Archive for July, 2007

Komentar tidak masuk-masuk

Pagi ini, Jumat, aku membuka blog. ada beberapa komentar yang masuk. Senang juga karena hari Jumat adalah hari santai buatku.
Niat membalas komentar pupus ketika satu komentar dituliskan di blog ternyata lambat sekali uploadnya. Apakah ini hanya kejadian di komputer yang kupakai atau semuanya. Hayooo, Siapa mau bantu???

6 comments July 27, 2007

Komentar Buku EWA

EWA mau menerbitkan tulisan lagi?
Ya, dan aku tertarik sekali untuk mengomentarinya dengan gaya sendiri. Bukunya berjudul Menulis dengan Gembira. . Jadinya aku bercerita pengalaman sendiri, begini:

Menulis. Menulis menurut saya adalah sebuah kebaikan. Menyebarkan virusnya, akan menjadi lebih kebaikanlagi. Kebetulan di daerah saya juga ada sebuah koran lokal baru berusia setengah tahun yang kesulitan mencari penulis. Ssaya juga seperti EWA, diminta untuk terus menulis. Ketika suatu saat saya menanyakan “ada honornya nggak?” sesaat kemudian saya merasa berdosa. Apalagi ketika seorang wartawan dan seorang staf keuangan datang ke tempat kerja dan menyerahkan voucher makan. Malu rasanya. Tapi kemudian saya ambil hikmah dan manfaatnya untuk mengikuti jejak EWA – memotivasi orang lain untuk menulis. Setidaknya ada dua orang kawan yang mulai mengikuti menulis walaupunbelum sampai menghasilkan karya. Baru sampai mencoba menuangkan tulisan dalam konsep. Kekurangan saya adalah memotivasi dengan menanyakan tulisan yang sedang dikerjakannya. Hari ini, 23 Juli 2007, setelah sekitar tiga bulan tidak menulis untuk koran, tulisan saya muncul lagi. Ini ternyata juga memotivasi kawan yang lain untuk menulis.
Seorang redaktur di harian lokal bahkan mengajak saya untuk membina anak-anak sekolah dalam bentuk mengadakan pelatihan kepenulisan. Segera saya menyambutnya. pada awal Agustus 2007 insya allah akan segera berjalan. Itu tadi, karena sulit mencari penulis/sastrawan.
Ngelantur, ya? Tapi ya itu tadi. Menulis membersihkan otak kita dari beban. Tidak perlu membebani lagi dengan aturan yang diajarkan guru di kelas – lho, padahal saya kan guru Bahasa Indonesia juga – karena itu akan menghamat penulisan. Mencoret kesalahan kemudian memperbaikinya, itu lebih mendidik daripada menutupi kesalahan tulisan dengan cairan koreksi. Karena dari sana, anak, kita bisa belajar dari kesalahan. Kelemahan pendidikan menulis di sekolah-sekolah sebelum kurikulum 2004 adalah idak memberi arahan untuk memberikan penilaian proses. Saat ini pun masih banyak guru yang hanyamau menerima karangan/pekerjaan siswa yang bersih tanpa coretan. Gurauan saya untuk yang ini adalah, “Ya di tip eki (di-tipe-ex-i) saja dulu semua permukaan kertas, baru ditulisi, daripada sedikit-sedikit tip-ex.
Serius benar ya komentarnya?!

5 comments July 23, 2007

DISKRIMINASI DALAM PENDIDIKAN

Beberapa waktu yang lalu ada calon siswa yang dinyatakan tidak dapat diterima di sebuah sekolah karena menderita cacat fisik. Padahal dari hasil tes masuk, si calon siswa mendapatkan nilai yang cukup tinggi dan kecacatannya tidak mengganggu aktivitas belajar si anak. Kasus ini mencuat dan memicu demonstrasi dan pemberitaan di media massa. Begitu banyak pihak yang peduli dengan kasus diskriminasi ini.
Diskriminasi seperti yang terjadi di Palangkaraya pada kasus di atas, hanyalah satu dari sekian banyak macam diskriminasi yang dialami oleh siswa sekolah dalam dunia pendidikan. Akan tetapi tidak banyak masyarakat yang peduli dengan diskriminasi yang lain karena masyarakat menganggap itu adalah hal yang wajar.

selanjutnya selanjutnya

6 comments July 18, 2007

Membuat Alasan

Lama tak menulis, membuat rindu untuk mengungkapkan unek-unek.
Saya memang mempunyai kebiasaan untuk menjadikan sesuatu yang sebenarnya tidak berhubungan menjadi berhubungan sebagai alasan untuk tidak melakukan sesuatu.
Sudah lebih dari dua bulan saya tidak meng-update tulisan di blog ini.
Begini ceritanya. Awalnya memang karena letih bekerja jadi kuli di rumah sendiri karena membuat kamar mandi dan wc sendiri – nah membuat alasan kan – sehingga malamnya segera tidur dan tidak sempat menulis. Blogwalking saja tidak sempat. Kemudian karena merasakanletihnya badan kerena menjadi kuli itu, pada proyek rumah berikutnya saya merasa tidak sanggup dan mempercayakan kepada tukang, yaitu memperbaiki lantai dan plafon rumah.
Hasilnya sampai sekarang baru menulis yang tidak jelas ini. Pada saat bersamaan juga saya tidak menulis dengan alasan sibuk jadi panitia ujian sekolah dan penerimaan siswa baru. Lha sudah selesai belum menulis juga. Padahal seorang teman Udo Z. Karzi dari BorneoNews mengajak saja untuk mengembangkan kepenulisanan di Kotawaringin Barat, yang saya sanggupi untuk anak-anak sekolah di kecamatan Kumai. Dia juga mengajak saya untuk kembali menulis lagi untuk korannya.
Membuat alasan memang mudah. Mengambinghitamkan sesuatu yang lain memangmudah dan seringkali “menyenangkan”. Mungkin ini watak kita, orang Indonesia, ya? Apa anda begitu juga?

11 comments July 12, 2007


Recent Comments

Willy Ediyanto on Tak Sengaja Menjadi Guru
anti on Tak Sengaja Menjadi Guru
citromduro on Di SBI, Bahasa Indonesia seper…
Willy Ediyanto on Diklat Penggunaan Modul MGMP…
Halaman Putih on Diklat Penggunaan Modul MGMP…

Archives

Blogroll

Top Posts

Categories

Blog Stats

 

July 2007
M T W T F S S
« Jun   Aug »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031  

Recent Posts

Pages

Meta