Nama dan Jabatan
February 27, 2007
Kulihat Anang Cempreng sedang asyik makan di kantin sambil ngobrol dengan Aluh Emok. Aku segera saja duduk di samping Anang Cempreng sambil memesan nasi kuning dan tempe goreng kesukaanku.
“Nang, menurutmu apa arti sebuah nama?” tanyaku.
“Lho, pagi-pagi begini kamu kok tiba-tiba menanyakan nama seperti itu. Seperti Shakespeare saja”.
“Begini lho, Nang. Beberapa waktu lalu, ketika kita sedang hangat dengan pesta demokrasi untuk memilih presiden dan wakilnya, ada pihak-pihak yang memperma-salahkan nama capres yang banyak didukung mahasiswa. Tentu kamu ingat?”
“Oh, Mas Amin itu, kan. Yang kata sebagian orang, untuk jadi presiden RI nama Amin tidak mungkin bisa jadi presiden. Apalagi di depannya ada Muhammadnya. Memangnya kenapa, sih?”
“Lha ini, kita sebagai orang Islam tentu menginginkan nama yang baik bagi anak-anaknya. Kata orang-orang tua, nama adalah doa. Jadi orang yang bernama Amin Rais yang didoakan supaya menjadi Amin yang rais.”
Kulihat Anang Cempreng mengerutkan kening.
“Ke mana, sih arah pembicaraanmu?” tanya Anang Cempreng sambil dahinya tetap berkerut.
“Lha itu, Mas Amin katanya enggak mungkin jadi RI 1. Lalu bagaimana dengan orang Islam yang namanya tidak Islami. Soalnya teman saya yang seorang guru di madrosah katanya tidak mungkin jadi kepala ustad karena namanya tidak Islami. Apa harus seperti itu.
Kulihat kening Anang Cempreng makin berkerut.
“Sudahlah”, kataku. “Ayo, kita kerja dulu. Kerja yang baik dan benar, yang lurus, baru kita mikirkan jabatan”.
“Iya, katanya jabatan itu amanah. Kenapa mesti dibeli?” kataku sambil berjalan menuju tempat kerjaku. Rasanya aku sudah berjanji untuk jadi pegawai yang baik.
15 Februari 2006
We
Entry Filed under: Uncategorized. .
6 Comments Add your own
Leave a Comment
Some HTML allowed:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>
Trackback this post | Subscribe to the comments via RSS Feed
1.
deking | March 3, 2007 at 12:08 pm
Weleh..weleh
Masak gara2 namanya tidak islami lantas tidak bisa jadi kepala ustadz.
Lalu seandainya ada seseorang dengan nama islami tanpa kelakuan yang mumpuni sebagai seorang ustadz, apakah dia lebih dipilih sebagai ustadz dari pada orang yang lebih ustadz-i dengan nama tidak islami.
Memang ada hubungannya antara nama dengan prestasi dan kemampuan? (memang sih banyak nama merupakan suatu doa)
2.
willyedi | March 4, 2007 at 1:30 am
Deking@ Sketsa ini adalah realitas. Kenyataan yang saya alami. Yang mengatakan Kakanwil Depag Kalteng pada sekitar tahun 1997. Nama saya kan Willy Ediyanto, ngajar sebagai PNS di lingkungan Depag. Waktu itu mengikuti diklat kepala sekolah. Nah dalam satu ruangan itu tidakada yang namanya tidak islami kecuali saya. Saya kecewa juga waktu itu. Tapi setelah sebelas tahun megajar, saya jadi lebih tahu kebobrokan lembaga ini. Saya semaking merasakan kengerian.
Guru yang baik, ini barangkali alternatif terbaik bagi saya.
Makasih atas kunjungannya.
3.
deKing | March 4, 2007 at 12:28 pm
Begitulah kenyataan yang ada di negara kita ini ya Pak?
Sepertinya status (status dalam arti luas: bs status sosial, ekonomi, agama bahkan nama)itu lebih penting dari kemampuan
Seperti mempekerjakan orang asing
hanyastatus keluarnegerian-nya, padahalmungkinbanyak putra bangsa ini yang juga memiliki kemampuan bagus.Jadi ingat ketika keturunannya orang yg terlibat G30SPKI dilarang jadi PNS
Indonesia, riwayatmu kini…
4.
willyedi | March 8, 2007 at 7:57 am
Yap. kondisi apa bisa diubah? Aku tidak yakin, karena itu mengakar dalam seluruh jiwa manusia.
5.
Aki | April 16, 2008 at 11:43 pm
Kita menyedari bahwa memilih nama yang indah dan sempurna untuk bayi kita yang baru lahir memang sangatlah sulit. Apalagi daftar calon nama yang kita miliki amat sedikit. Untuk itu, di sini kami menyediakan ribuan variasi nama islami yang indah dan mudah. http://www.namaislami.com
6.
Willy Ediyanto | April 17, 2008 at 12:05 am
Terima kasih. Dua anak saya saya beri nama gabungan islami dan bnasionalis. 1. Nur Widianti Arifah, 2. Muhammad Arif Widianto. Gabungan kedua nama orang tuanya 1. Willy Ediyanto, 2. Ida Arifah.