KOMITMEN GURU DALAM UPAYA MENINGKATKAN MUTU MADRASAH

January 7, 2007

Tulisan ini dibuat karena penulis tertarik sekali pada artikel di Tabloid Cermien Edisi 006/Juni 2005 yang berjudul “Perlunya Komitmen Aparat Kependidikan dalam Upaya Meningkatkan Mutu Madrasah” yang ditulis oleh H. Abdul Wahid . Aha, S.H.
Diawali dengan menguraikan salah satu aparat kependidikan, yaitu guru sebagai pahlawan tanpa tanda jasa, diungkapkan bahwa dengan ungkapan itu guru hendaknya tidak perlu “pesimis”, karena profesi guru adalah pekerjaan yang mulia ….


Kalimat itu terasa menghibur bagi yang memiliki profesi bukan guru. Apalagi jika dikaitkan dengan bagian lain tulisan itu, di mana penulisnya mencoba mengkritisi tentang kesejahteraan guru dengan mendasarkan motto Ikhlas Beramal.
Dikemukakan pada bagian itu bahwa “pada umumnya dilihat dari kesejahteraan, atau gaji/tunjangan fungsional mereka (guru – pen) maka mereka tergolong kepada pendapatan menengah ke atas apabila dibandingkan dengan PNS biasa yang tidak memegang suatu jabatan struktural”.
Selanjutnya dikatakan bahwa “sangat tidak wajar dan tidak terhormat apabila guru agama negeri tersebut malas dalam mengajarnya.
Kutipan di atas, pertama mengemukakan bahwa guru tidak seharusnya pesimis. Kata ini tidak tepat ditujukan kepada guru. Apakah benar ada guru yang pesimis dengan penghasilannya. Memang penulis ada guru yang bekerja di luar jam mengajarnya, apakah itu menjadi tukang ojek, guru mengaji, berjualan, atau yang lainnya. Apakah yang demikian itu menunjukkan sikap pesimis guru? Tentunya bukan. Guru yang demikian adalah guru yang kreatif, walaupun sebagian ada juga yang kemudian melalaikan tugasnya sebagai guru, tapi jumlahnya berapa?
Penulis pernah menjumpai adanya guru yang tidak mau memakai seragam Korpri pada saat menjelang upacara, memakainya pada saat upacara, dan kemudian mengantinya dengan pakaian lain setelah upacara, alasannya adalah “guru sama dengan PNS lain, saat upacara semuanya berseragam, tapi lihatlah setelah upacara selesai, ada yang menggunakan sepeda motor tahun 80-an, ada juga yang menggunakan mobil mewah”. Adakah guru yang mengunakan mobil mewah seperti “Ibu Guru Cantika” dalam film Si Yoyo. Bukankah guru di Indonesia lebih banyak yang mirip Pak Guru Topaz yang diperankan oleh Parto “Patrio”, yang cerdas tapi tidak bisa memanfaatkan kesempatan.
Penulis pernah punya pengalaman menjadi guru di sebuah sekolah di ibukota. Guru-guru di sana tidak ada yang mau memakai pakaian safari. Alasannya mereka bukan anggota dewan. Dari dua contoh itu tampak bahwa perbedaan itu begitu terasa kental. Padahal guru di ibukota itu seperti seorang pegawai negeri dengan dua pekeraan, pertama digaji oleh pemerintah, kedua mendapatkan penghasilan lebih kurang separuh gaji PNS dari honorarium. Bukan honorarium kelebihan mengajar, tapi honorarium mengajar. Kelakar mereka , “setiap bukan kami gajian dua kali”.
Guru adalah profesi. Jadi guru seharusnya dihargai atas profesinya, bukan karena yang lain. Kalau petani dengan modal sawah satu hektar di Kalimantan Tengah akan memperoleh hasil sekitar tiga ton gabah, maka semakin luas lahan yang dimiliki akan semakin banyak. Begitu juga pekerjaan. Guru saat ini “mungkin” tidak ada yang berijazah SPG dan PGA, setidaknya DII, tentu dengan modal seperti itu, akan mendapatkan penghasilan yang lebih tinggi disbanding dengan PNS yang berijazah SLTA. Tentu tidak bisa dibandingkan. Kalau masalah tunjangan fungsional, apakah layak untuk diperdebatkan? Apakah semua pegawai struktural kemudian harus mendapatkan tunjangan struktural juga meskipun tidak menduduki jabatan? Besarnya tunjangan itu tidak cukup untuk mencicil sebuah RSS saat ini.
Masalah keberhasilan suatu pendidikan bukan hanya diukur dengan terpenuhinya tenaga pengajar, melainkan juga jika telah berfungsinya komponen lain, yaitu kepala sekolah, kurikulum, ruang belajar, buku pelajaran, peralatan dan media, dan sumber dana. Berapa madrasah di Kalimanatan Tengah ini yang semua komponennya telah tercukupi. Faktor guru saja belum merata, termasuk pembagian guru PNS baru. Bukankah hal yang lucu jika madrasah dalam satu kabupaten/kota yang masih dapat dijangkau tidak lebih dari setengah jam perjalanan terdapat ketimpangan jumlah guru. Pada tahun ini ada sebuah madrasah mendapatkan tambahan sepuluh guru, sedang di madrasah lain hanya empat guru, itupun masih berkurang dengan adanya guru yang pindah tempat tugas. Janganlah kita berbicara tentang buku peajaran/perpustakaan, peraatan dan media belajar. Mungkin ini hal yang tidak pernah dipikirkan oleh pembuat keputusan di atas kepala sekolah. Contohnya di madrasah tempat penulis bekerja, ruang perpustakaan dan laboratorium sudah ada (proyek), tapi apakah pernah terpikir untuk pengadaan isinya.
Itu bagian yang menggelitik perhatian penulis. Bagian yang lain, sayang hanya menguraikan beberapa pengertian. Hormat saya kepada Bapak Abdul Wahid, 2 – 2,5 tahun naik pangkat itu bisa terjadi untuk usul penetapan angka kreditnya, tapi untuk terbitnya SK kenaikan pangkat bisa jadi mundur seperti yang sedang penulis tunggu sampai saat ini.

Entry Filed under: Uncategorized. .

4 Comments Add your own

  • 1. helgeduelbek  |  January 7, 2007 at 9:32 am

    Saya komentar tentang judul saja yah…. Mungkin gak nyambung dengan isinya pos-posan ini. Tapi inilah kekesalan saya.
    Guru komitmen-nya sudah banyak yang ternoda, motifnya adalah naik pangkat gaji naik….padahal kenaikannya tidak seberapa. Itupun sudah dicekik pihak-pihak yang sudah biasa mencekik. Untuk di departemen agama, cekikan itu mulai ada dari kandepag, hingga Kepegawaian Kanwil, dengan mengatas namakan baiya adminsitrasi dan sebagainya. Maka jangan salahkan kalau semua amburadul. Guru yang bener2 punya komitmen , yang serius coba kita hitung ada berapa tiap sekolah/madrasah.

    Kalaupun setiap tahun ada penialain terhadap komitmen mengajar seorang guru yang dirupakan dengan guru teladan atau guru berprestasi, salah kaprah. Kesalahkaprahan itu bukan dari guru tetapi dari tim penilai atau panitia pelaksana. Tidak tahu apa-apa turut menilai, dagelan yang tidak elegan itu. Nampak sekali bahwa pejabat juga tidak punya komitmen dalam menjalankan tugasnya… seolah-olah dialah penentunya. Yang tahu persis adalah diri guru, merasa tidak dirinya telah berprestasi, kemudian berikutnya komitmen itu bisa dilihat kesehariannya, yang tahu adalah rekan sejawat.

    Reply
  • 2. willyedi  |  January 13, 2007 at 2:55 am

    Betul begitu.
    Beberapa hari yang lalu ada seorang rekan kerja yang ngomel karena dicekik di Kandepag untuk pengambilan SK-nya. Celakanya ada pejabat yang masih sedarah dengan penulis membela pencekik. Ya dia rupanya Bapak-nya pencekik.
    Lalu saya bilang: ” Jangankan kamu yang bukan apa-apanya. Saya yang apa-apanya saja dicekik. Padahal yang bawa SK dari pusat sana dia. Kan nggak susah to nelpon ke rumah supaya saya tidak dicekik. Nyatanya saya dicekik juga. Tumon kan!”

    Reply
  • 3. komeng ndut  |  June 5, 2007 at 9:56 am

    wallah… cekik mencekik, Pak guru motornya baru ya, uelok tenan.
    Mbok sepeda yang dipakai mbah umar bakrie itu dilungsurkan saya, buat nganter anak saya sekolah, anak saya harus jalan kaki 2 km lebih lho agar pinter tidak seperti bapaknya, sarjana koq gaji UMR, tidak lupa biar pak guru tambah kredit point-nya, tuambah sueger.

    Reply
  • 4. willyedi  |  June 6, 2007 at 2:18 am

    He he he, ide cemerlang. Sayang sampeyan terlambat. Angsa Italiano saya sudah saya kasikan cuma-cuma sama tetangga dan masih famili istri. Kebetulan di sini sedang tren angsa italiano. /gak dapet kredit poin, di sini. mungkin di sana dapat berkali lipat dan super sejahtera

    Reply

Leave a Comment

Required

Required, hidden

Some HTML allowed:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Recent Comments

mfiqri on Membedah Otak Einstein
rera on Sertifikasi Guru, Bumerang bag…
Willy Ediyanto on Sertifikasi Guru, Bumerang bag…
bayu putra on Sertifikasi Guru, Bumerang bag…
Willy Ediyanto on Sertifikasi Guru, Bumerang bag…

Archives

Blogroll

Top Posts

Categories

Blog Stats

 

January 2007
M T W T F S S
    Feb »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031  

Recent Posts

Pages

Meta