Menulis, Satu Bukti Profesionalisme Guru

September 19, 2007

Sudah cukup banyak artikel berupa opini maupun berita yang membahas masalah profesi guru. Banyak pula guru yang membicarakannya dengan mata berbinar karena dengan pengakuan guru professional berarti juga peningkatan kesejahteraan. Satu syarat yang dapat dijadikan indikator guru professional adalah jika dia telah lulus uji sertifikasi.
Sesuai dengan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem


Pendidikan Nasional, jabatan guru sebagai pendidik merupakan jabatan professional. Untuk itu profesionalisme guru dituntut agar terus berkembang sesuai dengan perkembangan zaman, ilmu pengetahuan dan teknologi, serta kebutuhan masyarakat termasuk kebutuhan terhadap sumber daya manusia yang berkualitas dan memiliki kapabilitas untuk mampu bersaing di forum regional, nasional, maupun internasional.
Untuk bisa memenuhi kriteria sebagai guru professional maka Departemen Pendidikan Nasional telah menetapkan Standar Kompetensi Guru yang mencakup tiga komponen, yaitu: 1) komponen kompetensi pengelolaan pembelajaran dan wawasan pendidikan, 2) komponen kompetensi akademik/vokasional, dan 3) komponen pengembangan profesi.
Sebagian besar guru yang berlatar belakang pendidikan keguruan sudah memenuhi syarat dan menguasai dua komponen kompetensi yang pertama, yaitu pengelolaan pembelajaran dan wawasan pendidikan serta kompetensi akademik. Masalah profesionalisme muncul ketika dihadapkan dengan komponen ketiga, yaitu kompetensi pengembangan profesi.
Kompetensi pengembangan profesi dalam ranah profesionalisme guru tidaklah berbeda dengan pengembangan profesi dalam persyaratan untuk usul penetapan angka kredit guru dalam kerangka kenaikan pangkat. Pada umumnya guru langsung beranggapan bahwa pengembangan profesi berarti menyusun karya tulis. Selanjutnya menyusun karya tulis berarti menyusun buku atau menyusun makalah yang harus diseminarkan. Ini adalah sebuah kekeliruan.
Bertumpuk buku mengenai standar kompetensi guru dan pedoman penyusunan karya tulis ilmiah di bidang pendidikan umumnya berdebu di rak buku kepala sekolah. Berdebu atau bahkan dimakan kutu buku. Guru tidak membacanya, mungkin karena segan membuka lemari buku yang terletak di ruang kepala sekolah atau guru masih hidup dalam peradaban lisan. Guru masih banyak yang alergi terhadap buku apalagi internet yang merupakan gudangnya ilmu. Padahal jelas sekali dalam buku pedoman angka kredit, pedoman penyusunan karya tulis ilmiah, dan standar kompetensi guru dijelaskan bahwa karya tulis bisa berupa: 1) karya ilmiah hasil penelitian yang berbentuk buku atau dalam majalah ilmiah, 2) karya ilmiah dalam bentuk makalah, 3) tulisan ilmiah populer yang disebarluaskan melalui media massa, 4) prasaran dalam pertemuan ilmiah, 5) buku pelajaran atau modul, 6) diktat pelajaran, atau 7) mengalihbahasakan buku pelajaran.
Dari beberapa bentuk karya tulis yang mungkin dilakukan oleh guru, tentu disesuaikan dengan kemampuan guru itu sendiri, ada yang relatif cukup cepat dan mudah, akan tetapi ada juga yang lama dan sulit. Sebagai contoh, penulis akan mengemukakan yang mudah menurut diri penulis yaitu tulisan ilmiah populer di bidang pendidikan dan kebudayaan yang disebarluaskan melalui media massa atau karya tulis ilmiah yang dipublikasikan dalam majalah ilmiah.
Publikasi melalui majalah ilmiah mempunyai aturan yang ketat namun mudah untuk diikuti. Angka krdit yang bisa diperoleh adalah 4 (empat). Namun pada umumnya majalah ilmiah terbit sebulan sekali, dua bulan sekali, tiga bulan sekali, atau bahkan setahun sekali. Bisa kita bayangkan betapa lamanya menunggu waktu pemuatannya. Biasa pula untuk penerbitan karya tulis ilmiah dalam jurnal ilmiah, karena tidak didukung iklan kemudian penulisnya dimintai sejumlah dana untuk biaya pencetakan.
Sekarang mari kita bandingkan dengan kalau guru menulis di media massa berupa surat kabar. Kita tahu, surat kabar di Indonesia jumlahnya mungkin mencapai ratusan buah, setiap hari terbit, ada yang berlingkup lokal dan ada juga yang berlingkup nasional. Dalam satu edisi, surat kabar umumnya mempublikasikan dua artikel. Pada media massa yang besar dan kuat bahkan sanggup memberikan honorarium kepada penulisnya. Tentu redaksi mempunyai standar tersendiri berhubungan dengan kualitas dan harga jual tulisan itu. Memang angka kredit untuk tulisan ilmiah populer hanya 2 (dua). Akan tetapi jika dibandingkan dengan frekuensi publikasinya tentu akan lebih menguntungkan dan dari segi pembaca, jumlahnya jauh lebih banyak jika dibandingkan dengan jurnal ilmiah. Jika seorang guru mampu menulis satu artikel setiap bulan, maka dalam dua tahun akan terkumpul 48 angka kredit. Sebuah angka kredit yang besar.
Di Kalimantan Tengah, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan telah mengeluarkan surat Nomor 050/236/Dikmenti/2007 tentang Informasi Seleksi Peserta Diklat Program Guru Meneliti bertanggal 5 Februari 2007. Sayangnya batas waktu pengiriman proposal penelitian terpaut 19 hari saja, yaitu tanggal 24 Februari 2007.
Diklat yang dilatarbelakangi oleh kendala kesulitan menyusun karya tulis bagi guru berpangkat IV/a itu, dalam suratnya dialamatkan ke pada kepala-kepala sekolah. Sayang sekali surat itu, di Kotawaringin Barat, hanya sampai di Dinas Pendidikan dan Pengajaran. Tidak sampai ke sekolah-sekolah. Padahal sekolah lebih berkepentingan dengan surat itu. Yang perlu diingat adalah bahwa tidak semua kepala sekolah memiliki atensi terhadap hal-hal seperti ini, dan guru pada umumnya tidak pernah atau jarang sekali datang ke Dinas Dikjar. Dinas Dikjar yang semestinya memberikan informasi ke sekolah-sekolah pun tampaknya tidak peduli. Sayang sekali ketidakpedulian itu tidak diimbangi dengan keleluasaan memanfaatkan internet sebagai sumber informasi karena kendala yang ada pada diri guru dan di luar kemampuan guru.
Guru sendiri tampaknya masih terlalu asyik dengan kepentingannya sendiri sehingga masalah profesionalisme tidak menjadi prioritas. Tampaknya berbagai pihak harus berinisiatif mengurai benang kusut ini. Pihak guru harus mengubah pola pikir, begitu juga penentu kebijakan pendidikan, juga harus mengubah kebijakan yang tidak tepat itu. Kita patut prihatin dengan penurunan anggaran pendidikan APBN 2008. Dengan anggaran tahun 2007 saja dunia pendidikan tidak bergerak maju, apalagi jika dananya dikurangi.
Mau dibawa kemana dunia pendidikan kita?
Willy Ediyanto, S.Pd.
Praktisi Pendidikan,
Tinggal di Kumai

Entry Filed under: Artikel, Uncategorized. .

14 Comments Add your own

  • 1. wina  |  November 5, 2007 at 6:46 am

    saya rasa untuk kenaikan tingkat untuk menjadi guru yang profesional terlalu dipersusah. kenapa tidak dari dulu dimulai dan baru sekarang. padahal guru sangat berjasa bagi masa depan bangsa kita. terima kasih .

    Reply
  • 2. Willy Ediyanto  |  November 6, 2007 at 1:58 am

    Begitu tampaknya.

    Reply
  • 3. ifta  |  November 22, 2007 at 4:00 am

    Sertifikasi telah memberikan pencerahan bagi guru, setidaknya sekarang ini hasil kerja guru baik di lingkungan sekolah maupun di masyarakat sangat di hargai. semoga kelak hal seperti ini akan terus berlanjut sehingga kesejahteraan gurupun akan meningkat…

    Reply
  • 4. Willy Ediyanto  |  November 23, 2007 at 2:54 pm

    Amiin.

    Reply
  • 5. Suhadi  |  March 10, 2008 at 5:17 pm

    dengan program sertifikasi guru, saya sering di untungkan, sebagai pemilik warung penyet. seperti program sertifikasi guru agama islam yang digelardi kampus IAIN walisongo, setiap ada kegiatan , banyak perserta yang jajan di warung penyet saya.
    namawarung saya yaitu Sedp Malam, letaknya di seberang jalan kampus 3 IAIN Semarang.

    Reply
  • 6. ey_coss  |  April 16, 2008 at 5:03 pm

    nah….. gitu dunk…… guru sekarang harus tuambah kreatif n nda blh gaptek…… bagi guru yang males2an buang aja kelaut,,,,,,

    Reply
  • 7. Willy Ediyanto  |  April 17, 2008 at 12:02 am

    Buang ke laut. Buang aja. Gak banyak berguna. Malah mengganggu pihaklain seperti becak di Jakarta.

    Reply
  • 8. Yuyun  |  April 17, 2008 at 4:35 am

    menurut saya, ini sebuah pembaharuan yang perlu diacungkan jempol. Sayangnya pemerintah kite ini kalo bikin program asel ngeluncurin aje tanpa ada pengawasan kelapangan. Terbukti di kota ane banyak penyelewengan proese perekrutan sertifikasi, dan juge temen-temen yang katenye lulus sertifikasi beluom terlihat tuh keprofesionalan dalm kerjanye. Yah, ane pikir semua ini percuma, hanya buang-buang duit negare aje.Tidak adil. dan juge percume, soalyna harga sembako tetep aje mahal, so kagak ade sisa tuk ditabung deh……..

    Reply
  • 9. Willy Ediyanto  |  April 19, 2008 at 12:17 am

    Ye, dan kite harus ngantri minyak, sembako, gas. Sebentar lagi kalo orang-orang pake kayu bakar, kayu bakar juga bakalan antri ntuk ngedapetinnye.
    Perekrutan peserta sertifikasi malah lucu di Depag.
    Kenape kagak diprogramkan macam usul PAK saja. Maksudnya guru menilai diri sendiri dulu. Kalau kira-kira lulus baru bisa mengajukan, daripada banyak yang mubazir kemudian nggak lulus juga, akhirnya ya diklat lagi diklat lagi.
    Makasih atas kunjungannya.

    Reply
  • 10. Mega yunawati  |  March 8, 2009 at 1:41 am

    Saya setuju kalau guru itu harus menulis…karena kita kan sekarang sudah hidup di zaman sejarah bukan zaman pra sejarah lagi………

    Reply
  • 11. rere  |  March 10, 2009 at 5:12 pm

    apa benar guru yang udah lulus sertifikasi sudah profesional…

    Reply
  • 12. Willy Ediyanto  |  March 15, 2009 at 3:23 pm

    Kalau guru gak nulis, trus apa yang dikerjain?
    Guru lulus sertifikasi tidak menjamin profesional. Bukan begitu?

    Reply
  • 13. eko siswanto  |  May 8, 2009 at 3:20 am

    Mas thank dah di link…..
    mt bimbinganya soal ngotak atik wordpress ya,,,cz q baru…neh…..n bagi2 info gtu,,,,,,

    Reply
    • 14. Willy Ediyanto  |  May 9, 2009 at 9:20 am

      Makasih juga. WP saya juga hanya sekedar pakai, coba di dashboard, coba, cari pakai om google. itu aja deh. atau coba di link sebelah ada helgeduelbek. Itu kawan saya yang hobi ngutak-atik WP dll. Infonya cukup membantu.

      Reply

Leave a Comment

Required

Required, hidden

Some HTML allowed:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Recent Comments

mfiqri on Membedah Otak Einstein
rera on Sertifikasi Guru, Bumerang bag…
Willy Ediyanto on Sertifikasi Guru, Bumerang bag…
bayu putra on Sertifikasi Guru, Bumerang bag…
Willy Ediyanto on Sertifikasi Guru, Bumerang bag…

Archives

Blogroll

Top Posts

Categories

Blog Stats

 

September 2007
M T W T F S S
« Aug   Oct »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930

Recent Posts

Pages

Meta