Tanggapan untuk tulisan Wirawax: Komunikasi Berempati
January 13, 2007
Wirawax menulis begini: “Dalam berkomunikasi, cobalah terlebih dahulu mencari informasi yang selengkap-lengkapnya sebelum memberikan komentar. Jika kita hanya memiliki sepenggal informasi, jangan langsung membentuk opini dan menyatakan pendapat berdasarkan informasi yang belum lengkap tersebut.
Intinya, al-ilmu qobla qaul wa ‘amal. Ilmu dulu baru bicara dan bertindak. Ucapan dan tindakan tanpa ilmu yang jelas akibatnya berbahaya. Jadi, yang perlu kita lakukan adalah melengkapi informasi yang kita miliki dengan bertanya kepada pihak-pihak yang mengetahui tentang apa yang akan kita komunikasikan, ataupun aktif mencari informasi tambahan yang diperlukan sehingga kita info yang akan kita komunikasikan pun lebih lengkap. ….
Simak contoh ini, seorang da’i datang ke pedesaan. Karena baru saja lulus dari pesantren, ketika mengisi kajian, bahasa da’i ini ‘canggih’ banget. Istilah-istilah berbahasa Arab keluar begitu saja tanpa ada penjelasan maknanya. Penduduk desa manggut-manggut tidak paham. Akhirnya, penduduk desa pun malah emoh terhadap da’i yang sebenarnya berilmu ini.
Ini termasuk kegagalan berkomunikasi. Sering banget kita menuntut untuk dimengerti tanpa menuntut diri kita untuk mengerti dulu pihak yang kita ajak komunikasi.”
Dale Carnegie bahkan mempersyaratkan kita untuk mendengarkan apa yang dikatakan orang. Sebab pada kenyataannya banyak orang yang lebih suka berbicara daripada mendengarkan.
Saya mencoba jurus Carnegie ini di sekolah terhadap kepala sekolah. Hasilnya, memang kepala sekolah suka menyampaikan pendapat dan gagasannya kepada saya. Orang mungkin menganggap saya sebagai keranjang sampahnya. Tapi ternyata cara yang saya lakukan cukup efektif ketika kemudian saya mempunyai ide dan menyampaikan kepadanya.
Suatu saat saya menulis di sebuah tabloid yang isinya menyinggung perasaannya baca yang ini. Saat kepala sekolah menyampaikan perasaannya, saya diam saja sampai ia selesai berbicara. Terakhir saya kemukakan bahwa apa yang dikatakannya benar, dan kemarahannya hilang. Dan ketika artikel itu saya ajukan untuk menambah angka kredit untuk kenaikan pangkat, ia setuju-setuju saja.
Jadi yang penting dengarkan dulu, seperti kata Wirawax dan Dale Carnegie.
Entry Filed under: Uncategorized. .
6 Comments Add your own
Leave a Comment
Some HTML allowed:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>
Trackback this post | Subscribe to the comments via RSS Feed
1.
Dedi Dwitagama | January 17, 2007 at 9:47 am
Nice article … thx 4 dropping
2.
juliach | January 17, 2007 at 12:48 pm
Si Da’i lupa kalo penduduk desa baca Al Quran-nya hanya hafalan aja!
Tidak hanya si Da’i ini saja, orang desa pergi ke kota saja kadang sudah tdk bisa bicara bhs daerahnya atau orang Indonesia yg di LN. Pulang kampung bicara sama embahnya (neneknya) dgn bhs Indonesia campur inggris & jawab si embah, “Bocah iki ngomong opo, aku ora ngerti (Anak ini bicara apa, aku tdk tahu)”.
Ini baru masalah bahasa, belum cara dan media penyampaianya, dll.
3.
Syarif Winata | January 18, 2007 at 7:08 am
Wah saya senang membacanya dan bisa mengingatkan kita, thx udah mampir di weblog saya, salam kenal
4.
willyedi | January 20, 2007 at 3:30 am
Untuk semuanya aza,
Idenya si Dale Carnegie itu memang memberi isnspirasi saya untuk tidak banyakbicara. Ide rasanya lebih baik diungkapkan di blog saja. Gerundelan juga begitu. Rasanya lebih pas buat kita para Blogger.
Makasih tas kunjungannya.
5.
de King | February 3, 2007 at 3:48 pm
Artikel yg bagus!
Seharusnya kan memang si ‘guru’ (penyampai informasi) yang menyesuaikan diri dengan keadaan si ‘murid’ (penerima informasi). Memang sich kondisi ‘murid’ cukup heterogen tapi pasti tetap ada cara untuk mengatasi itu.
Membaca kisah si Da’i di atas saya jadi ingat kisah Sunan Kalijaga. Cara beliau berdakwah benar-benar memperhatikan kultur dan kondisi para responden-nya…
Jadi guru memang tidak mudah…
6.
willyedi | February 4, 2007 at 12:39 am
Buat de king
Makasih mengingatkan cara Sunan kalijaga yang terlupakan.