Pembelajaran di Era Digital

November 7, 2007

Setelah empat hari mengikuti pelatihan information and Communication Technology (ICT) atau yang lebih dikenal sebagai TIK (Teknologi Informasi dan Komunikasi) yang berlangsung di PSBB dan MAN Model Palangkaraya sejak 5 November 2007, tersadarlah semua peserta dari seluruh kabupaten di Kalimantan Tengah bahwa saat ini komputer sudah merambah ke hampir seluruh penjuru dunia.
Pada saat ini kehadiran komputer sudah sejajar dengan televisi dan telepon seluler, dan sudah menjadi kebutuhan yang sayangnya tidak banyak disadari oleh para guru dan orang tua siswa.
Ketidaksadaran guru dan orang tua siswa terhadap ICT adalah dengan masih banyaknya guru dan orang tua yang tidak menjadikan komputer sebagai sebuah prioritas. Banyak di antara mereka yang lebih mengutamakan ponsel dengan sejuta fitur dan harga yang selangit dibandingkan dengan prioritas pembelian komputer.
Guru sebagai ujung tombak pendidikan, masih banyak yang gagap dengan teknologi komputer. Komputer belum menjadi objek pembelajaran pribadi. Di sisi lain, bagi siswa, komputer sudah menjadi objek pembelajaran. Bahkan di seluruh sekolah maju, komputer bukan lagi menjadi objek pembelajaran, melainkan sudah menjadi sekedar alat dan media pembelajaran.
Ada tiga skenario besar pembelajaran yang berkaitan dengan komputer, 1) komputer sebagai objek pembelajaran, 2) komputer sebagai alat pembelajaran, dan 3) komputer sebagai media pembelajaran.
Pada skenario pertama, sekolah menjadikan komputer sebagai objek pembelajaran. Komputer adalah mata pelajaran. Kondisi yang ada pada situasi ini adalah siswa belum mengenal komputer, kemudian siswa belajar komputer. Yang dipelajari oleh siswa adalah aplikasi yang ada di komputer seperti wordprosesor dan worksheet.
Sampai saat ini beberapa sekolah ada yang baru mencapai tahap ini.
Skenario kedua, komputer sebagai alat pembelajaran. Siswa memanfaatkan komputer untuk digunakan dalam mengerjakan tugas sekolah. Misalnya, siswa membuat makalah atau presentasi menggunakan aplikasi office.
Skenario ketiga, belajar melalui komputer. Pada tahap ini siswa dan guru sudah menguasai komputer, bukan lagi mempelajari komputer. Komputer digunakan sebagai media pembelajaran. Saat ini anyak beredar software pembelajaran berupa CD/DVD ROM interaktif. Selain itu dapat juga memanfaatkan internet secara online untuk mengambil berbagai sumber belajar yang ada.
Percepatan belajar akan lebih terasa pada tahap ketiga ini. Ini bias tejadi karena peran guru tidak lagi utama dalam pembelajaan. Guru bukan sumber belajar yang harus menguasai bahan ajar dan menyampaikannya kepada siswa. Guru hanya memberikan rambu-rambu apa yang harus dikuasai oleh siswa. Selanjutnya siswa secara mandiri mencari dan mempelajarinya.
Pada tahap ketiga ini, guru haus menginformasikan sejumlah Standar Kompetensi Lulusan (SKL) untuk selanjutnya siswa mencarinya dan mempelajarinya sendiri melalui CD/DVD pembelajaran maupun memanfaatkan internet.
Ketika komputer menjadi media pembelajaran, bukan hanya sumber belajar yang bisa dicari oleh siswa. Guru pun bisa memanfaatkan fasilitas internet untuk memberikan tugas melalui website atau blog yang dibangunnya.
Tugas-tugas yang diberikan kepada siswa dapat dibuka di website atau blog. Selanjutnya pekerjaan siswa dikumpulkan melalui email.
Skenario ketiga ini bukan lagi merupakan sebuah impian. Skenario ini sudah menjadi kenyataan. Ujian interaktif dan online sudah bermunculan di internet. Siswa yang sudah menguasai TIK junlahnya sudah mencapai jutaan orang. Tetapi di balik itu semua, masih ratusan ribu guru yang masih buta TIK.
Untuk percepatan, alangkah idealnya jika mulai saat ini TIK tidak hanya diajarkan kepada siswa, tetapi juga kepada para guru. Guru harus menguasai TIK, Aplikasi pembelajaran, pembuatan media pembelajaran interaktif, dan internet. Termasuk di dalamnya pembuatan presentasi untuk pembelajaran tatap muka.
Walaupun siswa bisa belajar secara mandiri dan ujian secara online dan mengumpulkan tugas melalui email, kegiatan belajar tatap muka tetap diperlukan.
Pengajaran moral dan etika serta akidah masih menjadi pertimbangan penentu keberhasilan siswa. Kedua hal ini hanya bisa dinilai melalui ranah afektif dan psikomotor yang harus diamati secara fisik. Setelah mengumpulkan tugas pun masih harus ada kegiatan presentasi laporan siswa di hadapan guru.
Tahap ketiga ini bukannya masih jauh. Tahap ini sudah di depan mata. Tetapi seperti halnya gajah, tak terlihat ketika berada di pelupuk mata. Masih beribu-ribu, bahkan berjuta-juta anak bangsa ini yang belum menyadarinya. Apakah kita masih belajar secara tradisional?

Entry Filed under: Artikel, Uncategorized. .

8 Comments Add your own

  • 1. enggar  |  November 7, 2007 at 6:32 am

    Perlu dukungan banyak pihak untuk memelekkan guru dengan TIK. Saya kira, beberapa sekolah sudah mulai menuju ke skenario pembelajaran ketiga. Dan alangkah baiknya, jika kita bisa saling berbagi tentang penerapan skenario ini dalam pembelajaran. Bagaimana, Pak?

    Reply
  • 2. mariatulkiftiah  |  November 7, 2007 at 8:09 am

    Setuju. TIK bukan barang keramat yang tidak bisa dibagi-bagi.
    TIK seperti air laut. semakin diminum semakin menghauskan.
    TIK seperti kita menanam kebaikan,
    semakin ditebar akan semakin berpahala.

    Meraih surga tanpa pamrih.

    Reply
  • 3. awan  |  November 7, 2007 at 11:44 pm

    Mari kita manfaatkan teknologi informasi sebagai alat bantu kita dalam memecahkanlan masalah dan menyelesaikan perkerjaan. TIK jangan dianggap barang yang sangat indah untuk dilihat dan didengar tapi gunakanlah sebaik mungkin mulai hari ini.

    Reply
  • 4. Willy Edi  |  November 9, 2007 at 12:30 am

    Sayangnya dalan pelatihan ICT masih menggunakan OS jendela.

    Reply
  • 5. kangguru  |  November 9, 2007 at 3:02 am

    Kalau masalah TIK banyak siswa yang lebih pinter dari gurunya ya hehehhehe

    Reply
  • 6. Willy Edi  |  November 10, 2007 at 3:42 am

    ya. Apa golongan tua, guru, trtauma terhadap perubahan. Gak semuanya sih, cuma gejalanya begitu.

    Reply
  • 7. Syarif Winata  |  November 19, 2007 at 8:45 am

    Sip.. saya ikut nyumbang konten deh di blog saya semoga bermanfaat bagi anak didik kita di Kalimantan Tengah

    Reply
  • 8. Willy Ediyanto  |  November 22, 2007 at 2:42 am

    siip deh buat Pak Syarif.

    Reply

Leave a Comment

Required

Required, hidden

Some HTML allowed:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Recent Comments

mfiqri on Membedah Otak Einstein
rera on Sertifikasi Guru, Bumerang bag…
Willy Ediyanto on Sertifikasi Guru, Bumerang bag…
bayu putra on Sertifikasi Guru, Bumerang bag…
Willy Ediyanto on Sertifikasi Guru, Bumerang bag…

Archives

Blogroll

Top Posts

Categories

Blog Stats

 

November 2007
M T W T F S S
« Oct   Dec »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
2627282930  

Recent Posts

Pages

Meta