SEBELUM PINTU TERTUTUP
January 20, 2007
Tiga hari ini aku diminta bberapa siswaku untuk membuatkan puisi yang akan mereka bacakan dalam rangka peringatan 1 Hijriyah 1428 di Aul Antakusuma Pangkalan Bun. Sulit sekali aku mendapatkan ide dan merangkai kata-kata. Memang pembelajaran harus selalu dilakukan, bahkan untuk diri sendiri.
Hasilnya?
PUISI UNTUK MUSIKLISASI
DALAM RANGKA PERINGATAN TAHUN BARU HIJIYAH 1428
DITAMPILKAN OLEH SISWA-SISWA MTSN KUMAI
DI AULA ANTAKUSUMA PANGKALAN BUN
29 JANUARI 2007
SEBELUM PINTU TERTUTUP
(LAGU ANDAI KUTAHU-NYA UNGU, JANGAN SAMPAI HABIS, SISAKAN MUSIK PERLAHAN. PAKAI GRAND PIANO SAJA.)
Kebertahananmu di tanah ini,
Sudah saatnya kau akhiri
Beribu intimidasi dan teror,
Telah menjadi sarapan pagimu
Ayo, bangkitlah pahlawanku
Gapailah medan juang aru
Agar dapat kita raih kejayaan
Dan tanah ini pun dapat menjadi hak kita
Tak pernah kita tahu
Bila hidup ini berakhir
Walau setiap saat kita selalu memohon
Agar dipanjangkan umur
Pintu surga-Nya yang beribu jumlahnya
Tak jamin kita menemukannya
Sebelum semua itu jadi nyata
Mari kita tersenyum,
Mari satukan langkah:
Menuju padang juang baru
Sebelum ajal,
Sebelum pintu-Nya tertutup.
(LANJUTKAN LAGI DENGAN MELANJUTKAN LAGUNYA UNGU TADI SAMPAI SELESAI DENGAN VOLUME YANG SEMAKIN BESAR)
Birth on 2007
Entry Filed under: Uncategorized. .
11 Comments Add your own
Leave a Comment
Some HTML allowed:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>
Trackback this post | Subscribe to the comments via RSS Feed
1.
helgeduelbek | January 23, 2007 at 4:36 am
Unjuk gigi
buka hati
bikin puisi
2.
juliach | January 23, 2007 at 1:55 pm
Dari Pangkalan Bun?
Salam utk Orang Utan Tanjung Puting! Semoga selalu lestari & anak/cucuku bisa selalu berkunjung ke sana (ngak ke Taman Safari).
Jadi nostaliq nih…
3.
willyedi | January 27, 2007 at 2:03 pm
To Urip: Hahahahahaha
To Juliach: Saya yang di Kumai, menyeberang muara sungai kumai saja baru sekali ke sana, ikut ngantar rombongan siswa-siswa kami. Tapi anak-anak kurang antusias di ajak ke sana. mungkin karena program/orientasi ke sananya tidak tepat. hanya sekedar ingin plesiran, ya nggak cocok kan? Juliach pernah ke Tanjung puting? Terimakasih atas kunjungannya
4.
juliach | January 29, 2007 at 3:36 pm
Maklumlah, anak-anak kan tahunya cari uang dgn kerja di kantoran, pabrik, pusat perdagangan, pertambangan, dll. Sedangkan penelitian, konservasi binatang langka, menjual jasa di tourism (budaya, flora/satwa) tdklah terpikirkan.
Padahal di tourism, modalnya hanya bahasa asing + pengetahuan umum (ngebual pun boleh, kalo bulenya bego).
Beberapa kali, saya membawa tourist berkunjung ke konservasi Orang Utan di Tanjung Puting & G. Leuser. Anak saya (waktu itu umur 2-4th)senang tidur dgn bayi orang utan (dikiranya mainan). Selain orang utan, pernah juga ikut dlm penelitian Harimau Sumatra di Way Kanan, Bukit Barisan & G. Leuser, ke P. Rinca utk melihat Komodo, dll.
Kegiatan ini utk sementara saya hentikan dulu berhubung anak sdh masuk wajib sekolah & saya sbg single parent tdk bisa meninggalknnya utk keluyuran di pedalaman Indonesia.
5.
willyedi | January 31, 2007 at 9:28 am
Ya, begitulah. Dunia berputar. Ketika belum berkeluarga begitu aktif. Tapi sekarang, gerak terlelu terbatas. akhirnya untuk melakukan touring, ya paling mudah dan murah lewat dunia maya ini. Bukan begitu?
6.
Kang Kombor | February 1, 2007 at 2:02 pm
Bait pertama itu mengajak kita pergi atau melawan sih, Pak? Saya rodo bingung, hehehe… soale ada menuju padang medan baru di bait terakhir baris keempat. Kalau bait kedua baris kedua salah ketik, seharusnya baru dan bukan aru, berarti puisi Sampeyan ini memang mengajak untuk pergi, bukan melawan.
Maaf kalau interpretasinya salah. Yang bisa memberi tafsir paling benar adalah yang nulis sendiri.
7.
willyedi | February 2, 2007 at 2:15 am
Kang kombor, betul itu. Pergi ke medanjuang baru. Masa kini dan masa yang akan datang. He he belajar nulis, sih.
8.
de King | February 3, 2007 at 3:40 pm
Maaf berarti sekarang tanah itu belum menjadi hak kita ya Pak Guru? Tapi kalau dipikir memang benar juga ya…banyak daerah yang tidak bisa menikmati kekayaan alam mereka sendiri (misal Papua dll) karena dirampok oleh pihak lain…Benar atau tidak Pak?
9.
willyedi | February 4, 2007 at 12:44 am
Yang kita rasakan begitu bukan? Rebutan lahan di mana-mana. Tapi sebagian ahli waris ada juga yang mau dipolitisasi untuk merebut lagi tanah yang sudah diwakafkan. Bahkan sudah menjadi tempat ibadah dan fasilitas umum. Badan Pertanahan nasional tidak teliti dan sepertinya badan ini menanggung banyak dosa, ya?
10.
Ersis Warmansyah Abbas | April 7, 2007 at 12:32 am
Lumayan bagus yang penting nulis to, semua karya yang terlahir pasti lebih bagus dari yang tak pernah muncul. Salam
11.
willyedi | April 7, 2007 at 11:39 pm
Penyair yang tidak produktif dan tidak pernah publikasi karya. Saya kira cukup banyak orang seperti ini.