‘Homeschooling’, Kebutuhan atau Ketidakpercayaan

October 9, 2007

Homeschooling (sekolah rumah) saat ini mulai menjadi salah satu pilihan orang tua dalam mendidik anak-anaknya. Pilihan ini terutama disebabkan oleh adanya pandangan atau penilaian orang tua tentang kesesuaian bagi anak-anaknya.
Bisa juga karena orang tua merasa lebih siap untuk menyelenggarakan pendidikan bagi anak-anaknya di rumah. Ini banyak dilakukan di kota-kota besar, terutama oleh mereka yang pernah melakukannya ketika berada di luar negeri.


Sekolah rumah, menurut Ella Yulaelawati, direktur Pendidikan Kesetaraan Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas), adalah proses layanan pendidikan yang secara sadar, teratur dan terarah dilakukan oleh orang tua atau keluarga di mana proses belajar mengajar berlangsung dalam suasana yang kondusif.
Tujuannya agar setiap potensi anak yang unik dapat berkembang secara maksimal. Rumusan yang sama dikemukakan oleh Dr Seto Mulyadi, Ketua Komisi Nasional Perlindungan Anak.
Menurut Ella, ada beberapa alasan orang tua di Indonesia memilih sekolah rumah. Antara lain, dapat menyediakan pendidikan moral atau keagamaan, memberikan lingkungan sosial dan suasana belajar yang baik, dan dapat memberikan pembelajaran langsung yang konstekstual, tematik, nonskolastik yang tidak tersekat-sekat oleh batasan ilmu.
Dalam kunjungannya ke Palangkaraya (Borneonews, 1/10), Ella menilai bahwa penerapan sekolah rumah ini ideal untuk mengatasi kesulitan memperoleh layanan pendidikan dasar di daerah-daerah pedalaman, terpencil, dan saling tersebar. Pelaksanaanya dengan melaksanakan sekolah maya, yaitu belajar melalui sistem online lewat komputer dan internet yang diletakkan di ruang publik.
Penulis dalam artikel yang dimuat di harian ini pada edisi yang sama sudah mengemukakan keadaan nyata di Kalteng. Rupanya Ella lupa bahwa negeri ini terdiri dari ribuan pulau yang mungkin belum setengahnya yang terangkum dalam sebuah jaringan internet. Ibu Ella tidak pernah mau tahu, bahwa di luar batas kecamatan masih ada desa yang jumlahnya ribuan, jauh dari desa pun masih ada dusun dan gerumbul yang begitu sederhana kehidupannya. Namun di sana ada sekelompk manusia yang haus membaca. Di desa seperti itu, jangankan internet, listrik saja belum tentu ada.
Beberapa kali media massa memberitakan adanya desa terpencil, kecamatan terpencil, pulau terpencil yang ada penduduknya dengan sekian puluh di antara mereka adalah anak-anak usia sekolah. Mereka tidak mendapatkan akses pendidikan seperti di kota-kota. Harian ini pun beberapa kali memuat reportase tentang sedikit asa mereka dalam mencoba meraih pengetahuan.
Sampai saat ini sejauh pengetahuan penulis, di Kalimantan tengah, internet baru menjangkau kota-kota kecamatan yang berdekatan dengan ibukota kabupaten. Selepas dari itu, jangankan internet, listrik saja belum tentu bisa didapatkan. Syukurlah bahwa beberapa hari terakhir ini pemerintah mulai membagikan listrik tenaga surya sehingga sampai ke pelosok hutan pun akan dapat dialiri listrik. Walaupun dalam kenataannya listrik tenaga surya itu hanya akan diadakan sepanjang mendapatkan bantuan dari pemerintah. Biaya pengadaan listrik tenaga surya saat ini paling murah sekitar lima juta rupiah.
Selanjutnya mengenai tutor di daerah pedalaman. Jarangnya orang yang mengerti pendidikan di daerah pendalaman merupakan kendala tersendiri. Orang tua anak tidak bisa diharapkan banyak, karena sebagian dari orang tua di pedalaman pun adalah orang-orang yang tidak pernah mengenyam pendidikan formal. Konsep sekolah rumah itu sendiri sudah dilaksanakan untuk bekal kehidupan di lingkungannya. Sedangkan untuk keilmuan modern dan keterampilan-keterampilan mutakhir, sangat sulit untuk didapatkan.
Belum lagi sulitnya mencari operator dan instruktur komputer di daerah pedalaman. Guru di sekolah formal di kota kabupaten saja belum seluruhnya mampu mengoperasikan program-program komputer. Bagaimana dengan di pedalaman sana. Lagi pula, apakah murah biaya untuk mengadakan internet sampai ke pedalaman?
Mengenai sekolah rumah itu sendiri diperlukan persyaratan yang tidak sederhana. Sekolah rumah yang banyak dilakukan di kota-kota besar, dilaksanakan karena adanya kondisi yang mendukungnya. Kondisi yang mendukung itu adalah adanya orang tua atau orang dewasa yang mampu menjadi penggerak kegiatan sekolah rumah. Bisa juga karena adanya kesibukan siswa pada saat bersamaan dengan waktu sekolah. Di kota besar, tidak seperti di pedalaman Kalteng, internet bukanlah hal yang sulit didapatkan.
Sekolah rumah bisa juga dipilih untuk melengkapi kegiatan belajar rutin sebagai alternatif bentuk belajar. Pada anak-anak tersisih yang tidak mendapatkan akses pendidikan formal, sekolah rumah diikuti karena tidak mendapatkan akses pendidikan formal. Ini karena anak-anak itu harus bekerja pada siang hari.
Tidak tertutup kemungkinan bahwa di kota-kota besar atau di luar negeri, sekolah rumah dilaksanakan karena ketidakpercayaan terhadap dunia pendidikan formal. Kita semua tahu bahwa pendidikan formal di Indonesia bisa dikatakan gagal membentuk manusia yang cerdas sesuai amanat UUD 1945. Pendidikan seringkali dirasakan sebagai sebuah beban yang harus dijalani siswa tanpa rasa gembira. Pendidikan formal seringkali pula tidak mampu menyalurkan bakat-bakat siswa yang berpotensi. Siswa bersekolah tapi dipenuhi dengan beban yang harus diselesaikannya.
Pendidikan yang “bagus” seperti pada sekolah unggulan atau sekolah percontohan juga tidak memberikan solusi untuk anak-anak yang mempunyai kemampuan kognitif di atas atau di bawah rata-rata. Sekolah seringkali menjadi beban bagi anak-anak seperti ini. Nah, bagi siswa dengan kemampuan khusus seperti ini sekolah rumah sangat cocok untuk diterapkan.

Willy Ediyanto
Praktisi pendidikan,
tinggal di Kumai

Entry Filed under: Artikel, Uncategorized. .

7 Comments Add your own

  • 1. willyedi  |  October 25, 2007 at 2:31 am

    aha

    Reply
  • 2. benbego  |  October 28, 2007 at 9:23 pm

    keduax!

    Reply
  • 3. Willy Ediyanto  |  November 1, 2007 at 1:02 am

    makasih. kunjung ah.

    Reply
  • 4. Ersis Warmansyah Abbas  |  November 1, 2007 at 1:48 pm

    Sibuk kali ya … lambat kali kawnku ini ngapdate … pingin posting baru he he

    Reply
  • 5. Willy Edi  |  November 2, 2007 at 12:08 am

    Sudah dua mingguan saya gak bisa posting, padahal sudah ada beberapa artikel. Mohon maaf kepada semua pengunjung. Juga khusus untuk Bang Ersis ini.

    Reply
  • 6. Tuti JR  |  January 21, 2008 at 3:37 pm

    Saya sich kurang setuju apabila alasan kognitifnya saja yang dikedepankan orang tua untuk memberikan pendidikan anak-anaknya melalui home schooling, sebab masih banyak kok sekolah-sekolah yang bagus atau unggulan yang dapat memfasilitasi anak-anak yang berbakat dan mempunyai intelektual tinggi berkompetisi di arena nasional maupun internasional. Oleh karena itu anak-anak yang disekolahkan di sekolah formal masih lebih beruntung karena dapat bermain … bersosialisai dengan teman-teman sebayanya… dan berbagai kegiatan lain yang tidak diperoleh di home schooling. Demikianlah… ada hal yang tidak boleh dilupakan oleh orang tua bahwa anak-anak kita tidak hanya perlu mengejar kognitifnya saja butuh aktivitas lain yang tentunya hanya dapat diperoleh di sekolah formal untuk mengembangkan dan mematangkan emosionalnya. Sehingga, kelak dapat menjadi orang yang tidak saja pandai tetapi juga bijak.

    Reply
  • 7. Willy Ediyanto  |  January 24, 2008 at 12:38 am

    Setuju.

    Reply

Leave a Comment

Required

Required, hidden

Some HTML allowed:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Recent Comments

mfiqri on Membedah Otak Einstein
rera on Sertifikasi Guru, Bumerang bag…
Willy Ediyanto on Sertifikasi Guru, Bumerang bag…
bayu putra on Sertifikasi Guru, Bumerang bag…
Willy Ediyanto on Sertifikasi Guru, Bumerang bag…

Archives

Blogroll

Top Posts

Categories

Blog Stats

 

October 2007
M T W T F S S
« Sep   Nov »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031  

Recent Posts

Pages

Meta