Tak Sengaja Menjadi Guru
January 3, 2008
Judul di atas diambil dari judul buku yang berisi pengalaman guru-guru di negara barat yang dieditori oleh Pearl Rock Kane. Buku yang bersampul dengan ilustrasi yang cukup menarik ini, berisi 25 cerita pengalaman guru yang awalnya hanya coba-coba saja menjadi guru sebagai guru pengganti. Ada yang lulusan universitas, bahkan ada calon dokter anak yang kemudian memutuskan tetap menjadi guru walaupun penghasilannya tidak seberapa.
Menjadi guru di Indonesia, selama ini tidak menarik minat pemuda Indonesia kecuali bagi pemuda dari pedesaan yang memiliki sedikit kesempatan untuk kuliah di IKIP atau FKIP. Selain itu tidak ada minat sedikit pun, kecuali barangkali pada tahun belakangan ini ketika pemerintah menetapkan tunjangan profesional sebesar satu kali gaji pokok.
Mahasiswa keguruan, yang seringkali malu mengakuinya, sering pula mendapatkan julukan sebagai mahasiswa tanda tanya. Tentu bisa bermakna tanda tanya akan kemampuan akademiknya maupun profesionalismenya. Berjalan menunduk karena kurang rasa percaya diri, berbeda dengan rekan-rekannya dari fakultas non keguruan yang selalu tampak enerjik dan ceria.
Secara berseloroh, sering dikatakan bahwa perguruan tinggi hanya dibagi menjadi dua, yaitu keguruan dan nonkeguruan.
Semua kisah menarik dari buku “Tak Sengaja Menjadi Guru” itu diceritakan oleh para guru yang bekerja lebih dari 5 tahun, bahkan ada yang sudah pensiun tapi tetap mengabdi di dunia keguruan. Sekolah yang beragam dengan siswa yang umumnya “sulit diatur” dan “bodoh” cukup membuat frustrasi guru muda. Pengalaman mengajar bagi guru muda menempanya menjadi sebuah niat yang mendalam setelah dijalani selama beberapa tahun.
Kalau di Indonesia ada guru yang tidak bersungguh-sungguh dengan alasan kesejahteraan kurang – di barat juga keadaannya sama. Bedanya barangkali di Indonesia, walaupun sudah menjadi guru tetap, apalagi di sekolah negeri, tetap dianggapnya sebagai pekerjaan paruh waktu. Guru masih bisa melakukan pekerjaanlain di sela-sela waktu mengajarnya, atau bahkan ada juga guru yang dengan enaknya meninggalkan anak-anak didiknya untuk mencari tambahan penghasilan tanpa rasa bersalah. Anehnya jarang sekali ada orang tua atau siswa yang memprotes keadaan demikian.
Siswa barangkali lebih merasa senang jika kelas tidak dihadiri guru. Kita semua tahu, bahwa kelas di sekolah-sekolah Indonesia tidak banyak yang menyenangkan bagi siswa. Kelas adalah medan kerja paksa. Sedangkan orang tua banyak yang tidak melihat adanya alternatif pendidikan seperti pada sekolah alternatif atau “homeschooling”.
Penulis pernah “dididik” seorang guru yang tidak pernah mengajar walaupun guru itu ada di kelas. Guru tersebut hanya mendiktekan catatan untuk dihapal hingga pada akhirnya diberikan soal-sial ujian.
Kondisi ini masih ada sampai saat ini. Kalaupun guru beralasan siswa tidak punya buku, semestinya guru memfotokopikan saja. Biaya fotokopi cukup murah daripada siswa hanya melatih otot tangan untuk menyalin tulisan dari buku yang tidak efisien.
Ada juga guru yang beralasan karena ahan pelajaran tidak urut dan diambil dari beberapa buku. Menurut penulis, apa tidak lebih baik guru membuat ringkasan kemudian menggandakannya dengan fotokopi.
Keadaan di sekolah di Indonesia, cenderung membosankan karena guru lebih terpaku untuk menyelesaikan materi pelajaran daripada menjadikan anak mengerti dan siap menghadapi kenyataan di luar kelas. Ini tampak misalnya dari bangunan gedung yang dindingnya tidak siku-siku karena tukang tidak memahami dan menerapkan tripel pitagoras yang sederhana itu. Tripel pitagoras hanya menjadi bahan hapalan tanpa praktik yang berarti.
Terjadinya banjir di kota-kota pesisir, jarang ditinjau dari segi kesalahan manusianya yang membangun di pesisir sehingga membentuk sabuk bendungan panjang seperti jalan di pantura Jawa tanpa memperhatikan drainase saat volume air maksimal. Air hujan dari arah selatan jalur pantura terbendung oleh jalan raya dan berebut melalui bawah jembatan yang sempit. Atau perkotaan yang dibangun dengan bangunan beton di pesisir atau tanah berawa di pesisir mengakibatkan pantai menjadi lebih tinggi membendung air dari arah tanah yang lebih tinggi. Ini menghabiskan lahan resapan air hujan.
Hukum-hukum dalam pelajaran fisika sudah disampaikan kepada siswa yang saat ini sudah jadi pengembang dan penentu kebijakan, tapi tidak membekas.
Pelajaran Bahasa Indonesia SMP/MTs, misalnya, dalam kurikulum dituntut agar siswa membaca sembilan karya sastra. Tapi kenyataannya di perpustakaan –perpustakaan sekolah jarang yang memiliki sembilan judul buku sastra. Kalaupun ada tidak bisa digunakan untuk kegitan apresiasi karena jumlah eksemplar tiap judulnya sangat terbatas. Penulis tidak yakin seorang guru mampu mengajarkan apresiasi novel “Azab dan Sengsara” jika di perpustakaan hanya ada empat eksemplar sementara siswa tiap kelas ada empat puluhan orang. Pengajaran dari kutipan tidak menjadikan siswa membaca sembilan karya sastra, apalagi di daerah yang sulit mendapatkan akses terhadap buku- buku bahkan dari toko buku sekali pun.
Contoh ini, yang sedang dibaca, secara kebetulan bukunya didapat karena ada seseorang yang mudik ke Jawa pada saat liburan sehingga dapat dititipkan untuk membelikannya.
Yang harus disadari sekarang adalah apakah guru-guru di Indonesia menjadi guru yang sengaja dengan niat, atau tidak sengaja menjadi guru, atau menjadi guru tanpa puna tujuan?
Kiranya para guru dan calon guru perlu membaca buku yang diterbitkan oleh penerbit MLC, yang sampai saat ini sudah mengalami cetak ulang yang kedua.
Entry Filed under: Artikel, Uncategorized. .
16 Comments Add your own
Leave a Comment
Some HTML allowed:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>
Trackback this post | Subscribe to the comments via RSS Feed
1.
enggar | January 3, 2008 at 4:58 pm
Saya juga sudah baca bukunya, Pak. Bagus.
2.
Willy Ediyanto | January 4, 2008 at 12:24 am
Ya. Inspiratif buat guru-guru Indonesia yang serba bimbang dengan kesejahteraan.
Kesejahteraan penting. Tapi ada yanglebihpenting, yaitu memperbaikimentalitas bangsa Indonesia.
Perlu memutuskan mata rantai korupsi melalui pendidikan dan reformasi termasuk yangharus dimasuki dengan menyiapkan pemimpin muda freshgraduate seperti zamannya Sukarno dkk. Putus dari rezim lama yang sudah akut korupsi.
Jadi guru saja. Insyaallah selamat dunia akhirat. Masih banyak yang lebihmenderita dari guru. Kesarjanaan kan sekedar kesempatan. Toh banyak sarjana yang tidak berisi mental sarjana. Sarjana hanya gelar. Ya di situlah bibit koruptor
3.
ethie | January 14, 2008 at 9:23 am
Membaca tulisan Pak Willy saya jadi tersenyum sendiri. Karena saya seharusnya jadi guru.. tapi malah banting setir jadi wartawan. Dengan asumsi, jika suatu saat nanti saya jadi guru (walaupun hanya guru untuk anak sendiri..hehehe), tapi setidaknya saya pernah menjalani profesi lain. Mumpung masih muda, kan Pak?
4.
ethie | January 14, 2008 at 9:25 am
Sejujurnya, saya kangen menggeluti dunia pendidikan. Doakan ya, Pak..
5.
Willy Ediyanto | January 14, 2008 at 9:44 am
Guru kan tidak harus di kelas. Kamu jadi guru untuk mencerdaskan masyarakat. Lebih luas. Saya kira gak salah itu.
Yang penting mempunyai tujuan mencerdaskan bangsa. Objeknya saja yang berbeda.
6.
Ersis W. Abbas | January 16, 2008 at 9:01 am
Yap, bagus. Yang penting jadi guru yang mencerdaskan bukan guru yang menghambat pencerdasan; karena guu itu sendiri ngak cerdas he he.
7.
Willy Ediyanto | January 16, 2008 at 11:37 pm
Ya, begitu itu kondisinya. hua hua.
8.
helgeduelbek | January 18, 2008 at 3:43 am
Guru ya guru… sepertinya banyak guru yang tidak menyadari bahwa dirinya guru, seperti saya, kadang kita menempatkan diri tidak sebagai guru karena kondisi lingkungan yang membuat diri terpaksa untuk itu.
Sosok guru bukanlah suatu hal penting, guru ada dimana saja… termasuk untuk pelajar dan mahasiswa bisa memperoleh guru dari mana saja. Guru secara resmi atau tidak resmi adalah tetap guru, yang tidak perlu pengakuan bahwa dirinya guru.
Jika kita sengaja jadi guru lalu ditengah jalan ternyata kita bukan guru ini lebih beresiko.
Weleh nglantur ya….
Wassalam.
9.
Tuti JR | January 21, 2008 at 4:03 pm
Jadi guru kok … tidak sengaja sich ??? Masih banyak lho pak… orang yang sengaja ingin menjadi guru. Salah satunya adalah saya… ketika saya lulus SMA tahun 1974… saya langsung mendaftarkan diri ke IKIP Surabaya (sekarang Universitas) … sementara teman-teman saya mendaftar ke perguruan tinggi selain IKIP…. Ketika salah seorang teman saya mengetahui hal ini… teman saya itu mentertawai saya… tetapi saya tidak surut semangat… Walhasil saya mengikuti tes dan lulus tes. Kuliahlah saya.. dan lulus tahun 1978 Sarjana Muda kemudian melanjutkan doktoralnya ke IKIP Malang… belum selesai karena saya menikah… dan… saya menjadi guru sambil melanjutkan pendidikan … lulus sarjana S1 tahun 2003 … lulus Magister Pendidikan (S2) tahun 2005… saya sangat bangga menjadi guru… dimanapun berada apabila ada yang bertanya kepada saya tentang profesi saya …, saya dengan bangga mengatakan saya adalah guru… . Bagi saya kehormatan bukan terletak pada materi tetapi keluhuran budi yang harus dijunjung tinggi… itulah prinsip hidup yang diajarkan orang tua saya sejak saya kecil… Hingga kini… Alhamdulillah … saya bahagia menjadi guru …
10.
Willy Ediyanto | January 24, 2008 at 12:36 am
Helgeduelbek & Tuti JR,
Terima kasih atas kunungannya, wah senang dikunjungi mahasiswa S2 dan magister.
Sebuah kehormatan besar, bukankah mahasiswa s2 sangat sibuk dengan tugas-tugas perkuliahan? Dan magister, bikin ngiler. Saya kelihatannya gak sempat ikut S2. Tapi nggak apa-apa, kan.
Menjadi guru banyak yang tidak sengaja, banyak yang sengaja. Itu selalu seimbang. Ketika masuk kuliah, yangmasuk ke IKIP atau FKIP jalannyamenunduk karena rendah diri. Yang masuk ke non pendidikan berdiri dengan kepala tegak bahkan tengadah. Begitu lulus kuliah kependidikan, mereka tetap santun dan rendah diri. Yang mengambil non kependidikan, kemudian malah banyak yang ngambil Akta mengajar. Nah nyerobot kapling lagi.
Masalahnya mencari pekerjaan ternyata sulit. Jiwa petualang kerja tidak ada. Yang tampak, jadi guru mudah. Ini pemerkosaan pendidikan namanya.
Ini sih opini saya saja, lho.
11.
Rega Fasbila | May 9, 2008 at 7:36 am
Bagus tuch ceritanya,,,GURU/ itulah yang aku banggakan selain seorang IBU. . . . . .
12.
nzen | July 29, 2008 at 3:26 am
semua punya kesempatan.. entah itu jadi guru atau bukan. asal mampu berkompetisi. seperti hukum seleksi alam, yang tidak mampu tdk akan bertahan hidup. analoginya sama dng kasus ini. mau lulusan keguruan kek, atau non keguruan kek, kalau tidak mampu berkompetisi harap MINGGIR !!!
no comment please.
13.
anti | November 9, 2009 at 7:10 am
saya dah baca bukunya. apik tenan…trus tak promosikan ke teman2 pada tertarik. akhirnya bergilir…akibatnya sekarang gak tahu dimana bulkunya….
14.
Willy Ediyanto | November 9, 2009 at 1:56 pm
Anti: Sayang ya. Nasib buku sering seperti itu. Saya sudah mengalami beberapa kali.
15.
sunarnosahlan | November 24, 2009 at 12:32 am
tak sengaja menjadi guru?
rasanya itulah saya, pendidikan guru saya ambil bukan jalur yang semestinya, saya mengambil akta IV setelah disebut sebagai guru, semuanya berjalan seperti air mengalir saja
16.
Willy Ediyanto | November 25, 2009 at 2:42 pm
Tapi tetap meningkatkan kompetensi kan, Pak?