Dicari: Guru Penulis
September 19, 2007
Guru penulis, maksudnya bukanlah guru yang mendidik siswa untuk menjadi penulis, karena bagaimana pun saya percaya dengan Ersis Warmansyah Abbas (EWA), penulis buku Menulis Sangat Mudah, bahwa “sangat lucu ketika seorang teman mengukuti penataran menulis. Gilanya, si penatar belum pernah menulis buku. Coba pakai logika yang paling sederhana, mungkinkah orang yang tidak pernah menulis ‘mengajari’ bagaimana cara menulis”. Singkat kata EWA ingin mengatakan, “jangan belajar menulis kepada orang yang tidak pernah menulis”.
Sayang sekali dalam dunia pendidikan pada saat ini, ketika kurikulum yang dipakai adalah kurikulum 2006 berbasis kompetensi yang salah satu metode yang dipakai adalah Contextual Teaching and Learning (CTL) atau pembelajaran kontekstual, guru-guru kita masih banyak yang mengajarkan materi menulis dalam pelajaran Bahasa Indonesia, tapi guru sendiri tidak memiliki kompetensi menulis. Bagaimana mau mengajarkan menulis kalau gurunya tidak pernah menulis. Bagaimana siswa akan memiliki kompetensi menulis jika yang diajarkan hanya terori menulis. Teori menulis tidak akan pernah menjadikan siswa mampu menulis. Di sinilah peran CTL. Guru harus menjadi model dalam pembelajaran menulis dengan menunjukkan karyanya. Kemudian siswa belajar menulis dengan praktik langsung menulis. Berapa banyak yang sanggup melakukan itu?
Di Kumai ada sebuah langkah yang cukup menggembirakan. Dengan diusung oleh seorang guru dan seorang sastrawan yang menggerakkan sekitar empat puluh orang siswa dari berbagai sekolah mencoba menggairahkan dunia kepenulisan melalui sebuah komunitas yang menamakan dirinya Komunitas Awan Senja. Dalam kegiatan yang dilaksanakan seminggu sekali itu sekelompok anak muda mencoba untuk mengalirkan energi kepenulisannya yang selama ini terpendam untuk menjadi karya. Komunitas ini baru lahir dan belum menghasilkan apa-apa. Tapi bukan sebuah kemustahilan bahwa pada saatnya nanti, setelah pisau kepenulisan itu terasah tajam, akan muncul penulis dari generasi ini.
Komunitas semacam ini semestinya juga digalakkan oleh siapapun ang berminat dan berdedikasi untuk menggerakkan anak-anak muda yang punya potensi untuk itu agar dapat berkumpul seperti pada Komunitas Awan Senja. Selanjutnya proses yang akan menyeleksi para anak muda itu dalam berkarya.
Budaya bakesah yang hidup di masyarakat tradisional, sudah semestinya mengalami transformasi menjadi budaya tulis. Media untuk mempublikasikan karya, yang dulu hanya berupa majalah dinding, sekarang sudah berkembangdalam media cetak. Internet yang mulai merambah ke berbagai kalangan dalam dunia pendidikan dapat juga menjadi media dokumentasi dan publikasi karya tulis. Seperti yang sedang penulis rancang, yaitu membuat blog untuk karya tulis siswa di internet. Memang baru dibangun, tapi dalam waktu dekat, bagaimanapun karya anak muda itu, perlu publikasi. Setidaknya ini akan merangsang siswa untuk lebih mampu berkarya. Guru memang harus jadi model dalam hal ini.
Dalam Pelatihan Terintegrasi Berbasis Kompetensi ada materi pelatihan mengenai Penelitian Tindakan kelas (PTK). PTK yang sebelumnya lebih dikenal dengan nama keren Action Research, merupakan kegiatan penelitian yang dilakukan oleh guru dengan dasar upaya untuk meningkatkan kualitas pendidik dan tenaga kependidikan lainnya untuk menyelesaikan masalah-masalah yang dihadapi saat menjalankan tugasnya. Kalau kita mau mencari di intenet, akan didapatkan Pedoman Penyusunan Usulan Penelitian Tindakan Kelas, Pembuatan Laporan Hasil Penelitian Tindakan Kelas, dan buku kecil berjudul Penelitian Tindakan Kelas. Berbagai macam workshop PTK dilaksanakan di berbagai daerah dengan tujuan agar guru mampu melakukan PTK.
Upaya meningkatkan kualitas pendidik akan memberi dampak ganda. Pertama, peningkatan kemampuan dalam menyelesaikan masalah pendidikan dan pembelajaran yang nyata. Kedua, peningkatan kualitas isi, masukan, proses, dan hasil belajar. Ketiga, peningkatan keprofesionalan pendidik dan tenaga kependidikan lainnya. Keempat, penerapan prinsip pembelajaran berbasis penelitian.
Di Kalimantan Tengah, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, dalam suratnya yang bernomor 050/238/Dikmenti/2007 tentang informasi seleksi peserta diklat program guru meneliti memprogramkan diadakannya pendidikan dan latihan untuk guru agar mampu membuat proposal penelitian. Selanjutnya proposal diseleksi, dan yang lolos akan mendapatkan bantuan dana penelitian untuk selanjutnya yang bersangkutan melakukan penelitian. Hasil penelitian itu nantinya akan dipublikasikan dalam jurnal yang akan segera diterbitkan.
Amat disayangkan, surat yang ditujukan kepada kepala-kepala sekolah dan isinya menyangkut pengembangan profesi guru itu tidak disampaikan atau disebarluaskan ke sekolah-sekolah. Dinas Dikjar Kotawaringin Barat saja hanya menempelkannya di papan pengumuman. Padahal kita semua tahu, tidak setiap bulan sekali guru datang ke kantor Dinas Dikjar.
Program itu sangat bagus, karena selama ini banyak guru yang takut melakukan penelitian karena ketiadaan biaya. Sekolah pada umumnya tidak mengalokasikan anggaran untuk guru yang melakukan penelitian. Apakah program ini akan berlanjut atau tidak, kita dapat menduganya. Apalagi RAPBN 2008 untuk anggaran pendidikan malah dipangkas separuhnya.
Tidak seperti Dirjen Dikti, Dirjen Dikdas Depdiknas tidak membuat pedoman penyusunan usulan penelitian tidnakan kelas. Padahal dalam pedoman yang dikeluarkan oleh Dirjen Dikti, diuraikan secara lengkap hal-hal ang berhubungan dengan PTK sampai dengan bantuan dana untuk tim dosen dan guru yang melakukan PTK sampai sebesar sepuluh juta rupiah, dan juga sistematika usulan PTK.
Tidak sepeti dosen, bagi guru penelitian adalah hal baru. Guru tidak pernah melakukan penelitian, kecuali guru yang sarjana pernah melakukan penelitian saat menyusun skripsi. Semestinyalah Dirjen Dikdas membuat pedoman semacam itu, apalagi PTK menyangkut inovasi pengajaran di kelas. Ini tentu menyangkut kepentingan kemajuan pendidikan dan profesionalisme guru seperti yang tertulis dalam Undang-Undang Guru dan Dosen.
Dunia pendidikan kita sepertinya tidak menggerakkkan kakinya untuk maju, tapi pandangan mata saja yang tertuju jauh ke depan. Diperlukan tindakan nyata dari para guru untuk menyongsong era kesejagatan.
Kembali kepada EWA, ia adalah provokator menulis. Gaya bahasanya provokatif dan bukunya enak dibaca. Guru perlu sekali membaca buku-bukunya, kemudian mempraktikkannya dalam kepenulisan yang nyata. Sudah saatnya dunia pendidikan dipenuhi dengan orang-orang yang berkompeten, bukan birokrat yang sering disalahartikan sebagai pencari keuntungan dari negara.
Willy Ediyanto, S.Pd.
Pendidik,
Tinggal di Kumai
Dimuat di Boneonews, 17 September 2007
Entry Filed under: Artikel, Uncategorized. .
20 Comments Add your own
Leave a Comment
Some HTML allowed:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>
Trackback this post | Subscribe to the comments via RSS Feed
1.
Ersis Warmansyah Abbas | September 19, 2007 at 4:27 pm
Wow kemajuan pemikiran dan tindak lakon di jalan yang benar dan luru Pak … saya dukung deh. Apa perlu saya kirim buku? Oh ya, saya selepas ramdhan saya bikin web untuk karya pelajar se Indonesia … tlong karya siswa Sampeyan di kirim ke email saya. Tapi pakai file ya ngirimnya.
2.
willyedi | September 20, 2007 at 1:03 am
Insyaallah. Saya punya komunitasd penulis pelajar. Namanya komunitas Awan Senja. Nanti saya kirim ke email sampeyan.
3.
ayu | September 24, 2007 at 7:21 am
Masa-masa SD saya ada di Tarakan, Kalimantan Timur. Perkenalan saya dengan dunia menulis, saya peroleh dari sana. Dari ibu Elin, guru Bahasa Indonesia di SDN 001 Pamusian, Tarakan. Dia memang bukan penulis, tapi caranya mengenalkan saya pada dunia menulis sangat meninggalkan kesan pada saya hingga sekarang. Terima kasih kepada semua guru-guru saya. Juga pada semua guru di Indonesia yang daya kreatif nya tak pernah habis…!
4.
kangguru | September 24, 2007 at 1:00 pm
ampuuun belum siap nulis seriuuusss
5.
Willy Ediyanto | September 25, 2007 at 1:19 am
Makasih buat Ayu dan Kangguru. Kita berbagi. Ilmu tak kan pernah habis ketika dibagi. Menulis serius dan tidak bedanya hanya di kebiasaan dan modal. Bukan begitu kangguru?
6.
Udo | October 8, 2007 at 4:33 pm
Pak Willy, saya coba buatkan weblog Komunitas Awan Senja. Tapi, karena masih belum paham wordpress, tampilannya masih ala kadarnya. Pak Willy,kalau tolong perbaiki. Trims.
7.
Willy Ediyanto | October 9, 2007 at 2:27 am
Tolongkasih tahu id dan passwordnya
8.
MC | October 27, 2007 at 12:36 am
semua oke !
9.
sudaryadi | October 29, 2007 at 1:54 am
saya pengin bisa menulis tapi gak ada yang membimbing
10.
Willy Ediyanto | November 1, 2007 at 1:01 am
Coba aja kunjungi ersis di blogroll ini. atau kunjungi http://webersis.com/
Makasih atas kunjungannya.
Salam kenal.
11.
Yuni Arsi | November 9, 2007 at 1:56 pm
Saya suka sekali menulis, tapi hanya bentuk tulisan ringan yang mungkin tidak begitu penting,btw saya tertarik untuk bertemu dengan komunitas guru yang suka menulis.
Kasih khabar aja kalo memang ada, saya pasti mau.
12.
Willy Edi | November 10, 2007 at 3:48 am
Ya, komunitas guru penulis, ada nggak ya. Saya kira blog semacam ini, yang dibangun oleh para guru, mau menulis. Nggak perlu yang berat-berat kan? Saya kira ini komunitas penulis. Klau bertemu darat rasanya malah jadi beban. Bisa-bisa akan jadi sekedar arisan.
Bukan berarti jelek, bagus juga sih. Cuma, ada nggak ya komunitas guru penulis?
13.
helloye | November 15, 2007 at 4:45 am
Mas bs g nulis sambil kuliah? Lalu untuk jadi penulis yang handal itu gimana?
14.
Willy Edi | November 15, 2007 at 11:34 pm
helloye, Saya sudah jadi guru. Saya memulai menulis semenjak SMP. Ketika kuliah, saya mematangkan kemampuan menulis.
Waktu SMP dan SMA menulis untuk majalah dinding dan surat, ketika kuliah untuk koran kampus/pers kampus dan di media massa. Setelah berkeluarga justru banyak hambatannya.
Saran saya, sewaktu kuliah, itu adalah saat untuk mematangkan kemampuan menulis. Honor menulis jangan dipikir dulu. Sampai saat ini pun saya menulis untuk koran yang tidak/belum memberikan honor. Tentu termasuk tulisan di atas, dimuat di koran tapi tidak dibayar. Saya hanyamenerima ucapan terima kasih.
Menurut saya, jangan segala sesuatu dinilai dengan uang. Karena uang adalah racun kreativitas, tapi kita tidak bisa berkreasi tanpa uang.
Menurut saya rejeki adalah yang ada di tangan, bukan yang dicari. Kalau Tuhan merestui kita, kita bisa memiliki apa saja, tanpa pernah merasa kekurangan, jika kita melalukan sesuatu dengan ikhlas, dengan nama Allah.
Saya hanya guru PNS, istri juga, dan ada sedikit hasil dari menyewakan barak. Tanpa kerja keras di tempat lain. Insyaallah itu semua cukup.
15.
irvan | November 21, 2007 at 10:11 am
that good learning about how to cath the main point that we learn about PTK from your web thank
16.
Willy Ediyanto | November 22, 2007 at 2:49 am
Hmm. Syukur kalau luapan pikiran ini ada manfaatnya. Thankyou welcome.
Glad to your visit on my blog.
17.
yusuf | December 22, 2007 at 9:14 am
good & provocating
18.
Willy Ediyanto | December 22, 2007 at 10:15 pm
thank for your visiting.
19.
broto | February 19, 2008 at 6:11 am
mas willy, selamat deh, sy orang tarakan yang sekarang ini sd no 1 markoni menjadi SD Negeri Utama 2 Tarakan, dulu kan ada 2 sekolah skg di regrouping jadi utama 2. tapi keberadaan sekolah utama ini masih banyak sekali yang harus dibenahi, dan ditata ulang terutama temen-temen guru harus selalu dipacu dengan pengembangan pola fikir untuk ber kembang kearah masa depan,maklumlah temen guru sekarang ini maunya yang instan saja ndak mau neko-2 gitu, jadi kalau disuruh melakukan pakai mikir kayaknya ogahan dikit gitu lo… aku pernah nulis di media koran harian Radar Tarakan korannya orang kaltim wilayah utara, tapi satupun guru tidak ada yang ngomentarai apa yang jadi tulisan saya, tentang reformasi pendidikan, pendidikan lingkungan hidup di sekolah dan masih banyak lagi tulisan-2 yang intinya saya membuka wacana tuk temen-2 guru ya… hasilnya masih nihil, ada sih yang kalau ketemu beri komentar wah pak kemarin saya baca bapak nulis di koran dan bla…bla…bla…walaupun kadang kadang tulisan saya itu bersambung.
mas willy, saya sekarang sudah tidak lagi mengajar didepan kelas, tapi hati dan niatku bagaimana pendidikan di tarakan bisa sejajar dengan daerah lain di jawa gitu looo…..ok.
20.
Willy Ediyanto | February 20, 2008 at 3:25 am
Betul, memang begitu. Saya pun mendokumentasikan tulisan ini di sini selain dimuat di Boreneonews, yang terbit di Pangkalan Bun. Komentar kawan-kawan guru ya begitu itu. Jangan kecil hati. Biar saja. Nalar merka ya cuma segitu-gitunya, kok.