HAJI MABRUR

January 7, 2007

Penulis pernah mendengar sebuah cerita dari seorang kenalan mengenai haji mabrur. Dikisahkan bahwa pada akhir sebuah musim haji pada masa Rasulullah, berkumpullah para sahabat Rasul di hadapan beliau.
“Ya, Rasulullah. Pada tahun ini kami semuanya telah melaksanakan ibadah haji. Adakah di antara kami yang hajinya mabrur?”


Rasulullah diam sejenak. Tidak lama kemudian beliau berkata: “Ada, tapi hanya satu orang”.
“Siapakah dia, ya Rasulullah?”
Rasulullah kemudian menyebutkan nama salah seorang sahabat yang kebetulan tidak hadir dalam majelis itu.
Para sahabat kemudian mendatangi orang yang disebutkan namanya oleh rasulullah sebagai haji yang mabrur itu.
“Hai Fulan, Rasulullah berkata bahwa satu-satunya orang yang hajinya mabrur adalah engkau. Coba engkau ceritakan pengalamanmu berangkat haji pada tahun ini”.
Dengan setengah bingung si Fulan menjawab,”Maaf saudara-saudara. Saudara-saudara barangkali salah, karena pada tahun ini saya tidak menunaikan ibadah haji”.
“Ceritakanlah, karena Rasul tidak pernah berbohong”.
“Baiklah. Sebenarnya saya tidak berangkat haji pada musim haji tahun ini. Memang semenjak akhir musim haji tahun yang lalu, saya sudah berniat untuk melaksanakan ibadah haji pada tahun ini. Namun sampai pada saatnya saya harus berangkat haji, saya mendengar ada satu keluarga di dekat sini yang pada hari itu tidak bisa makan. Kemudian saya menyerahkan seluruh perbekalan yang sudah saya kumpulkan kepadanya agar mereka bisa makan. Begitulah ceritanya, sehingga benar-benar saya tidak berangkat haji pada tahun ini”.

Kembali kepada kita, apakah di antara kita yang punya niat untuk melaksanakan ibadah haji dan juga orang-orang yang sudah melaksanakan ibadah haji. Sekiranya kita mempercayai cerita di atas, adakah yang menjadi haji yang mabrur ketika kita masih mendengar ada tetangga empat puluh rumah di sekitar kita yang pagi makan, siang tidak makan, begitu juga malamnya tidak makan, saat kita akan berangkat haji.
Coba kita lihat sekeliling kita, betapa banyak tetangga kita yang terpaksa harus menjalani pekerjaan sebagai pengumpul plastik, menjadi buruh perusahaan dengan upah yang rendah, atau terpaksa menipu orang karena tidak punya pekerjaan tetap. Apakah ada di antara kita yang ingin jadi pengumpul plastik, buruh dengan upah rendah, atau menjadi penipu? Tentu tidak, mereka juga tentunya tidak ingin seperti itu.
Seandainya umat Islam Indonesia mempercayai cerita di atas, kemudian ingin menjadi haji yang mabrur dengan cara menyedekahkan uang ONH-nya untuk para fakir miskin. Dengan hitungan matematis kita bisa membayangkannya seperti ini. Anggap ONH tahun ini sebesar Rp 25 juta, sementara kuota haji Indonesia sebanyak 200 ribu orang. Maka akan terkumpul uang sebanyak Rp 25 juta dikalikan 200 ribu. 25.000.000 x 200.000 = 5 x 1012 = Rp 5.000.000.000.000, 5 trilyun rupiah. Seandainya dikumpulkan dua musim haji maka akan terkumpul uang sebanyak 10 trilyun rupiah. Sebuah angka yang fantastis. Seandainya kemudian uang itu digunakan untuk membangun perusahaan, pertanian, perkebunan, peternakan, pertukangan, dan sejenisnya dengan mengambil tenaga kerja dari fakir miskin, menurut hemat penulis, maka ratusan ribu fakir miskin akan terentaskan dari kemiskinannya, dan para calon haji akan menjadi haji mabrur tanpa berangkat ke tanah suci, tanpa sebutan haji dari orang-orang, tapi tetap mendapat gelar haji mabrur dari Allah swt.
Bukankah di antara para haji itu banyak yang merasa terhina ketika tidak disapa dengan sebutan Pak Haji atau Ibu Haji. Bahkan tidak mau mendatangi undangan karena dalam surat undangannya tidak mencantumkan gelar hajinya.
Kita sebagai umat Islam modern, tentunya harus berpikir lebih realistis. Islam bukan karena sarung, bukan karena baju koko, bukan karena kopiah putih. Islam ada di hati kita.J

Entry Filed under: Uncategorized. .

6 Comments Add your own

  • 1. helgeduelbek  |  January 7, 2007 at 9:10 am

    Pertanyaan-nya masih adakah seseorang yang beribadah haji kemudian menjadi haji mabrur?
    Kalau tidak ada coba ongkosin pak mabrur agar dia bisa pergi haji. dijamin sepulangnya ibadah haji pasti jadi haji mabrur, bukan haji burhan atau hadi dullah.

    Reply
  • 2. willyedi  |  January 13, 2007 at 2:39 am

    Saya bahkan pernahberdiskusi tentang haji mabrur ini.
    Ketika seorang calonhaji akan berangkat, ditanyakan apakah yakin akan menjadi haji mabrur ketika masih ada tentangganya yang kelaparan.

    Reply
  • 3. de King  |  February 4, 2007 at 4:01 pm

    MENIMBANG DAN MENGINGAT:
    Ketidaktahuan saya tentang mabrur tidaknya seseorang dan juga kalau melihat jaman sekarang. Begitu banyaknya orang (artis) yang pulang naik haji tapi setelah pulang kelakuan mereka tetap tidak ada perubahan (sama saja error)
    maka saya MEMUTUSKAN (secara subyektif) :
    Kalau para haji sekarang lebih banyak Haji MABUR (mabur=terbang…bahasa Jawa) karena mereka pergi ke tanah suci dengan naik pesawat terbang, bukannya kapal laut seperti dulu.

    Reply
  • 4. willyedi  |  February 5, 2007 at 1:25 pm

    Bisa juga. Buat kita bagus itu haji dengan kapallaut. Tapi kalau tidak salah dengar, pemerintah mau menyelenggarakan haji via kapal laut lagi ya?

    Reply
  • 5. addhy  |  October 16, 2008 at 4:27 am

    SeBaGaI SeOrAnG MuSlIm KiTa mEnGiNgiNkaN hAjI Yg mAbRuR..
    DaPaTKaH KiTa mEnCaPaInYa ?

    Reply
  • 6. Willy Ediyanto  |  October 17, 2008 at 11:33 pm

    Insyaallah bisa

    Reply

Leave a Comment

Required

Required, hidden

Some HTML allowed:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Recent Comments

mfiqri on Membedah Otak Einstein
rera on Sertifikasi Guru, Bumerang bag…
Willy Ediyanto on Sertifikasi Guru, Bumerang bag…
bayu putra on Sertifikasi Guru, Bumerang bag…
Willy Ediyanto on Sertifikasi Guru, Bumerang bag…

Archives

Blogroll

Top Posts

Categories

Blog Stats

 

January 2007
M T W T F S S
    Feb »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031  

Recent Posts

Pages

Meta