Pak Guru Protes Diam

March 8, 2007

Pagi itu, di warung Aluh Emok, aku menghadapi semangkuk soto ayam dengan tidak berselera. Kopi nasgitel – panas, legi, tur kentel – yang tersisa seperempatnya masih mengepulkan asap beraroma merangsang syarat hidung. Pikiranku menerawang ke kajadian beberapa bulan terakhir ini. Ya kejadian Anang Cempreng yang menjadi yuyu kangkang.

Saat asyik dalam lamunan itu, Anang Cempreng yang sedang menggelayut di otakku datang dan mengganggu keasyikanku.
“Pak Guru, pagi-pagi kok sudah melamun. Apa sih yang dilamunkan?” cerocos Anang Cempreng seperti mitraliur menyalak.
“Eh, kamu Nang. Ayo, minum kopi dulu. Pokoknya kutraktir deh pagi ini,” kataku mengalihkan pertanyaan Anang Cempreng.
“Nah, kan, Pak Guru ini malah mengalihkan pembicaraan. Tapi nggak apa-apa deh. Yang penting kopi gratiiis,” Anang Cempreng tetap asyik dengan mitraliurnya.
“Nang. Kamu masih jadi Yuyu Kangkang?” tanyaku tanpa semangat.
“Iya, Pak Guru. Mau bagimana lagi?”
“Ya, sudah. Mungkin saya sudah letih memikirkan hal semacam itu?”
“Pak Guru. Kalau letih, badan pegal-pegal, diurut saja. Nanti sebentar saja, pasti seger lagi,” timpal Aluh Emok. Kukira tidak mendengar percakapan kami.
Aku menghirup sedikit kopi yang sudah tidak terlalu panas di hadapanku.
“Lho, kok Pak Guru diam saja. Putus cinta ya?” desak Aluh Emok.
“Bukan. Saya ini kan pegawai negeri. Guru. Harus mengajarkan yang baik, karena akan ditiru oleh anak-anak. Saya sudah berusaha menjadi guru yang baik. Tapi ya tidak baik-baik juga. Paling tidak saya sering memprovokatori anak-anak kalau melihat ada guru yang berperilaku menyimpang. Bukankah ada kawan Anang Cempreng yang jadi yuyu kangkang juga seorang guru. Tapi sering kali maklum. Lha gaji guru nggak seberapa. Tapi, itu masih lumayan karena tidak meninggalkan jam mengajar”.
“Lha terus gimana?” desak Anang Cempreng.
“Yang mengganggu pikiran saya sekarang adalah, adanya pejabat yang menimbulkan rasa iri pada guru-guru. Kerja enak dapat proyek besar, dapat untung besar. Dicari di kantornya susah.”
“Trus, kaitannya dengan guru?” desak Anang Cempreng lagi.
“Ya itu, akhirnya ada kawan guru yang ikut-ikutan sibuk ngurusi proyek. Tapi karena enggak dapat proyek dari pemerintah, dia bikin proyek sendiri. Dia jadi pelukis model. Jadi setiap ada pesanan melukis model, dia akan segera menyanggupinya walaupun pada saat itu ada kelas yang menjadi tanggung jawabnya. Saya jadi ingin membalas dendam dengan yang seperti ini.”
“Apa? Pak Guru mau balas dendam?”
“Ya!”
“Bagaimana caranya?”
“Sssst. Itu masih rahasia. Kalau bocor sama kalian, ya bukan rahasia lagi. Apalagi kamu Anang Cempreng, terkenal tidak bisa menjaga rahasia.”
Aku puas mengeluarkan unek-unek dalam pikiranku. Kuserahkan sejumlah uang pada Aluh Emok dan aku menggeloyor pergi tanpa kata-kata. Meninggalkan Anang Cempreng dalam kebingungannya.
8 Maret 2007
We

Entry Filed under: Uncategorized. .

5 Comments Add your own

  • 1. kangguru  |  March 12, 2007 at 7:25 am

    hem balas dendanm dengan diam, ketika guru dilarang ngeles dilarang jual buku, maka guru diam. Maka makin bodohlah negeri ini

    Reply
  • 2. willyedi  |  March 13, 2007 at 12:35 pm

    Mau bagaimana lagi, kondisinya sudah demikian parah dan kita tidak bisa berbuat apa-apa selain diam. Memprihatinkan sekali, ya?

    Reply
  • 3. kolegaku  |  March 29, 2007 at 5:25 pm

    jangan putus asa pak guru, banyak jalan menuju Roma. Kog diam sih, Oemar Bakri kan semangat pejuangnya khan tinggi walaupun di atas meja ontel

    Reply
  • 4. saleh  |  March 30, 2007 at 5:12 pm

    Pembaharuan sistim birokrasi secara radikal yang ditandai dengan lahirnya UU 22 1997 & UU 20 2003 serta PP & Kepmen implementatif yang menggiringinya, mestinya tidak ada sandungan lagi secara konstitusi untuk merobah wajah, watak (transformasi) dan demokratisasi di bidang pendidikan.
    Jika harus diam, yah tunggu kehanuran lah instusi pendidikan.
    Khan banyak cara selain diam …..asal dengan cara manejerial yang bermoral, orang takkan tersinggung …ok ? ‘ Watawashau bil haq watawasau bishshabr ….’

    Reply
  • 5. willyedi  |  March 31, 2007 at 12:31 pm

    @kolegaku Semangat untuk tidak diam memang harus menjadi pijakan melangkah.
    @ Saleh. UU dan PP seringkali bagus dibuat, tapi dalam tataran pelaksana birokrasi, sering jadi tidak sesuai harapan dan semangat UU dan PP itu.
    makasih atas kunjungankalian.

    Reply

Leave a Comment

Required

Required, hidden

Some HTML allowed:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Recent Comments

mfiqri on Membedah Otak Einstein
rera on Sertifikasi Guru, Bumerang bag…
Willy Ediyanto on Sertifikasi Guru, Bumerang bag…
bayu putra on Sertifikasi Guru, Bumerang bag…
Willy Ediyanto on Sertifikasi Guru, Bumerang bag…

Archives

Blogroll

Top Posts

Categories

Blog Stats

 

March 2007
M T W T F S S
« Feb   Apr »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

Recent Posts

Pages

Meta