang mereka baca itu adalah hasil oleh pikir para sastrawan dan ahli sastra. Bukan untuk peminat penulisan sastra. Yang lebih penting adalah bagaimana kita menuangkan isi pikiran dan perasaan kita ke dalam bentuk larik-larik puisi atau narasi.
Menguasai pengertian tentang sastra bukanlah tidak penting. Tetap saja itu penting untuk pengembangan wawasan. Namun, sekali lagi, yang lebih penting lagi adalah bagaimana kita berkarya.
Dalam kepenulisan sastra, puisi dan cerita pendek, bahkan novel, pada saat ini yang sedang menjadi tren adalah munculnya penulis muda dan artis yang menulis puisi, cerpen, atau novel. Tanpa harus menyebutkannya, pembaca tentu tahu siapa saja artis dan penulis muda yang karyanya bermunculan. Bahkan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menuliskan lirik lagu – puisi yang tidak mau disebut puisi – kecuali karya Ebiet G. Ade. Bahkan mereka berdua lebih unggul dari sekedar penyair. Keunggulan mereka adalah, di samping menulis puisi, mereka juga menjadikannya lagu. Kita semua tahu, bahwa lagu lebih populer ketimbang puisi.
Ketika menulis karya sastra, ada baiknya jika kita berpedoman pada “puisi adalah menurut penulisnya”. Dengan pengertian ini dan tetap tidak lepas dari pengertian sastra sebagai sebuah karya tulis, puisi adalah karya sastra dalam bentuk tulisan. Apapun tulisan yang kita hasilkan dengan mengikuti aturan benrupa contoh yang pernah dibaca, tentu itu adalah sebuah puisi.
Memang kita tidak bisa melabrak batasan yang ada yang secara fisik tampak bahwa puisi itu berbait-bait dan berlarik-larik. Untuk dapat dimuat di surat kabar atau majalah, puisi yang ditulis harus menyesuaikan dengan ruang yang tersedia. Sehingga kita tidak bisa membabi buta menulis puisi panjang di surat kabar yang yang ruang untuk puisi hanya sedikit saja. Menulis karya sastra di media massa, berarti menulis karya sastra dengan memperhatikan selera pembaca. Berbeda dengan menulis sastra dalam bentuk buku atau majalah khusus sastra.
Seperti juga menulis yang karya tulis yang lain, yang sering ditanyakan lebih dahulu adalah “apa yang akan ditulis”? Ini wajar saja bagi yang mau melangkah ke kepenulisan. Apakah semua hal dapat ditulis? Tentu saja dapat. Setiap orang mempunyai masa pertumbuhan psikologis yang berbeda. Penulis sastra dapat menulis sesuai dengan masa psikologis itu. Sesuai dengan keluasan dan kedalaman wawasannya. Pada saatnya, usia psikologis itu akan tertinggal oleh kedewasaan psikologis. Pada saat ini, karya yang dihasilkan sudah melesat jauh para perenungan, bukan lagi pemaparan apa yang dilihat dan dirasakan saja.
Menulis karya sastra berdasarkan pengalaman tentu mudah. Penulis sastra tidak perlu memikirkan kritik dari pembaca. Mengritik karya sastra adalah tugas pembaca dan kritikus sastra, sedangkan tugas penulis sastra adalah berkarya. Jadi, sekali lagi, yang penting bagi penulis, adalah berkarya.
Sering muncul juga pertanyaan, bahkan ini menjadi polemik, apakah kita perlu membaca karya sastra hasil karya sastrawan lain? Tentu ya, jawabannya. Bagaimana kita tahu bahwa karya kita baik atau tidak baik jika tidak ada pembandingnya. Untuk penulis pemula, tentu sangat memerlukan acuan untuk menghasilkan karya yang terbaik. Meniru gaya juga sah saja asal bukan menjadi plagiator.
Kita semua tentu masih ingat, ada pepatah yang mengibaratkan kehidupan manusia itu seperti roda yang berputar, kadang di atas, kadang di bawah. Ya, kehidupan adalah siklus. Ini artinya, pengalaman hidup yang sama akan terulang pada waktu, tempat, dan pelaku yang berbeda. Cerita rakyat tentang lelaki yang mengawini bidadari ada di mana-mana dengan gaya yang berbeda. Cerita tentang seorang laki-laki yang mengawini ibunya ada di mana-mana.
Tidaklah mengherankan kalau mantan presiden RI, Soekarno pernah berucap jasmerah – jangan sekali-kali meninggalkan sejarah – karena sejarah akan selalu terulang. Siklus berlaku di mana pun. Begitu juga dalam kehidupan dan sastra. Gaya yang berbedalah yang menjadi ciri khas setiap karya. Kedalaman efek psikologis dalam karya lebih bermakna daripada sekadar jalan cerita. Kejutan klimaks dan ending lebih berperan untuk menguatkan cerita.
Selanjutnya, ladang untuk menanam benih sastra itu, apakah sudah dipupuk dan dirawat? Maksudnya medianya yang sudah tersedia, koran, majalah, buku, atau media lain sudah ada yang memanfaatkannya. Apakah dijaga oleh kita? Apakah kita mengisinya? Apakah kita menghidupkannya dengan membelinya, lalu menglipingnya? Apakah kita sudah mendisusikan isinya?
Itulah lahan, pupuk, dan perawatan terhadap karya sastra. Di sini sudah ada lahannya. Sekarang waktunya kita menanam, memupuk, dan merawatnya hingga suatu saat kita akan memanennya. Peran guru bahasa sangat penting dalam hal ini. Tertantangkah kita?
Willy Ediyanto
Entry Filed under: Artikel, Uncategorized. .
13 Comments Add your own
Leave a Comment
Some HTML allowed:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>
Trackback this post | Subscribe to the comments via RSS Feed
1.
dhitos | January 24, 2008 at 1:36 pm
Sepertinya diperlukan bakat seni menulis, kalo Ortunya Seniman kalee … lebih gampang.. good Post!, met kenal.
2.
Arsyad Salam | January 24, 2008 at 2:21 pm
Betul skali pak…..minat anak2 sakarang pada sastra sangat rendah.. Hal ini dapat diketahui manakala mereka diberi tugas membuat karangan sastra atau semacamnya.. mereka kalang kabut dan pusing bukan kepalang… Lagi pula mana ada sih anak2 skarang tahu betul sastrawan2 legendaris macam Leo Tolstoi, Tagore, Pramudya, Mochtar Lubis dll..????
Padahal kelamahan dibidang sastra ini akan membikin tumpul kreatifitas kita sebagai manusia…. betul ga??
Salam
3.
Willy Ediyanto | January 25, 2008 at 4:53 pm
Salamkenal juga buat dhitos dan Arsyad Salam.
Bakat katanya 1%, yang 99@ adalahkerja keras. Bukan begitu?
Kenal dengan sastrawan dan mestinya juga menulis, bukan sekedar menghapal sastrawan dan karyanya seperti kurikulum 75 dulu.
4.
shafa | February 4, 2008 at 3:00 am
pak saya ingin belajar lebih banyak ke bapak karena saya juga ingin seperti bapak terimakasih
5.
Willy Ediyanto | February 4, 2008 at 2:16 pm
Wah, sebuah kehormatan.
Silakan.
6.
Fazary | February 18, 2008 at 12:49 pm
ada puisi yang bisa jd narasi gak? tolong kirim ke E-mail Saya: fazarikiano@yahoo.co.id. tks
7.
Willy Ediyanto | February 21, 2008 at 12:08 am
Wah, banyak tuh.
8.
R .MEGA M S | May 9, 2008 at 7:01 am
BENAR SEKALI BETAPA PENTINGNYA KITA DALAM MEMPELAJARI SASTRA PUISI
9.
Rega Fasbila | May 9, 2008 at 7:06 am
pa’ saya ingin tahu cara=cara yang baik tentang membaca puisi walaupun disekolah ada pelajarannya tapi saya belum puas….
Slm kenal,,makasih. . . . . . . .
10.
Qinimain Zain | September 7, 2008 at 2:02 am
(Dikutip dari: Harian RADAR Banjarmasin, Jum’at, 26 Oktober 2007)
Strategi Paradigma Baru Kongres Cerpen Indonesia V
(Studi Kasus: Polemik Ukuran Nilai Sastra)
Oleh Qinimain Zain
FEELING IS BELIEVING. ILMU diukur dari kekuatannya merumuskan hukum-hukum yang berlaku umum dan hubungannya atas kenyataan, seni dinilai dari pergulatannya dengan hal-hal yang partikular dan penciptaannya atas sesuatu yang belum ada dalam kenyataan (Nirwan Ahmad Arsuka).
JUM’AT, Sabtu dan Minggu, 26-28 Oktober 2007 ini, berlangsung Kongres Cerpen Indonesia V di Taman Budaya, Banjarmasin, yang rencana dibuka orasi budaya oleh Wakil Gubernur Kalimantan Selatan, HM Rosehan Noor Bachri, yang dihadiri ratusan sastrawan, budayan dan intelektual seluruh Indonesia. Dan, panitia sudah memastikan akan tampil pembicara hebat seperti Lan Fang, Korie Layun Rampan, Jamal T. Suryanata, Agus Noor, Saut Sitomorang, Nirwan Ahmad Arsuka, Ahmadun Yosi Herfanda, Kantrin Bandel, dan Triano Triwikromo. Dari forum ini diharapkan banyak masukan kemajuan. Sedang, tulisan ini hanyalah oleh-oleh kecil dari saya (Kalsel) akan masalah polemik panjang Taufiq Ismail-Hudan Hidayat yang masih jadi ganjalan.
Polemik adalah fenomena biasa. Namun, untuk memecahkan dan menjelaskannya polemik sastra (baca: seni) menonjolkan seks sekalipun, harus berdasar sistem ilmu pengetahuan. Jika tidak, hasilnya berbantahan dan sakit hati berkepanjangan. Artinya, bagaimana pun harus dengan kritik akademis, yang diharapkan mampu memberi jalan ke arah penyehatan kembali kehidupan kesusastraan.
Lalu, apa kesulitan sesungguhnya memecahkan hal seperti ini?
Kembali berulang-ulang memberitahukan (dan tidak akan bosan-bosan – sudah ratusan pemecahan), akar masalahnya adalah sebelum tahun 2000, (ilmu) pengetahuan sosial belum dapat disebut sebuah ilmu pengetahuan, karena tidak memenuhi Total Qinimain Zain (TQZ) Scientific System of Science yaitu memiliki kode, satuan ukuran, struktur, teori dan hukum (kecuali Teori Hirarki Kebutuhan Abraham H Maslow, proposisi silogisme Aristoteles, dan skala Rensis A. Likert tanpa satuan, belum cukup monumental). Adalah tidak mungkin menjelaskan sebuah fenomena apa pun tanpa kode, satuan ukuran, struktur, teori dan hukum, mendukung sistemnya. (Definisi klasik ilmu pengetahuan adalah kumpulan pengetahuan yang tersusun secara teratur. Paradigma baru, TQZ ilmu pengetahuan adalah kumpulan pengetahuan yang tersusun secara teratur membentuk kaitan terpadu dari kode, satuan ukuran, struktur, teori dan hukum yang rasional untuk tujuan tertentu).
YANG baik tidak dapat terletak dalam pertanyaan sendiri, melainkan harus dalam jawaban (Robert Spaemann).
Mengenai polemik. Inti pertentangan adalah beda pandangan akan nilai kebenaran sesuatu. Menurut Eric Johnson, setiap orang selalu mempunyai reference point atau titik referensi, yaitu apa yang sudah dialami, diketahui atau diyakininya. Artinya, bila titik referensi seseorang atau kelompok masyarakat dengan orang atau kelompok yang lain tentang sesuatu berbeda, apalagi dimuati kepentingan, polemik mungkin terjadi. Namun sesungguhnya, seorang pribadi dan sebuah kelompok masyarakat yang bahagia, bukan disebabkan tidak adanya pertentangan, tetapi karena tidak adanya keadilan kebenaran. Jadi yang penting dalam pertentangan, mengetahui keadilan pandangan kebenaran pribadi seseorang dihadapkan dengan pandangan orang lain yang berseberangan akan sesuatu hal itu. Artinya, untuk menengahi sebuah pertentangan dan menentukan nilai kebenarannya agar obyektif, harus berdasar kerangka referensi pengetahuan pengalaman yang teratur, yang tak lain sebuah sistem ilmu pengetahuan.
SETIAP kebijaksanaan harus bersedia dipertanyakan dan dikritik oleh kebijaksanaan-kebijaksanaan lain. Keberlakuan universal harus dapat membuktikan diri dalam konfrontasi dengan mereka yang berpikir lain (Benezet Bujo).
Dalam paradigma TOTAL QINIMAIN ZAIN: The Strategic-Tactic-Technique Millennium III Conceptual Framework for Sustainable Superiority (2000), TQZ Philosophy of Reference Frame, terdapat jumlah lima fungsi, berurutan, berkaitan, dan satu kesatuan, kebenaran sesuatu dinilai berdasar titik referensi (1) How you see yourself (logics), (2) How you see others (dialectics), (3) How others see you (ethics), (4) How others see themselves (esthetics), sampai ke level (5) How to see of all (metaphysics), yang harus ditanyakan sebelum keputusan menjatuhkan nilai kebenaran sesuatu dalam pertentangan.
Di sini terdapat hubungan dan pergeseran referensi nilai kuantitatif dengan kualitatif. Dari level logics (benar) yang kuantitatif, ke dialectics (tepat), kemudian ethics (baik), lalu esthetics (bagus), sampai ke level metaphysics (abadi) yang semakin kualitatif. Atau, penekanan referensi sesuatu bergeser dari nilai kebenaran kelompok besar menjadi lebih secara satuan individu, dari hal bersifat konkrit (logika) menjadi abstrak (metafisik). Nampak jelas pula, sesuatu yang dianggap benar oleh seseorang atau sekelompok orang, bisa dianggap tidak benar oleh yang lain karena mempunyai titik referensi yang berbeda. Atau malah, sesuatu yang dianggap benar oleh seseorang atau sekelompok orang, tetapi tidak tepat bagi yang lain, tepat tetapi tidak baik, baik tetapi tidak bagus, dan mungkin saja bagus tetapi dianggap tidak abadi sebagai kebenaran suatu keyakinan tertentu. Dan, jika sampai pada keyakinan nilai kebenaran abadi, ini sudah sangat subyektif pribadi. (Sudut pandang level How you see others dan How you see others, How others see themselves dan How others see you, adalah subyektif karena dalam sudut pandang reference object dan reference direction, sedang How to see of all, adalah lebih obyektif, level adil).
Ada paradoks di sini. Semakin menilai kebenaran sesuatu mengutamakan kepentingan umum (kuantitatif) akan meniadakan kepentingan pribadi (kualitatif). Sebaliknya, semakin mengutamakan kepentingan pribadi (kualitatif) akan meniadakan kepentingan umum (kuantitatif). Ini yang harus disadari dalam menghadapi dan dijelaskan menengahi suatu polemik atau pertentangan apa pun, di mana pun dan kapan pun. Dan, sastrawan (baca: seniman) sadar, harga sesuatu karya terletak kemampuannya menciptakan momentum nilai di antara tarik ulur paradoks ini. Antara konvensi dan revolusi, antara pengaruh nilai lama dan mempengaruhi nilai baru.
SENI kemajuan adalah mempertahankan ketertiban di tengah-tengah perubahan, dan perubahan di tengah-tengah ketertiban (Alfred North Whitehead).
Kembali ke polemik ukuran nilai sastra menonjolkan seks. Dalam ilmu pengetahuan sosial paradigma baru TQZ, saya tetapkan satuan besaran pokok Z(ain) atau Sempurna, Q(uality) atau Kualitas, dan D(ay) atau Hari kerja (sistem ZQD), padanan m(eter), k(ilo)g(ram), dan s(econd/detik) ilmu pengetahuan eksakta, sistem mks). Artinya, kebenaran sesuatu bukan hanya dinilai skala kualitasnya (1-5Q dari sangat buruk, buruk, cukup, baik, dan sangat baik), tetapi juga sempurnanya (1-5Z, lima unsur fungsi TQZ, yang untuk TQZ Philosophy of Definition, yaitu logics, dialectics, ethics, esthetics, dan metaphysics secara berurut). Artinya, kekurangan atau keburukan salah satu fungsi membuat suatu karya nilainya tidak sempurna.
Contoh, definisi paradigma lama, kesusastraan adalah tulisan yang indah. Paradigma baru, nilai keindahan tidak lengkap kalau tidak dikaitkan dengan unsur kebenaran, ketepatan, kebaikan, dan keabadian. Kini, definisi TQZ kesusastraan adalah seni tulisan yang benar, tepat, baik, bagus (indah), dan abadi secara sempurna. Artinya, bila ada pertentangan nilai akan karya sastra (juga yang lain), menunjukkan karya itu memiliki salah satu atau lebih unsur filsafatnya buruk, sebagai sebuah karya yang sempurna. (Memang, sah saja penulis mengejar keunikan atau kebaruan pribadi, mengeksploitasi unsur seks dalam karyanya. Mungkin saja berkualitas segi logika cerita, dialektika nilai, keindahan teknis penulisan dan karya monumental (abadi) suatu genre sehingga juara dalam satu perlombaan. Tetapi dalam paradigma TQZ, tidak sempurna karena abai unsur etika).
Sekarang jelas, yang dikejar penulis mana pun, bukan sekadar ukuran nilai kualitas beberapa unsur, tetapi karya dengan kualitas nilai kebenaran (lima unsur yang) sempurna. Inilah titik kerangka referensi bersama menilai karya sastra (dan juga apa pun) dalam sistem ilmu pengetahuan paradigma baru.
SEKOLAH dan kuliah, seminar dan training, buku dan makalah, ulasan dan kritikan, tanpa menyertakan alat metode (sistem ilmu pengetahuan) pelaksanaannya hanyalah dorongan mental yang membosankan, yang tidak efektif, efesien dan produktif (Qinimain Zain).
BAGAIMANA strategi Anda?
*) Qinimain Zain – Scientist & Strategist, tinggal di Banjarbaru – Kalsel, e-mail: tqz_strategist@yahoo.co.id (www.scientist-strategist.blogspot.com)
11.
rahma sahara | October 15, 2008 at 12:57 pm
Hidup tanpa puisi bagaikan langit tak berbintang. Setiap langkah adalah gerak dan setiap kata adalah puisi. Sadar atau tidak sadar hal itu sudah menyatu dalam aliran darah manusia. Apalagi saat kita dalam keadaan sangat senang, sangat sedih atau jatuh cinta. Pasti kata-kata puitis tercipta tanpa terduga. I love puisi…. Mari belajar puisi!!
12.
inggit | October 22, 2008 at 12:37 pm
saya elalu mengungkapkan perasan say dengan puisi, karena terkadang kata-kata yang sulit diucapkan akan lebih mudah dituangkn dalam bentuk tulisan.
13.
yamoeli halawa | September 11, 2009 at 12:40 pm
ketika saya membaca puisi saudara-saudara ini saya sangat tergoda dengan kata-kata yang lebih sensitif bagi orang orang yang ada disana………..???????????? Tuhan memberkati kamu Amin.