cerpen KEPALA
February 20, 2007
Siang yang digayuti awan gelap pada hari itu kontras sekali dengan perasaanku yang begitu membuncahkan kegembiraan. Ucap syukurku tak henti mengalir dari hatiku melalui mulutku.
Sebagai seorang guru honorer di sebuah madrasah yang terletak di Pangkalan Bun, aku adalah guru termuda dan baru beberapa bulan melaksanakan tugas. Hati membuncahkan kegembiraan karena aku ditunjuk oleh kepala sekolah untuk mengikuti penataran guru Bahasa Indonesia. Aku harus berangkat ke Samarinda, kota yang begitu ingin aku kunjungi karena keindahan alamnya.
Dengan menggunakan pesawat kecil yang sudah berlubang di sana-sini, aku berangkat menuju Samarinda melalui Banjarmasin. Doa tak henti mengalir dari hatiku mengimbangi rasa takutku. Takut akan kemungkinan pesawat kecil yang kutumpangi ini jatuh. Keyakinanku begitu ciut di atas pesawat ini. Terasa oleng begitu menghanyutkan perasaanku ketika angin bertiup dari sisi pesawat.
Perasaan lega di hati begitu melapang ketika pesawat mendarat di Landasan Ulin. Puji syukur mengalir lagi dari hatiku. Perlahan aku berjalan ke luar bandara, mencari angkot menuju terminal bis jurusan Samarinda Samarinda.
“Bang, jam berapa ini?” tanya kernet angkot mengejutkanku.
“Pukul empat sepertempat”, jawabku setelah melihat jam tangan yang melilit di lenganku.
“Ah, semestinya sudah jam lima di sini. Di sini masuk wilayah waktu Indonesia bagian tengah’, kata si kernet.
“Oh, iya ya”, jawabku baru menyadari bahwa aku sudahberada di wilayah waktu yang berbeda. Kemudian kupinta si sopir untuk menurunkan aku di jalanan jika ada bus yang menuju ke Samarinda.
“Urang Banjar itu suka bakesah,” itu informasi yang pertama kudengar ketika masih berada di Pangkalan Bun, dan di atas bus yang mengantarku menuju Samarina ini, informasi ini terbukti benar.
Dalam perjalanan panjang malam hari itu, kursi di depankududk seorang laki-laki suku Bajar setengah baya bercerita tentang berbagai hal sepanjang perjalanan malam itu. Aku yang merasa asing di tempat itu memanfaatkan waktu untuk menyimak cerita mereka walau banyak istilah yang tidak kupahami.
Diceritakanlah bahwa dalam sebuah perjalanan seorang laki-laki setengah baya duduk berdampingan dengan seorang perempuan muda. Seperti khasnya Urang Banjar, laki-laki setengah baya itu bercerita panjang lebar sepanjang perjalanannya. Dari ceritanya diketahui bahwa laki-laki setengah baya itu menuju sebuah daerah yang bernama Bulu-Bulu.
Karena mengantuk, laki-laki itu sesekali bertanya kepada perempuan di sebelahnya, “Bulu-Bulu kah?”
Lama kelamaan si perempuan muda marah juga, karena yang ditanyakan bukan lagi Bulu-Bulu, melainkan bulu saja.
***
Selama mengikuti penataran yang lamanya empat puluh hari, aku berkenalan dengan seorang guru yang berasal dari Sampit, ia memperkenalkan diri namanya Muhammad Ali. Dia adalah seorang pemuda yang berasal dari Tegal, Jawa tengah.
“Sebenarnya nama saya bukan Muhammad Ali”, katanya.
“Lalu, siapa, dan kenapa bisa menjadi Muhammad Ali?” tanyaku ingin tahu.
“Dulu, sewaktu SD, guru saya orang yang fanatik terhadap agamanya. Jadi, semua siswa yang namanya tidak islami digantinya pada saat penulisan ijazah. Nama saya sebenarnya Alianto, digantinya menjadi Muhammad Ali”.
Selesai penataran, kami kembali ke daerah masing-masing, sesekali aku masih menghubungi Muhammad Ali.
“Betapa beruntungnya dia”, pikirku.
***
Kembali ke Pangkalan Bun, SK CPNS-ku datang dan aku ditempatkan di madrasah yang terletak di Kumai. Dalam sebuah penataran kepala sekolah, aku ditunjuk untuk berangkat. Aku bukan kepala sekolah, hanya saja saat itu masa transisi kepala sekolah lama yang pensiun dan kepala sekolah baru yang belum datang.
Ada hal yang menggelikan pada saat pembukaan penataran itu. Dalam sambutan pembukaan, Sang Bapak mengisi dengan sebuah selingan pesan.
“Saya ingatkan kepada para kepala kandep, kalau memilih kepala madrasah, ya yang agamanya meyakinkan. Paling tidak ya, namanya harus mencirikan Islam”.
Mendengarnya aku merasa geli. Tentu Sang Bapak itu berbicara menujukannya kepadaku. Bagaimana tidak, nama saya sangat tidak islami. Lihat saja, Willy Ediyanto S.Pd. Masih lumayan jika ekornya adalah S.Ag. atau S.Pd.I.
Aku tidak kecewa, hanya kemudian orientasi kerjaku kualihkan. Jadi kepala madrasah tidak mungkin, maka aku berusaha menambah pengetahuan dengan buku-buku dan internet. Kukembalikan kepada awalku berangkat ke Kalimantan, bahwa aku akan menjadi guru. Maka kudidik murid-muridku dengan sepenuh hati.
Aku teringat Alianto alias Muhammad Ali. Beruntungnya engkau kawan. Jangan heran kalau dalam karyaku selanjutnya aku selalu menuliskan nama dengan menambah Muhammad di depan namaku. Mungkin Muhammad W.E., mungkin juga lengkap menjadi Muhammad Willy Ediyanto. Ya, daripada memakai nama Muhammad Syaithon, atau Mat Langgar yang kerjanya berjudi dan dikantornya mengorek-ngorek uang negara untuk kepentingannya sendiri.
Niatku untuk melanjutkan kuliah mengambil program S 2 juga tidak mungkin dilaksanakan mengingat kejadian yang dialami oleh seorang teman yang sudah mengambil kuliah S 2 di Jogja baru setahun dan harus kembali ke Pangkalan Bun tanpa ijazah S 2-nya
Salamku buat Alianto, juga Urip. Apa Islam karena nama, atau kopiah, atau jubah, atau bahkan panggilan haji?
Kumai, 10 November 2005
Entry Filed under: Uncategorized. .
8 Comments Add your own
Leave a Comment
Some HTML allowed:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>
Trackback this post | Subscribe to the comments via RSS Feed
1.
mina | February 22, 2007 at 3:24 am
kenapa mengurungkan niat sekolah s2 mas wil?
2.
willyedi | February 26, 2007 at 4:37 am
Ya buat Mina, terlalu banyak rintangan di lembaga kami. Urip yang pernah mengalaminya bisa dihubungi di Helgeduelbek atau http://urip.wordpress.com
3.
achmadrois | September 24, 2007 at 11:45 pm
Ini hanyalah “test” pertama yang harus dihadapi. Tidak mesti sesali punya nama sebagai jati diri. Tetap fight, kejar prestasi menjadi “sang guru”, tubel s-2, jadi kepala sekolah dan cerdaskan masyarakat kumai untuk pahami agama menjadi tantangan yang harus diwujudkan. Sudah nyebrang laut jauh-jauh, tidak boleh nglokro begitu aja. Islam ajarkan untuk tetap fight hadapi semua “test” hidup. Ok!
4.
Willy Ediyanto | September 25, 2007 at 1:25 am
Makasih atas inspirasinya. Aku sekarang berusaha untuk menjadi guru yang benar-benar. Mengajar Bahasa Indonesia dan TIK yang kukolaborasikan, pekerjaan siswa dalam Bahasa Indonesia nantinya akan dipublikasikanlewat blog sekolah. TIK jadi alat. Bukan pokok, kerena kurikulum terlalu banyak teorinya. Nah, saya mengaplikasikannya. Mungkin achmadrois punya solusi untuk rasa cemburu saya terhadap guru, kawan saya, yang punya bisnis yang seringkali mengharuskannya meninggalkan kelas saat mengajar. Anak-anak dan sesama guru sebenarnya protes. Kalau guru hanya dengannggerundel karena kepala sekolah pun tidak melakukan apa-apa terhadap guru ini. Lha kalau anak yang protes, jawabannya hanya mmmh. gak dianggap apa-apa, gitu. Kadfang saya punya pikiran nakal untuk menggerakkan orang tua siswa, tapi saya kurang punya link dengan mereka. Ini agak membebani saya. Ya yang seperti ini. Tapi saya berusaha komit untuk tetap jadi guru. Rejeki itu urusan Tuhan. Kita sudah berusaha.
5.
achmadrois | September 25, 2007 at 1:47 pm
Jadi guru dan pegawai (pemerintah) adalah panggilan batin dan profesionalisme. Tidak usah minder dengan kuantitas rizki. Ingat kawan, rizki itu ada ukuran kualitasnya dan ukurannya ada di dada (hati). Ibu, bapak, mertua, kakak, kakak ipar, istrinya kakak iparku semua guru, hidupnya tidak ada yang kaya. Bukankah cita-cita hidup (maaf, wong jawa) hanya sederhana saja, yaitu jadi orang cukup, cukup punya rumah, cukup punya sawah, cukup punya kendaraan dan cukup punya ternak piaraan. Guru dan pegawai bukan jalan untuk jadi kaya di Indonesia Raya ini. Kalau pingin kaya jalannya adalah jadi wirausahawan, dagang atau koruptor, itupun tetap dituntut profesional. Nanti di kemudian hari, kalau saatnya kaya juga kaya sendiri. Biar aja mereka pada ngobyek, yang penting selamatkan anak didik dari “proyek pengajaran” yang membingungkan. Didik kader generus bangsa untuk siap hidup, siap belajar dan siap bekerja.
6.
Willy Ediyanto | September 27, 2007 at 12:12 pm
Makasih atas komentarnya. Mengingatkan tujuan hidup sesungguhnya.
7.
ratih | November 19, 2008 at 7:12 am
tampilkan tentang cerpen hari guru lah
8.
Willy Ediyanto | November 19, 2008 at 11:27 pm
Wah, rasany udah banyak tuh cerpen tentang guru/hari guru. Apa masih perlu juga ya?
Makasih atas kunjungannya.