Kensi dan kenotsi

February 26, 2007

Hari itu Anang Cempreng tampak gembira. Kuhampiri kegembiraanya dengan sebuah sapa dan senyum. “Ada apa, Nang? Sore-sore begini sudah senyum-senyum terus? Dapat berita gembira apa? Dapat undian kupu, ya?”
“Ah, enggak, kok”.

“Tapi wajah kamu menampakkan kegembiraan yang luar biasa. Wajahmu tak berhasil berbohong. Apa sudah tahu kepindahan orang sebelah rumahmu itu?”
“Ah, kamu ingin tahu saja”.
“Lha …”
“Iya, tapi sudahlah”.
:Sudah bagaimana? Lha kalau cerita sedih, misalnya kamu makan aking baru sekali saja, kamu segera bercerita. Kalau gembira seperti ini, kamu enggak mau cerita. Biar kamu gembira karena dapat lotere, aku ya Cuma bisa ikut bahagia saja. Apalagi kalau kamu mentraktir aku bakso”.
Dengan malu dan ragu Anang Cempreng menunduk. Dari mulutnya tidak juga keluar kata-kata tentang kegembiraannya.
“Eh, kalian sudah di sini. Pantas, tadi aku singgah ke rumah Anang Cempreng sudah tidak ada orangnya. Ada apa sih? Kalian kok serius sekali?” tanya Mat Joki memberondong bak mitraliur di medan pertempuran Irak ketika ia baru saja datang. “Eh, tadi kulihat ada Aluh Emok di sebelah rumahmu”, lanjut Mat Joki pada anang Cempreng.
“Ya, itulah”, jawab Anang Cempreng, “aku risi juga bertetangga dengannya”.
“Risi gimana. Lha kalau kamu kuajak ke kantin tempatnya bekerja, kamu sangat bersemangat. Dia jadi tetangga, kok malah risi”.
“Itulah masalahnya. Kubayangkan Aluh Emok yang rapi dandanannya seperti ketika di kantin. Lha ini tadi, istriku marah-marah gara-gara aku ngobrol denganya”.
“Dimarahi kok malah senyum-senyum. Apa ngaak aneh itu namanya?” bantahku.
“Ya itu. Di luar nalar, kan?” sambung Mat Joki.
“Begini. Aluh Emok kalau di kantin kan rapi dan anggun penampilannya. Lha di rumahnya, ketiak dan sebagian dadanya terbuka. Kata istriku itu namanya kensi. Jadi biar aku can see dia dengan lebih leluasa”.
“Oh, jadi itu yang bikin kamu gembira dan sedih sekaligus?”
“Iya”.
“Oh, dasar”.
Tapi semenjak kejadian itu, kulihat Aluh Emok tidak lagi memakai kensi. Dia sekarang jadi kenotsi alias can not see. Habis, tetangganya melototinya terus. Lagi pula pakaian jahiliyah semacam itu enggak ada yang memakainya di sini, selain Aluh Emok satu-satunya.

We

Entry Filed under: Uncategorized. .

Leave a Comment

Required

Required, hidden

Some HTML allowed:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Recent Comments

mfiqri on Membedah Otak Einstein
rera on Sertifikasi Guru, Bumerang bag…
Willy Ediyanto on Sertifikasi Guru, Bumerang bag…
bayu putra on Sertifikasi Guru, Bumerang bag…
Willy Ediyanto on Sertifikasi Guru, Bumerang bag…

Archives

Blogroll

Top Posts

Categories

Blog Stats

 

February 2007
M T W T F S S
« Jan   Mar »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728  

Recent Posts

Pages

Meta