Diklat Penggunaan Modul MGMP Mandiri

Tanggal 5 sampai 11 Oktober aku megikuti diklat di Bogor. Kota dingin yag kurasa sekarang sudah panas – apa karena tigkat curah hujan yang sangat kurang. Materi yang kuikuti semuanya berjalan dengan baik. Tujuannya agar nanti setelah kembali ke daerah masing-masing bisa memanfaatkan suplemen modul MGMP BERMUTU yang mesti dilaksanakan 16 kali pertemuan. Tidak semua kabupaten dan provinsi terlibat dalam kegiatan ini. Hanya dari enam belas provinsi.
Kegiatan yang banyak dilakukan adalah mengkritisi suplemen modul yang masin terdapat cukup banyak kekurangan, dengan tujuan agar nanti sekembalinya ke daerah masing-masing dapat memperbaiki modul-modul tersebut untuk digunakan dalam in house training selama tiga hari.
Selanjutnya, karena masih dalam satu rangkaian, aku harus melanjutkan diklat – masih di kota Bogor – hanya beda tempat pelaksanaanya saja. Waktunya 11 – 16 Oktober 2009. Diklat yang akan datang adalah diklat untuk PCT, yaitu Provincial Core Teacher. Sama saja, untuk menjadi pemandu atau tutor dalam kegiatan MGMP BERMUTU.Kegiatan yang akan datang, pesertanya berasal dari lima provinsi saja, sayang aku tak hapal dengan adal mereka. Yang jelas dari Kalteng, Kotawaringin Barat mengirimkan utusan sembilan orang disampaing tiga orang yang saat ini bertahan di Bogor. Jadi semuanya 12 orang – kalau datang semua tentunya.

7 comments October 10, 2009

Mengubah Paradigma Sekolah Favorit

Sekilas penulis mengamati keberadaan sebuah sekolah favorit tingkat SMP di sebuah kota. Sekolah tersebut menjadi harapan keberhasilan pendidikan anak-anak sekolah dasar di sekitarnya. Sekitar 70 persen anak sekolah dasar di kota itu menginginkan dapat duduk di sekolah itu setelah tamat SD. selanjutnya

Add comment September 30, 2009

Koruptor, Mafia Kayu, dan Teroris

Mana yang paling menakutkan bagi kita? Sebagian tentu akan menjawab teroris. Berbeda ketika pertanyaan yang diajukan adalah, mana yang lebih merugikan di atnara ketiganya? Kita tidak dapat langsung menjawabnya. Ada banyak hal yang harus dijadikan pertimbangan. Salah satunya adalah kita menjadi korbannya atau tidak. Di samping itu, korban tak lengsung seringkali tidak menyadari penyebab derita yang dialaminya.
Lihat saja ketika terjadi pemburuan dan penangkapan teroris, pandangan kita tertuju pada berita-berita itu. Apalagi ketika teroris merasa berada di atas angin dan berhasil meneror negeri ini dengan ledakan-ledakan bom di berbagai tempat. Keadaan semacam itu menyebabkan kita tidak pernah merasa tenang.
Mafia kayu, atau pelaku illegal logging, sekilas tidak merugikan kita. Tapi begitu menyedihkan ketika kita menyaksikan berita korban banjir di Sumatra yang diakibatkan oleh gundulnya hutan di hulu sungai. Masyarakat yang “tidak tahu apa-apa” menjadi korban. Kesan yang muncul adalah mereka menjadi korban bencana alam yang alami. Pada kenyataannya, bencana alam itu disebabkan oleh ulah manusia. Tidak sadar juga? Katakan saja “Saya ….. tidak lebih pintar dari anak kelas lima SD”. Ingat kuis Are You Smarter than a 5th grader. Ngaak perlu malu kok mengakui kesalahan dan kebodohan kita. Lalu kita bertobat dan tidak mengulangi kesalahan yang sama.
Koruptor, barangkali kejahatan yang paling tidak kentara. Di hadapan masyarakat banyak pelakunya sering memakai topeng dermawan. Senyum koruptor sangat sering muncul di televisi sehingga kita tidak menyadari bahwa yang tersenyum adalah topengnya. Andai kita dapat membelah hatinya, tentu kanker korupsi sudah sangat akut menyerangnya.
Mana yang paling jahat, koruptor, pembalak kayu hutan, atau teroris?
Semuanya jahat? Ada yang tersesat, namun ada yang pura-pura tidak tahu. Sok suci, sok dermawan, sok jadi pahlawan.

2 comments September 18, 2009

Menulis, Dapatkah Dipaksakan

Beberapa bulan terakhir ini, sungguh merupakan waktu yang paling menyebalkan. Bagaimana tidak menyebalkan, aku sama sekali tidak memiliki gagasan untuk menulis tentang pendidikan. Padahal berbagai cara sudah kulakukan. Di antara cara itu adalah membaca sampai aku muntah dengan apa yang kubaca. Browsing di internet sampai tersesat ke situs-situs biru. Diskusi, tak kurang-kurangnya kulakukan. Dan yang memerlukan biaya, berlanggganan surat kabar pun tidak memunculkan gagasan sama sekali.
Internet yang tadinya banyak memberikan gagasan, sekarang serasa sesuatu yang membosankan. Facebook yang cukup menyita waktu bisa jadi penyebabnya, tapi toh aku sudah berusaha menjauhkan diri dari FB yang kuanggap mainan anak-anak saja.
Malam ini, sudah pukul 01.43 dini hari, toh aku tidak tidur dan tidak ada satu pun gagasan yang berhasil aku tumpahkan di lembaran-lembaran digital dan tinta digital di komputerku ini.
Sekedar keluh kesah. Harus memaksakan diri untuk menulis, ternyata tidak semudah yang dikatakan. Tubuh letih karena begadang malam ini pun tidak menghasilkan apa-apa selain keletihan di sekujur tulang-tulangku.

Add comment September 12, 2009

Pendidikan di Tengah Kecamuk Budaya

Menghadapi klaim Malaysia terhadap seni dan budaya kita, berjuta orang menghujatnya. Ini menunjukkan bahwa bangsa Indonesia masih mempunyai rasa memiliki walaupun hanya sekadar rasa memiliki. Pada kenyataannya, kita jauh dari budaya-budaya yang diributkan itu, kecuali sekelompok kecil masyarakat yang melibatkan diri dalam budaya itu. Pada kenyataannya, kita masih suka membeli kaset bajakan dan menggunakan software bajakan. selanjutnya

2 comments September 3, 2009

Muslim Dilarang Nonton Konser Black Eyed Peas

Kapanlagi.com – Sabtu, Agustus 29

Muslim Dilarang Nonton Konser Black Eyed Peas

Pemerintah Malaysia memberlakukan larangan buat umat Islam untuk menghadiri konser Black Eyed Peas yang rencananya digelar bulan September mendatang. Bukan karena membeda-bedakan namun karena acara ini disponsori oleh perusahaan bir terkemuka.

“Muslim tidak boleh menghadiri acara ini. Non-Muslim diijinkan datang dan bersenang-senang,” ungkap seorang pejabat di Kementerian Informasi, Komunikasi dan Kebudayaan Malaysia. Alasannya jelas karena acara ini digelar dalam rangka ulang tahun ke-250 Guinness maka bir akan jadi bagian penting dari acara ini.

Di saat yang sama, pihak penyelenggara pun memberikan pernyataan senada dengan pernyataan yang dikeluarkan pemerintah Malaysia ini. “Pesta ini hanya terbuka untuk mereka yang non-Muslim dan berusia di atas 18 tahun,” jelas pihak penyelenggara konser ini. Konser Black Eyed Peas ini akan digelar di sebuah theme park di Kuala Lumpur September nanti. (cnm/roc)

Sumber: http://id.news.yahoo.com/kplg/20090828/ten-muslim-dilarang-nonton-konser-black-c3fbcbd.html

Kalau di Indonesia gimana jika terjadi hal yang sama?

Add comment August 29, 2009

Tak Layak Kita Marah

Menghadapi klaim bangsa Malaysia terhadap seni dan budaya kita, berjuta orang menghujatnya. Ini menunjukkan bahwa bangsa Indonesia masih mempunyai rasa memiliki walaupun hanya sekadar rasa memiliki. Pada kenyataannya, kita jauh dari budaya-budaya yang diributkan itu, kecuali sekelompok kecil masyarakat yang melibatkan diri dalam budaya itu. Pada kenyataannya, kita masih suka membeli kaset bajakan dan menggunakan software bajakan. Yang tidak pernah mau kita lakukan adalah membeli dan memakai sepeda motor dan mobil buatan Indonesia. Membajaknya pun kita tidak pernah mau. Kita lebih bangga menggunakan sepeda motor buatan Jepang. Saya sedih menyaksikan tak ada sepeda motor atau mobil buatan dan merek Indonesia yang berkeliaran di jalan-jalan di negeri ini. Namun begitu terkejut ketika bea cukai Pilipina menemukan senjata butan Pindad, Indonesia.
Kita tidak perlu marah berlebihan terhadap Malaysia meskipun Sipadan dan Ligitan sudah mereka rebut, Ambalat sudah di depan mulut Malaysia. Pada kenyataannya orang-orang kita sendiri menjual pulau-pulau kecil yang ada di berbagai provinsi di Indonesia.
Kita tidak perlu marah terhadap Malaysia karena Malaysia mengusir TKI ilegal, atau bahkan menyiksa mereka dan videonya beredar di internet. Pada kenyataannya, kita tidak mempunyai lapangan kerja untuk mereka. Kita masih melihat orang yang berbondong-bondong menjadi pengemis, berbondong-bondong memperebutkan zakat yang dibagikan oleh orang-orang kaya, dan berebut menerima BLT dan raskin. Pada kenyataannya, sebagian masyarakat kita terusir dari tanahnya di Sidoarjo, di Papua, di Aceh, di Ambon, dan masih banyak lagi.
Namun kita berlu meneriakkan nasionalisme kita dan menuntut pemerintah untuk bersikap tegas ketika lagu Indonesia Raya diplesetkan, dan ketika Malaysia mengirimkan Noordin M. Top dan Dr. Ahzari ke Indonesia untuk mengacaukan keamanan di negeri ini.
Pada bagian awal, mungkin Anda kecewa dengan tulisan ini. Namun, saat ini, mari kita galang dukungan untuk berbuat sesuatu yang berarti bagi negeri ini. Mari kita jadikan Malaysia sebagai salah provinsi di NKRI. Menjadikan Malaysia bagian dari NKRI. Tampaknya, dengan cara ini Malaysia akan lebih senang.
Mari kita hidupkan lagi semangat IGOS (Indonesia Goes Open Source), mari kita dirikan perusahaan otomotif. Mari kita gunakan produk dalam negeri. Kita hujat orang-orang yang dengan bangganya memamerkan diri ketika menggunakan baju, jam tangan, sepatu bermerek luar negeri. Saya ingin menaiki sepeda motor buatan Indonesia, tapi tak pernah saya menemukannya????
Sedih lagi.
Seharusnya kita marah pada diri kita sendiri.

2 comments August 29, 2009

Hari kedua Ramadhan

Menulis yang penuh gairah, tapi selalu mengambinghitamkan mood dan ide. Kujauhi FB karena menjadi ganja bagi kehidupan. Tapi menggagas ide menjadi sesuatu yang teratur begitu sulitnya.
Terakhir aku mendapatkan onggokan modul kuliah di UT berjudul Drama karya B. Rahmanto dan S. Endah Peni Adji, menarik. Ada naskah drama “MAlam Jahanam” karya Motinggo Busye, dan ada juga videonya. Kunikmati, begitu menghanyutkan. Naskah klasik. Kubaca lagi ahhh.

3 comments August 23, 2009

Aku Sudah jadi Primata

Cerpen: Willy Ediyanto

Memimpikan sesuatu yang tak mungkin bukanlah sesuatu yang haram. Begitu juga aku, seorang lelaki yang dilahirkan dari seorang ibu manusia dan seorang ayah manusia. Aku bermimpi bahkan bercita-cita menjadi seekor primata.
Mengikuti pendapat para ahli, termasuk yang paling tersohor, Charles Darwin, yang mengatakan bahwa manusia berasal dari kera, maka menurutku, manusia sangat mungkin untuk kembali menjadi kera. Dan itulah cita-citaku, menjadi primata. Bukankah saat ini terjadi hal-hal yang dulu tidak pernah terpikirkan. Lihat saja swine influenza, di Indonesia berubah menjadi flu babi. H5N1 sangat mungkin meleburkan diri dengan H1N1 menjadi H6N2. Atau ada mutasi berupa efek berantai menjadi H4N2 dan H2 atau yang lain yang terkadang membuat otakku buntu. Yang jelas, aku bukan hanya berminpi, melainkan juga bercita-cita menjadi primata.
“Aneh?” kata ibuku yang manusia. selanjutnya

2 comments August 1, 2009

MBS, yang Dimandulkan

Heboh yang melanda dunia pendidikan karena iuran komite sekolah yang mencapai satu juta rupiah per siswa, sudah diketahui umum melalui surat kabar ini. Kepala sekolah sebagai pengelola sekolah tampaknya ingin berlepas tangan dalam kasus ini dengan pernyataan yang sudah kita ketahui semua. Keputusan komite sekolah, adalah alasan klise yang banyak dilontarkan oleh kepala sekolah ketika terbentur masalah pungutan terhadap orang tua siswa. selanjutnya

5 comments July 28, 2009

Previous Posts


Recent Comments

Willy Ediyanto on Diklat Penggunaan Modul MGMP…
Halaman Putih on Diklat Penggunaan Modul MGMP…
Willy Ediyanto on Diklat Penggunaan Modul MGMP…
M Mursyid PW on Diklat Penggunaan Modul MGMP…
Willy Kristianko on bse.depdiknas yang Mengen…

Archives

Blogroll

Top Posts

Categories

Blog Stats

 

November 2009
M T W T F S S
« Oct    
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30  

Recent Posts

Pages

Meta